Indonesia Darurat Kekerasan Seksual

0
98

Dari tahun ke tahun kasus – kasus kekerasan seksual semakin marak terjadi di Indonesia, kekerasan seksual merupakan  aktivitas seksual yang dilakukan pelaku tanpa persetujuan atau kerelaan dari orang lain yang menjadi korban tindakan tersebut. Tindakan-tindakan sejenis ini termasuk komentar seksual yang diarahkan terhadap seksualitas seseorang.

Pada sebagian besar kasus yang terjadi, pelaku kekerasan seksual adalah orang yang dikenal oleh korban, dan umumnya pelaku adalah pria. Bisa dikatakan saat ini Indonesia darurat akan kekerasan seksual, para predator seksual makin menjadi menunjukan eksistensinya.

Di Indonesia banyak terjadi kasus – kasus pelecehan seksual terutama pada perempuan, akan tetapi memasuki tahun 2018 Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI) melihat tren kejahatan lebih banyak menyasar anak laki-laki. Baru – baru ini terjadi kasus  balita berusia 1,5 tahun tewas dibekap dan disodomi anak jalanan. Tentu hal ini benar–benar kasus yang langka karena sebagian besar korban kekerasan seksual adalah perempuan. Hal tersebut sangat disesalkan karena faktor kelalaian orangtua dalam mengawasi anaknya pun kurang maksimal dan menyebabkan sang anak menjadi target kekerasan seksual.

Mengapa kekerasan seksual harus kita lawan ? Inilah dampak yang dialami para korban kekerasan seksual

  1. Depresi

Menyalahkan diri sendiri merupakan salah satu efek jangka pendek dan jangka panjang paling umum. Depresi berfungsi sebagai keterampilan naluriah korban untuk mengatasi masalah dengan penghindaran yang justru menghambat proses penyembuhan luka batin dan fisik yang ia alami.

  1. Sindrom Trauma Perkosaan

(Rape Trauma Syndrome/RTS) merupakan bentuk turunan dari PTSD (gangguan stres pasca trauma), sebagai sesuatu kondisi yang memengaruhi korban perempuan – muda dan dewasa – dari kekerasan seksual. Kekerasan seksual, termasuk perkosaan, dipandang oleh wanita sebagai situasi yang mengancam nyawa, memiliki ketakutan umum akan mutilasi dan kematian sementara serangan terjadi

  1. Disosiasi

Dalam istilah yang paling sederhana, disosiasi adalah pelepasan dari realitas. Disosiasi adalah salah satu dari banyak mekanisme pertahanan yang digunakan otak untuk mengatasi trauma kekerasan seksual. Banyak pakar percaya bahwa disosiasi ada pada sebuah spektrum. Di salah satu ujung spektrum, disosiasi dikaitkan dengan pengalaman melamun. Di ujung berseberangan, disosiasi komleks dan kronis dapat membuat penderitanya sulit berfungsi dalam dunia nyata.

  1. Gangguan Makan

Kekerasan seksual dapat memengaruhi penyintasnya dalam berbagai keadaan, termasuk persepsi diri terhadap tubuh dan otonomi pengendalian diri dalam kebiasaan makan. Orang yang sedang trauma umumnya akan kehilangan selera makan karena mereka masih terus menerus terpikirkan akan kejadian tersebut

Tips Menghindari Kekerasan Seksual

  1. Hindari tempat sepi

Biasanya para pelaku pelecehan seksual mencari tempat-tempat sepi agar dapat melancarkan aksinya, walaupun kadang-kadang pelaku juga nekat melakukan aksinya di tempat umum. Oleh karena itu, para wanita sebisa mungkin menghindari tempat sepi. Kalau memang terpaksa harus melewati tempat tersebut, sebaiknya minta ditemani sahabat atau orang terdekat.

  1. Tetap waspada terhadap lingkungan sekitar

Kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan di manapun berada, sehingga jika ada pelaku-pelaku pelecehan seksual yang ingin melakukan aksinya kita dapat segera melaporkannya dan mencegah tindakan pelecehan seksual tersebut. Tindakan kekerasan seksual bisa dilakukan oleh orang yang tak terduga bahkan korban dan tersangka bisa saling mengenal secara dekat.

  1. Mempersenjatai diri untuk meningkatkan pertahanan diri

Contoh bela diri yang simple yaitu kita bisa menguasai teknik dasar bela diri dan sekarang sebagian perempuan membekali diri mereka dengan bubuk merica agar mereka bisa lolos dari kekerasan seksual.

4. Hindari bepergian dengan orang yang baru dikenal

Hendaknya kita tidak mudah terbujuk rayuan orang lain yang baru kita kenal. Terlebih lagi orang yang baru tersebut kita kenal lewat media sosial. Kita harus menghindari hal tersebut sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Kita harus berfikir panjang karena belum tentu orang yang baru kita kenal adalah orang baik, kita harus waspada dan was – was akan hal – hal yang tidak diinginkan.

  1. Jangan pergi sendirian ketika ke tempat yang jauh

Bagi wanita yang hendak bepergian jarak jauh hendaknya minta ditemani oleh orang terdekat misalnya, teman atau sahabat yang memang kita sudah percaya. Karena para pelaku pelecehan seksual biasanya mengincar korbannya yang bepergian sendirian. Berpergian sendirian bisa membuka kesempatan menjadi sasaran empuk karena tidak akan ada yang menolong dan tentu akan kalah jika melawan. Apalagi jika pelaku terdiri dari beberapa orang sedangkan korban hanya sendirian.

  1. Berpakaian Tertutup

Cara berpakaian sebenarnya tak berpengaruh terhadap kemungkinan kejadian pelecehan seksual atau pemerkosaan, namun ada baiknya saat bepergian kita menyesuaikan dengan keadaan. Akan lebih baik jika kita memakai pakaian tertutup supaya tak menarik perhatian pihak lain sehingga mereka berfantasi yang tidak pada tempatnya.

Itulah beberapa tips yang dapat membantu kita. Jadilah warga yang peka terhadap kasus kekerasan seksual. Jika terjadi tindakan pelecehan seksual bantulah korban dengan melindungi yang bersangkutan dari pihak yang melakukan kejahatan. Bila kondisinya tak memungkinkan segera laporkan ke kepolisian terdekat.

 Hanifah Amnisnoro Najamudin Putri