Perintisan Forum Tanggap Bencana Di Desa Nampurejo-Purworejo

0
30

“Setiap desa itu sebenarnya memiliki potensi bahayanya sendiri, maka perlu kesiapsiagaan dari warganya sedari awal,” kata Subiyanto, Kepala Seksi Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kalimat tersebut diucapkan Subiyanto pada acara “Penyuluhan Risiko Bencana dan Pelatihan Pertolongan Pertama” yang diadakan oleh  mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang berada di Tim KKN PPM UGM Periode 2 Tahun 2019 pada Sabtu (27/7/2019). Kegiatan itu diselenggarakan untuk merintis Forum Tanggap Bencana di  Desa Nampurejo.

Nampurejo merupakan salah satu desa yang masuk dalam zona kuning berdasarkan pemetaan yang dilakukan BPBD Purworejo. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh lokasi desa yang berada di dekat Pantai Jatimalang, yakni sekitar 3 kilometer di sebelah utara. Jarak yang relatif dekat tersebut membuat Desa Nampurejo menjadi daerah yang rawan terhadap bencana tsunami dan gempa bumi.

Dengan demikian, Nampurejo perlu siap siaga terhadap segala risiko bencana yang ada. Tidak hanya untuk mencegah dan menangani risiko bencana bagi desanya sendiri, sikap siaga juga dapat berguna ketika desa tetangga sedang tertimpa bencana sehingga warga bisa menjadi relawan yang siap menolong warga desa lain yang tertimpa bencana alam.

Pandangan tersebut didukung oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Purworejo, Edi Purwanto. Lelaki yang kerap disapa dengan panggilan Edi tersebut mengatakan, sebagian besar evakuasi dapat diukur efektif ketika para warga terdampak telah sadar mengenai tatacara menyelamatkan diri. “Maka, warga yang berada di desa-desa rawan, terutama tsunami dan gempa bumi harus sadar mengenai apa saja yang perlu dilakukan dan diperhatikan ketika terjadi bencana,” katanya meyakinkan warga peserta penyuluhan.

Foto : ©Citra Maudy

Senada dengan Edi, Subiyanto menambahkan bahwa Purworejo merupakan daerah dengan tingkat risiko bencana yang cukup tinggi. Hal tersebut ditunjukkan dengan Purworejo sebagai peringkat ke dua dengan risiko bencana yang cukup tinggi dan bervariasi untuk Provinsi Jawa Tengah.

Tingginya tingkat risiko bencana ini membuat BPBD Purworejo berencana mewujudkan Desa Tangguh Bencana dengan menyiapkan  para warganya terhadap segala risiko yang ada. “Data ini bukan untuk menakut-nakuti kita, tetapi untuk memberikan tanda peringatan kepada kita bahwa kita perlu selalu siap siaga,” lanjut Subiyanto sambil menunjukkan Peta Potensi Gempa Di Indonesia.

Berangkat dari latar belakang tersebut, Tim KKN PPM UGM membuat program bertajuk “Pembinaan Partisipasi Masyarakat Tanggap Bencana”. Program itu diinisiasi oleh tiga mahasiswa yang berasal dari kluster yang berbeda-beda yaitu medika, sains dan teknologi, serta sosial humaniora. Sasaran program adalah para ketua RT, kepala dusun, kepala desa, perangkat, para kader kesehatan, dan bidan desa yang ditugaskan di desa tersebut.

Kegiatan dimulai dengan penyuluhan terkait kebencanaan yang diisi oleh BPBD Purworejo. Pada sesi ini peserta mendapat penjelasan mengenai karakteristik bencana alam seperti tsunami dan gempa bumi. Tidak hanya mengundang perwakilan dari BPBD, untuk melengkapi rangkaian acara, Tim KKN PPM UGM juga bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Purworejo untuk memberikan pelatihan pertolongan pertama kepada peserta. Beberapa pengetahuan mengenai dasar-dasar pertolongan pertama ketika kondisi gawat darurat diberikan kepada peserta ikut melengkapi penyuluhan mengenai bencana.

Foto : ©Citra Maudy

Selain penyuluhan kebencanaan dan pelatihan pertolongan pertama, program juga dilanjutkan dengan pembuatan plang jalur evakuasi. Pembuatan plang jalur evakuasi  dilakukan dengan berkonsultasi kepada BPBD Purworejo dan para perangkat desa lebih dahulu. Harapannya, seluruh perangkat desa dapat menyosialisasikan jalur evakuasi tersebut kepada seluruh warga.

Menanggapi program ini, Dian Eko Sarwono, warga Nampurejo yang menjadi salah satu peserta penyuluhan dan pelatihan mengatakan, pengetahuan mengenai kebencanaan dan pertolongan pertama ini penting bagi warga. Ia menilai, potensi bencana yang ada di setiap desa merupakan sebuah peringatan untuk selalu awas terhadap tanda-tanda alam yang ada.

“Hal ini penting dan baik untuk dilakukan, sebab kita jadi bisa selalu berjaga-jaga dan ketika memang terjadi bencana warga bisa mengevakuasi dirinya sendiri terlebih dahulu tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah,” kata Sarwono.

Penulis: Citra Maudy Mahanani, mahasiswa jurusan Sosiologi, Fisipol, Lokasi KKN di Desa Nampurejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah