Kehadiran “Catcalling” di Jakarta

0
495

Bentuk pelecehan yang sedang berkembang di Jakarta disebut catcalling. Ini adalah jenis pelecehan di jalanan yang berbentuk komentar, siulan dan gerakan yang tidak diinginkan seperti membunyikan klakson, paparan, bahkan kontak fisik yang sering dilakukan oleh orang asing di tempat umum tanpa persetujuan. Pelecehan terhadap perempuan bisa terjadi di mana saja, kapan saja, pada siapa saja dalam bentuk apa aja.

Catcalling adalah masalah sosial yang menstigmatisasi perempuan agar merasa terbiasa dengan tatapan atau pun suitan setiap pria saat berada di pinggir jalan. Ketidaksetaraan biasanya menyertai karena wanita diharapkan memberi toleransi atas komentar invasif dari pria yang tampaknya terbiasa menurunkan derajat wanita.

Sebagian besar dari perempuan saat menghadapi keadaan seperti  biasanya menyikapinya dengan sikap loyo dan diam karena gangguan itu sudah dipandang sebagai hal biasa. Pemerintah pun terbelakang dalam menyadari bahwa catcalling terhadap perempuan adalah kejahatan. Sampai sekarang, belum ada upaya nyata dari pemerintah untuk membuat strategi pencegahan atau tindakan nyata atas pelecehan dalam bentuk catcalling.

Isu ini telah diabaikan dan dianggap sebagai norma lama. belum ada pihak yang memberi solusi atas perilaku lelaki tersebut

Yang disayangkan bukan hanya kejadian catcalling, tetapi juga keadaan normal yang menyertainya. Isu ini telah diabaikan dan dianggap sebagai norma lama. Belum ada pihak yang memberi solusi atas perilaku lelaki tersebut. Nampaknya siapa pun yang tinggal di kota besar maupun kecil biasa mengalami pelecehan seperti itu di jalanan.

Bukan pemandangan asing untuk melihat wanita diganggu ketika berjalan di depan umum. Para pelaku tampak tidak mengerti bahwa catcalling menghambat mobilitas dan kemampuan seseorang untuk hidup secara normal.

Komunitas Hollaback dan Cornell University di Amerika Serikat mengadakan survei tas hampir 5.000 orang tentang pelecehan di jalan. Hasilnya, 85 persen orang di bawah usia 40 tahun telah mengambil rute pulang yang berbeda untuk menghindari pelecehan di jalan, 72 persen responden menggunakan moda transportasi yang berbeda.

Aksi-aksi ini hanya beberapa contoh dampak yang lebih dalam yang dihadapi oleh kaum wanita di kota metropolitan seperti Jakarta. Contoh-contoh ini menurunkan nilai seorang wanita dan sekaligus mengancam keselamatan mereka. Dampak dari pelecehan ini mungkin tidak terlihat tetapi tidak boleh diabaikan.

Jika kita percaya untuk memperlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan, maka seharusnya catcalling harus segera diakhiri karena itu melanggar kepercayaan tersebut. Kita harus terus-menerus menyembuhkan ketidakadilan sosial.

Casey Rebecca Tulung, mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi London School of Public Relations Jakarta