Dunia Nyata vs Dunia Maya: Anak Indonesia Ada di Mana?

51
2081

 

Sebut saja Bimo. Bimo merupakan pelajar di sebuah sekolah menengah pertama negeri. Namun, dua tahun terakhir, Bimo beralih menjadi siswa sekolah rumah (home schooling). Peralihan itu tak hanya mengubah pola belajarnya. Kegiatan Bimo sehari-hari juga turut mengalami perubahan yang signifikan.

Masuknya Bimo ke dunia home schooling membuat waktu luang yang ia miliki lebih banyak ketimbang ketika bersekolah di sekolah umum. Dulu, nyaris sepuluh jam dalam sehari Bimo menghabiskan waktu di sekolah. Belum lagi, les dan bimbingan belajar. Rutinitas itu bisa berlangsung selama lima sampai enam hari dalam seminggu.

Kini, hanya tiga sampai empat hari dalam seminggu yang harus Bimo habiskan untuk sekolah. Proses pembelajarannya pun dilakukan di rumah, sebagaimana sistem pembelajaran home schooling. Di akhir pekan, Bimo menghabiskan waktu dengan aktivitas pelatihan olahraga yang ia ikuti. Sisanya adalah waktu senggang Bimo, yang kerap ia habiskan di dalam rumah. Kedua orang tua yang bekerja dan kakak yang tengah menuntut ilmu di luar kota membuatnya sering menghabiskan waktu sendirian.

Di situlah tepatnya Bimo mulai mengenal keseruan dunia maya. Dimulai dari media sosial, game online, hingga video-video menarik yang dapat diakses melalui internet. Berbagai hiburan dari segala jenis topik bisa dengan mudah ia dapatkan. Sangat praktis, hanya melalui sebuah perangkat berukuran lima inci! Apalagi hal yang lebih asyik buat dilakukan seorang remaja di waktu senggang selain mencari hiburan murah melalui internet dan media sosial?

Bimo hanyalah satu dari banyaknya anak-anak Indonesia yang akrab dengan internet dan media sosial. Begitu akrabnya, sampai-sampai lupa bahwa dunia maya itu bukanlah dunia nyata. Rata-rata anak pengguna media sosial mengalami proses yang sama. Diawali dari penggunaan di waktu senggang atau waktu istirahat. Ditemukanlah keasyikannya. Lama-lama, digunakan juga di waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar. Semakin asyik ternyata. Lama-lama, curi-curi kesempatan di waktu yang seharusnya digunakan buat berkumpul bersama keluarga. Keasyikannya makin meningkat, terus menerus, sampai menjadi sebuah kebiasaan. Alhasil, tak salah rasanya buat mengatakan bahwa anak Indonesia hidup di dua dunia: dunia maya dan dunia nyata.

Anak Indonesia sudah mengalami ketergantungan dan kebablasan dalam bermedia sosial. Kekuatan media sosial dalam memengaruhi anak-anak Indonesia pun sudah cukup besar hingga menjadi hal yang berbahaya.

Hal tersebut disampaikan oleh Seto Mulyadi, psikolog dan aktivis perlindungan anak. Seto Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kak Seto, menyampaikan bahwa media sosial membuka akses bagi anak-anak untuk menyimak konten yang tidak baik.  Menurutnya, media sosial membuka saluran bagi para pengguna, khususnya anak Indonesia, untuk melakukan hal-hal yang berdampak buruk.

“Seperti menyebarkan informasi bohong, pornografi, dan konten yang mengandung unsur kekerasan di media sosial,” ujarnya, saat diwawancarai di Lobby Harris Citylink Hotel, Bandung, pada 20 Mei 2018.

Menurut kak Seto, media sosial memungkinkan anak menjadi pelaku maupun korban cyber bullying. Merujuk pada Bauman, Cross, dan Walker (2013), cyber bullying merupakan penggunaan teknologi informasi untuk mengintimidasi atau megancam orang lain. Tak sedikit anak yang menjadi pelaku cyber bullying.  Kak Seto menyampaikan, dalam kebanyakan kasus, hal yang mendorong anak melakukan cyber bullying adalah diri anak sendiri yang juga menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan. Hal itu melahirkan rasa cemburu di dalam dirinya.

