Menyusuri Surga Baju Klasik

0
411

      Cetak cetik cetak cetik. Suara jariku dengan keyboard laptop beradu semakin intens seiringku mencari akun YouTube berkonten fashion. Belakangan aku tertarik dengan ide-ide baju ala vintage alias lawas yang sedang tren kembali. Kebetulan aku juga sudah bosan dengan isi lemari yang itu-itu saja.

      Dari awal aku hanya mencari inspirasi dari akun YouTube fashion milik orang luar negeri, seperti bestdressed dan The Purple Place. Akhirnya aku menemukan satu akun YouTube Indonesia bernama Skannette yang membuat vlog di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Aku baru ingat kalau Indonesia juga punya pasar pakaian bekasnya sendiri. Kalau begini tidak perlu thrift shopping di online shop lagi deh.

     Sebenarnya siapa sih yang tidak tahu Pasar Senen Jakarta Pusat? Aku pun sudah dengar nama ini sejak kecil. Tapi aku belum pernah benar-benar menginjakkan kaki ke sana. Segera kuajak teman-temanku via whatsapp untuk ke sana. Setelah mendapat respon “Ayo!” aku langsung membayangkan apakah wujud thrift shop ala Indonesia ini sama dengan thrift shop di Paris yang ada di vlog The Purple Place?

      Aku dan ketiga temanku sudah berdiri di depan Pasar Senen. Mula-mula kami  bingung mau masuk ke gedung yang mana karena ternyata ada dua gedung. Singkatnya kami sudah memasuki kedua gedung Pasar Senen yang sempat kami bingungkan tadi. Aku akan jelaskan perbedaan keduanya dan tips yang bisa kamu lakukan saat berbelanja Pasar Senen.

Ber-AC dan tidak 

     Saat kami ke sana salah satu temanku ada yang memiliki penyakit asma. ”Kita balik ke gedung yang ber-AC aja yuk. mulai sesak nih,” ujar temanku itu. Yap, perbedaan di antara kedua gedung ini selain soal AC, adalah jarak antartoko. Di gedung tanpa AC bisa dikatakan sangat sempit. Jalanan yang memisah antartoko hanya muat untuk dua orang berbadan sedang. Sementara di gedung yang ber-AC, kalau berjalan tidak perlu menempelkan badan ke etalase toko karena ada orang dari arah berlawanan. Terbayang kan seberapa sempitnya di gedung tanpa AC?

Secara  keseluruhan aku senang berbelanja di Pasar Senen. Meskipun wujudnya tidak seperti toko pakaian bekas milik Paris yang ada di vlog The Purple Place  tetapi aku tetap suka. Mungkin karena aku lebih terpikat dengan pakaian vintage-nya, bukan tempatnya.

     Baju-baju vintage yang kebanyakan berwarna gading dan cokelat, serta ada yang bermotif unik dan jarang, sesuai dengan seleraku. Perasaan lain yang ku dapat dengan memakai baju bekas adalah, kemungkinan orang lain menggunakan baju yang sama denganku lebih kecil daripada memakai baju dari merk yang ada di mal. Asal jangan lupa cuci dengan benar dan bersih semua pakaian bekasmu ya!

Tips Belanja “Thrift Shopping”

Berani menawar

     Saat belanja di salah satu toko, seorang ibu  datang ke samping kami dengan  hebohnya sambil membawa baju yang sudah dia pilih. ”Bang, kulot dua Rp 35 ribu ya. Nih duitnya, pas,” kata ibu tadi bicara tanpa jeda, bahkan pedagangnya belum menjawab apa-apa. He he berani sekali bukan? Padahal toko itu menjual celana-celana kulot dengan harga Rp 70 ribu untuk 2 celana. Sudah murah sekali bukan? Sementara itu temanku yang terlanjur membayar celana di situ menyesal tidak berani menawar seekstrem ibu tadi.

Ke Pasar Senen? Ya di hari Senin

    Aku dan teman-temanku pergi di hari Sabtu. Kami hanya mendapat dua-tiga potong baju. Seminggu kemudian, salah satu dari kami ada yang ke sana lagi di hari Senin. Dia mengaku melihat penjaga toko-toko memasukan karung-karung barang baru. “Pas mama gue tanya ke abangnya, emang baju-baju baru datangnya di hari Senin,” ujar temanku itu.

Dan tebak, dia membeli lebih banyak baju di hari Senin daripada saat berbelanja denganku. Intinya di hari Senin lebih banyak pilihan karena stok mereka masih banyak.

Perhatikan noda, jahitan, dan sobekan

    Namanya juga barang bekas, pasti ada saja cacatnya. Entah baju bernoda, jahitan yang tidak rata atau sobekan. Aku pribadi kalau disuruh memilih, lebih baik mendapat baju yang cacat di jahitan. Kalau kalian tinggal pilih sendiri ya. Karena menurutku sulit untuk mendapatkan baju yang terhindar dari ke-tiga hal tadi. Kecuali kalau  benar-benar mau  menggali tumpukan baju sampai dasarnya. Sebab di sana selain bajunya di gantung adapula toko yang menaruh baju-bajunya di dalam bak.

Secara  keseluruhan aku sangat senang berbelanja di Pasar Senen. Meskipun wujudnya tidak seperti toko pakaian bekas milik Paris yang ada di vlog The Purple Place  tetapi aku tetap suka. Mungkin karena aku lebih terpikat dengan pakaian vintage-nya, bukan tempatnya.

     Baju-baju vintage yang kebanyakan berwarna gading dan cokelat, serta ada yang bermotif unik dan jarang, sesuai dengan seleraku. Perasaan lain yang ku dapat dengan memakai baju bekas adalah, kemungkinan orang lain menggunakan baju yang sama denganku lebih kecil daripada memakai baju dari merk yang ada di mal. Asal jangan lupa cuci dengan benar dan bersih semua pakaian bekasmu ya!

Tia Astuti, mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta