Ayo Pemilih Muda, Sukseskan Pemilu 2019!

0
208

Dewasa ini, media sosial merupakan arena paling efektif untuk digunakan sebagai media kampanye. Selama berbulan-bulan kita dibanjiri oleh informasi, dan motivasi mengenai para pasangan calon. Tidak sedikit pula yang menggunakan media sosial untuk praktik kampanye hitam. Kebebasan individu untuk menyebarkan informasi memang memiliki risiko terhadap kualitas informasi. Oleh karena itu, kebijaksanaan pemilih adalah aset penting dalam Pemilu di masa ini.

Setiap konten kampanye yang “dilempar” ke media sosial terbukti mampu merangsang diskusi diantara netizen. Namun sayangnya, tidak ada yang memiliki otoritas untuk memandu diskusi tersebut ke arah yang benar dan mendidik masyarakat. Bukan diskusi yang terjadi, namun lebih menjurus kepada ajang bully antar pendukung.

Lantas, apa sikap yang harus diambil oleh pemilih muda yang sehari-hari disuguhi dengan kualitas diskusi seperti itu di sosial media?

Gunakan rasio

Kampanye hitam seringkali justru menjadi “hidup” karena kolom komentar dipenuhi oleh komentar-komentar netizen yang membalas hal tersebut dengan balasan yang tidak tepat. Tidak tepat disini adalah dengan menyerang kembali dan berakhir pada keributan antar pendukung.

Keributan tersebut kemudian menjadi viral dan semakin banyak dikonsumsi publik, itulah yang menjadi tujuan para pelaku kampanye hitam. Maka, sebagai pengguna media sosial alangkah lebih baik jika kita mengetahui bagamana prosedur pelaporan kampanye hitam di media sosial.

Apabila masyarakat menemui adanya kampanye hitam di media sosial, maka bisa melakukan pengaduan ke medos@bawaslu.go.id  secara lebih rinci prosedur dapat dilihat di http://pl.bawaslu.go.id atau, masyarakat juga bisa melaporkan secara langsung kepada Panitia Pengawas (panwas) setempat.

Memang, prosedur yang dilakukan membutuhkan waktu yang lebih panjang, namun sikap tersebut dapat menunjukkan bahwa kita adalah pemilih yang taat hukum, memahami prosedur, rasional, dan tidak baper.

Menjadi pemilih yang baper dapat membahayakan karena dapat menghasilkan sikap reaktif yang tidak tepat sasaran dan malah menjatuhkan diri sendiri. Oleh karena itu, meskipun rasa kesal tidak dapat dihindari, kita harus tetap bersikap rasional dalam menyikapi kampanye hitam.

Baca banyak berita

Meskipun kualitas informasi pada masa ini menjadi banyak diragukan, namun tidak dapat dipungkiri media adalah corong utama yang dapat menyampaikan informasi kepada publik. Kesulitan yang dihadapi masyarakat adalah menemukan media yang covering both sides.

Oleh karena itu, membaca sebanyak-banyaknya dari berbagai media adalah salah satu cara untuk memperkaya sudut pandang pemilih. Media sosial memudahkan pemilih muda untuk mengakses informasi dari caption-caption pendek, sehingga malas untuk membaca konten berita yang cukup panjang. Kebiasaan inilah yang perlu diperbaiki.

Berita memberikan gambaran yang lebih luas mengenai suatu isu. Berita juga menyuguhkan cara pandang terhadap suatu isu. Caption media sosial kebanyakan hanya memberikan informasi sebatas “apa”, sedangkan berita mampu memberikan informasi mengenai “bagaimana” isu tersebut terjadi.

Pemilih muda juga cenderung membaca berita yang diinginkan dan sesuai dengan preferensinya. Padahal, membaca berita dari berbagai sudut pandang sekalipun yang bertentangan dengan sudut pandang kita dapat melatih kita untuk berpikir kritis dan menantang pemikiran sendiri.

Membaca banyak berita dapat menunjukkan bahwa pilihan kita memang didasari oleh pengetahuan yang kaya dan pemikiran yang berkualitas, bukan dari pemikiran sempit yang tidak netral sejak awal atau bahkan hanya karena ikut-ikutan.

Jangan terpecah-belah

Menjadi apatis tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan ataupun menjawab ketidakpuasanmu terhadap pemerintah. Gunakan hati nurani dan akal sehat dalam memilih, dan jadilah warga negara yang baik. Siapapun pemenangnya kita wajib mendukung, dan tetap bergerak untuk memajukan Indonesia melalui peran kita masing-masing.

Setelah Pemilu berakhir, tidak ada lagi pemisah antara pendukung paslon A dan B, dan kita semua hanya memilik satu tujuan yaitu kemajuan Indonesia.

Pemilu pada dasarnya adalah sebuah proses yang mendewasakan. Mendewasakan masyarakat untuk mengambil sikap terutama dalam menyikapi perbedaan. Esensi dari pemilu harus diyakini sebagai ajang kemampuan dalam mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi, bukan ajang saling menjatuhkan sehingga setiap upaya hanya ditujukan untuk memberikan kesan negatif ke pihak lain.

Semestinya setiap upaya hanya diarahkan untuk tujuan yang hakiki, yakni kemajuan Indonesia. Mengakui kelebihan dan pencapaian pihak lain bukan berarti kalah, cara berpikir yang obyektif sangat diperlukan. Oleh karena itu, sebagai negara demokrasi yang ditandai dengan pelaksanaan pemilu, seharusnya kita menjadi bangsa yang berpikiran terbuka terhadap perbedaan, bukan punya sikap primitif terhadap perbedaan.

Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perbedaan, maka perbedaan adalah suatu konsep yang harus diterima dan dilihat sebagai suatu potensi, bukan penghambat yang harus dihilangkan.

Mari sukseskan Pemilu 17 April 2019!

Grandi Rahardjo