Kak Seto menjelaskan, “Ia bisa menjadi korban dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Seperti orang tua yang mendidik terlalu keras, atau guru yang bersikap diskriminatif. Itu membuat anak kecewa, hingga ditumpahkan dengan melakukan kekerasan juga kepada teman-temannya.”

Keberadaan internet dan media sosial yang memungkinkan seluruh penggunanya untuk saling berkomunikasi membuka saluran bagi anak untuk melampiaskan perasaan tersebut dengan cara yang salah. Ditambah lagi,  kedekatan antara anak dan media sosial yang telah terbangun erat. Menurut studi UNICEF, Kementerian Kominfo, dan lain-lain tahun 2014 yang berjudul “Digital Citizenship Safety among Children and Adolescents in Indonesia”, setidaknya sebanyak tiga puluh juta anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet.

Melalui media sosial, anak dapat dengan mudahnya menuliskan apa yang mereka ingin sampaikan. Minimnya pendampingan dan pengetahuan membuat apa yang disampaikan anak dapat menjadi tanpa kontrol. Hal tersebut berpotensi menjadi asal muasal cyber bullying yang dilakukan oleh anak.

Selain tersedianya gadget, akses internet, serta waktu yang anak habiskan seorang diri seperti kasus Bimo, perilaku orang tua merupakan penyebab anak perlahan kecanduan berselancar di media sosial. Orang tua sebagai role model utama anak memainkan peran besar dalam membentuk pemahaman mengenai mana hal yang baik dan mana hal yang tidak.

“Ketika orang tua sering bermain gadget di hadapan anak, hal itu adalah contoh yang diikuti anak. Anak jadi turut gemar bermain gadget. Terlebih bila orang tua tidak mau diajak bermain dan berkegiatan di luar rumah. Ini yang akhirnya membuat anak-anak terjerumus ke perilaku kebablasan bermedia sosial,” ujar kak Seto.

Internet dan media sosial apabila digunakan secara berlebihan dapat berdampak buruk pada kepribadian anak, khususnya anak-anak dengan kepribadian introvert. Media sosial terus-menerus memungkinkan anak untuk berkomunikasi melalui dunia maya sehingga anak menjadi tidak spontan dalam bergaul dan mengungkapkan pendapatnya secara verbal di dunia nyata. Menurut kak Seto, pengaruh media sosial terhadap kepribadian anak ini juga mempunyai kaitan dengan penyebab anak melakukan cyber bullying.

Bisa menggiring mereka untuk menjadi pelaku-pelaku kekerasan karena tidak mampu untuk berprestasi, kemudian berhimpun dengan teman-teman lain yang juga frustasi. Akhirnya mem-bully teman-temannya,” jelasnya.

Mengenai perbedaan karakter anak-anak di zaman dulu dan zaman sekarang, kak Seto memaparkan beberapa hal. Pertama, anak-anak zaman sekarang cenderung jarang bermain di alam bebas karena lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Kedua, anak-anak zaman sekarang dinilainya lebih individualis.

“Anak-anak zaman dahulu masih lebih komunikatif dengan sesama teman. Ada kepedulian lah. Kalau sekarang, lebih ke lo-lo gue-gue,” kata kak Seto.

Di samping dampak-dampak negatif yang muncul, bukan berarti meluasnya akses internet dan media sosial tidak membawa dampak yang baik. Kak Seto menilai pemanfaatan internet dan media sosial dalam kegiatan studi akademik sebagai salah satu contoh dampak positif dari penggunaan internet oleh anak. Kata kak Seto, “Misalnya untuk mencari tahu tahun berapa Perang Diponegoro terjadi, tahun berapa Perjanjian Gianti dilaksanakan, dan rumus-rumus pelajaran.”

Penggunaan internet dan media sosial akan menjadi negatif apabila disalahgunakan. Seperti penggunaan yang berlebihan, serta bila dijadikan saluran untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Peran orang tua dalam mengawasi anak merupakan hal yang terpenting dalam hal ini. Selain menjadi contoh yang baik, orang tua perlu memberikan pengarahan yang dapat dimengerti anak mengenai dampak dari penggunaan media sosial yang berlebihan. Pendekatan yang dilakukan pun harus tepat. Bukan hanya menggurui, pendekatan itu perlu disertai dengan dukungan moril seperti memfasilitasi anak untuk beraktivitas di alam bebas.

Selma Kirana Haryadi, mahasiswa Prodi Jurnalistik, Universitas Padjadjaran.

Email: selmaarana@gmail.com