Mengangkat Pamor Desa Gulurejo Melalui Sayembara Motif Batik

0
370

Batik asal Indonesia merupakan salah satu warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO. Hal ini tentu menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi daerah-daerah penghasil batik di seluruh Indonesia, tidak terkecuali Desa Gulurejo di Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo- Daerah Istimewa Yogyakarta.

Wilayah Gulurejo telah diakui sebagai sentra utama penghasil batik di Kabupaten Kulon Progo. Meskipun demikian, kelestarian batik di Desa Gulurejo berikut pengembangannya perlu dilaksanakan secara berlanjut. Melalui kerja sama Tim KKN-PPM UGM Unit Lendah Tahun 2019 dengan Pemerintah Desa Gulurejo, diadakan Lokakarya Pengembangan Motif Batik yang ditujukan bagi pembatik dari 10 pedukuhan di desa tersebut.

Acara yang digelar Kamis (1/8/2019) itu dihadiri oleh 67 peserta yang merupakan pembatik di Desa Gulurejo. Antusiasme peserta terhadap penyelenggaraan acara ini tampak sejak awal hingga akhir acara. Peserta lokakarya memenuhi ruang Balai Desa Gulurejo dari pukul 19.30 hingga pukul 21.15.

Para peserta mendapat materi seputar penciptaan dan pengembangan motif batik disampaikan oleh Djandjang Purwo Sedjati, dosen seni batik dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Penciptaan karya seni batik merupakan perjalanan yang ditempuh melalui langkah penuh kreativitas dalam tiga tahapan, yaitu eksplorasi, perancangan, dan pewujudan. Berbagai jenis benda di sekitar kita, seperti tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, atau binatang dapat diolah dan diwujudkan menjadi motif batik.

Dengan kreativitas pembatik, penciptaan motif batik baru dapat dilakukan dengan mengulangi satu bentuk secara berpola sehingga menghasilkan satu kesatuan motif yang utuh. Tidak hanya benda-benda diam yang dapat dijadikan inspirasi pembuatan motif batik, berbagai jenis peristiwa dan kesenian juga dapat diangkat sebagai kreasi motif. Jenis motif batik yang dibuat dapat berupa motif geometris atau motif tebaran.

Kegiatan sosialisasi dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan motif batik oleh peserta di bawah arahan Ibu Djandjang. Para peserta dengan antusias menggambar pola sesuai kreativitas masing-masing di atas kertas yang telah disediakan. Pelatihan ini ditujukan untuk menyiapkan peserta dalam menciptakan motif batik baru yang selanjutnya dapat dipatenkan sebagai motif batik khas Desa Gulurejo. Tindak lanjut dari acara ini adalah penyelenggaraan Sayembara Penciptaan Motif Batik Khas Gulurejo yang diikuti para pembatik dari seluruh Gulurejo.

Almira Kusuma, penanggung jawab acara yang juga mahasiswa peserta KKN-PPM UGM Unit Lendah Tahun 2019, menyatakan harapannya dari penyelenggaraan acara ini. “Kami sangat berterima kasih kepada seluruh peserta yang telah menghadiri acara lokakarya ini. Pelatihan singkat pada malam hari ini kami harapkan dapat bermanfaat serta memberikan semangat kepada para pembatik untuk berkreasi dan berinovasi  menciptakan motif batik khas Desa Gulurejo,” urainya.

Ia berharap lewat pelatihan semacam itu, akan muncul motif batik khas Gulurejo yang dapat dipatenkan dan mampu mendongkrak produksi serta penjualan batik di Desa tersebut sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat.

Sayembara dibuka mulai 1 hingga 14 Agustus 2019 bagi warga Desa Gulurejo. Peserta harus mengumpulkan desain motif batik yang dibuat di atas kertas berukuran A3 yang kemudian akan diproses dalam penjurian tahap pertama. Sepuluh desain yang lolos dalam penjurian tahap pertama berhak untuk diikutsertakan dalam penjurian tahap kedua.

Pada tahap ini peserta harus membuat motif yang ia miliki di atas kain berukuran 2 x 1,5 meter. Melalui sayembara ini diharapkan muncul satu motif terpilih yang dapat dipatenkan sebagai motif khas Desa Gulurejo serta mampu mengangkat pamor Desa Gulurejo sebagai sentra batik di Kabupaten Kulon Progo.

Teks : Luqyana Nadira, Fakultas Ilmu Budaya

Foto : Titi Rahmaniati, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

(keduanya mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang sedang melakukan KKN-PPM UGM di Lendah, Kulon Progo)