Membangun Mental Remaja yang Sehat

0
2249

Masa remaja merupakan masa transisi yang penuh dengan gejolak. Dengan kondisi tersebut, remaja rentan mengalami gangguan kesehatan mental akibat terjadinya perubahan dalam diri remaja. Sebuah data yang dikeluarkan WHO menyatakan,  separuh dari gangguan kejiwaan dimulai dari usia sekitar 14 tahun akan tetapi sebagian besar kasus tidak terdeteksi dan tidak tertangani.

Kondisi mental yang baik bukan hanya tidak mengalami gangguan kesehatan mental, namun juga bagaimana respon remaja dalam menghadapi masalah, berpikir dengan jernih dan mengendalikan emosinya.

Nadya Pramesrani, psikolog klinis dari Rumah Dandelion Jakarta yang ditemui pada Minggu ((10/01/2019) berkata, “ketika fisik sehat maka seseorang dapat menjalankan fungsinya secara normal dan optimal. Itu dapat dilihat dari kemampuan untuk membantu diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari, untuk bekerja atau bersekolah, dan dalam bersosialisasi dengan orang lain”.

Dari sekian banyak gangguan kesehatan mental, depresi menjadi nomor satu yang paling banyak menjangkit mental remaja.

Dari sekian banyak gangguan kesehatan mental, depresi menjadi nomor satu yang paling banyak menjangkit mental remaja. Berkait soal itu, Nadya menjelaskan banyaknya remaja yang depresi atau mengalami gangguan kesehatan mental lain, tidak hanya melibatkan satu faktor saja, namun juga pada resiliensi yang rendah di individu dan yang kedua kurangnya sistem suport di lingkungan sosial. Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dan berusaha dalam menyelesaikan masalah.

Resiliensi 

Stress maupun depresi yang dialami remaja merupakan akumulasi dari serangkaian tekanan yang tidak bisa dikelola dengan baik secara berkepanjangan. Lebih lanjut, Nadya berkata “Pada saat tertekan, tubuh memunculkan hormon adrenalin atau dikenal sebagai fight or flight sebagai respon untuk menghadapi tekanan tersebut,”. Respon seseorang terhadap fight or flight dalam menghadapi situasi dapat berbeda-beda berdasarkan resiliensi yang dimiliki individu seseorang.

Individu dengan resiliensi tinggi lebih memungkinkan untuk mengalami emosi positif. Emosi positif yang dimiliki akan membantu remaja untuk mengurangi emosi negatif sehingga remaja tetap dapat berfungsi secara optimal walaupun dihadapkan pada suatu tantangan dalam mencapai tugas perkembangannya.

Mengenai resiliensi Nadya menyatakan, ia bisa dikembangkan sejak kecil dengan mengajarkan anak menyelesaikan kesulitan yang dialaminya, namun tentu dengan dukungan positif dari orang tua. Upaya tersebut diharapkan membuat anak tumbuh sebagai remaja yang memiliki resiliensi tinggi

“Remaja yang memiliki masalah regulasi emosi berisiko mengalami masalah-masalah lainnya. Regulasi emosi bukan hanya yang ditampilkan di luar saja, namun juga apa yang ada di dalam individu” kata Nadya.

Sistem suport

Selain memiliki resiliensi yang tinggi, remaja juga membutuhkan dukungan sosial yang positif guna perkembangan sosialnya. “Saat remaja mengalami depresi, mereka cenderung tenggelam dalam zona depresinya dan memang susah keluar dari zona depresi sehingga harus ada orang lain yang menariknya keluar. Dan disinilah peran sistem suport positif dibutuhkan” ungkap Nadya.

pertama kali seorang anak menyerap norma dan nilai yang berlaku dalam keluarganya untuk dijadikan bagian dari kepribadian

Dukungan sosial juga bisa berasal dari orang lain seperti, keluarga,sahabat, teman, maupun tetangga. Dalam buku Psikologi Remaja karya psikolog Sarlito W. Sarwono disebutkan sebagai lingkungan primer, hubungan antar manusia yang paling intensif dan paling awal terjadi dalam keluarga. Karena itu, sebelum mengenal norma-norma dan nilai-nilai dari masyarakat umum, pertama kali seorang anak menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarganya untuk dijadikan bagian dari kepribadian.

Perasaan aman dan bahagia yang timbul pada remaja yang hidup dalam keluarga yang harmonis dapat memengaruhi daya penyesuaian sosial pada diri remaja itu di masa depan. Dengan cara tersebut remaja mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan yang tengah dialaminya.

Selain keluarga, pengaruh lingkungan pada tahapnya yang pertama diawali dengan pergaulan dengan teman. “Peer-group yang positif menjadi salah satu sistem suport yang positif untuk membantu tumbuh kembang sosial pada remaja. Dukungan positif yang diberikan oleh teman sebaya tentu akan sangat membantu remaja dalam menghadapi masalah” tambahnya.

Sheldon Cohen dan Thomas Ashby Wills dalam Psychological Bulletin memaparkan, dukungan sosial secara efektif dapat mengurangi penyebab timbulnya stres psikologis ketika menghadapi masa-masa yang sulit.

Kepekaan dan empati terhadap orang disekitar terbukti dapat mengurangi rasa cemas seseorang terutama remaja. Tak kalah pentingnya mengembangkan resiliensi sedari dini untuk bekal di masa mendatang. Mari kita bangun generasi muda dengan mental sehat dan kuat yang mencerminkan masa depan bangsa.

Emiliana Candraningtyas, mahasiswa London School of Public Relation Jakarta