Lompat dari Literatur Eropa, Teater KataK Adaptasi Literatur Cina

0
305

TANGERANG, KOMPASCORNER — Persembahan ke-57 Teater KataK mengajak para penonton yang memadati Function Hall, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) , Gading Serpong untuk menilik kembali kepada suatu masa dari sejarah negeri tirai bambu, Cina.

Pertunjukan teetar yang berlangsung pada pada tanggal 29-30 November, 2018 itu mengangkat kisah “Kronika: Jalan Pedang”.

Fernanda Meita Alam selaku Pimpinan Produksi mengatakan, kisah tersebut mengadaptasi cerita dari literatur Asia adalah hal yang masih jarang diangkat dalam produksi-produksi Teater KataK.

“Kebetulan Teater KataK kan jarang (mengadaptasi literatur Asia). Kita selalu ke arah Eropa, yang kayak ‘Robin Hood’. Nah, kita mau berusaha untuk keluar dari zona itu. Makanya diangkat lah yang Tionghoa,” jelas Fernanda ketika ditemui usai pementasan.

Latar waktu yang dipilih oleh Teater KataK adalah masa yang benar-benar terjadi berdasarkan catatan sejarah negeri Cina. Waktu diputar kembali sejauh 2100 tahun sebelum Masehi menuju Dinasti Xia. Jalan ceritanya adalah penggambaran atas bagaimana sejarah mengenang dinasti yang berkuasa selama sekitar 400 tahun tersebut.

Naskah cerita “Kronika: Jalan Pedang” yang disusun oleh Reynold itu menceritakan tentang perjalanan seorang pemuda dari suatu desa yang, dengan secara paksa, dikuasai oleh kaisar yang berjaya di masa Dinasti Xia. Pemuda protagonis tersebut adalah Guan.

Guan, dalam cerita tersebut, harus dihadapkan dengan banyak kejadian pahit yang mendorong dirinya untuk mengambil jalan pedang. Istilah jalan pedang menjadi kunci yang membentuk tokoh Guan dan perjuangannya untuk menebus kehilangannya atas desa dan orang-orang yang dicintainya, di hadapan Kaisar Xie Jie. Kaisar Xie merupakan tokoh antagonis tersebut berkarakter serakah dan haus kekuasaan.

Dalam cerita, jalan pedang harus ditempuh atas tujuan yang bijaksana. Namun, kemalangan yang dialami Guan pada akhirnya memunculkan keinginan Guan untuk membunuh sang kaisar melalui jalan pedang. Dendam yang mendorong Guan ke jalan pedang, ternyata hanya mengantarkan Guan kepada kesusahan-kesusahan lainnya.

Produksi yang disiapkan dalam tiga bulan ini berhasil mengemas konflik batin sang tokoh, percintaan, dan sosial dalam satu pementasan yang mengesankan. Tidak berhenti di situ, penonton turut dipuaskan dengan perpaduan akting, musikal, tarian, dan action pada adegan bertarung. Penonton semakin diundang masuk ke dalam cerita dengan dukungan tata cahaya dan tata suara.

Guan (Aristotle Rama) dan Mei (Steffani Liwang) menghidupkan koflik percintaan dalam ‘Kronika: Jalan Pedang’ pada Kamis (29/11) di Kampus UMN. Foto: Kompas Corner / Maudy Andriane

Teater KataK, yang juga membuka sanggar teater di luar kampus UMN, membawa anak-anak di bawah naungannya sanggar KataK.id untuk turut meramaikan panggung pementasan. Anak-anak didikan Teater KataK ini menampilkan pertunjukkan berdurasi singkat sebagai pembuka sebelum pementasan dimulai. Pementasan singkat ini menampilkan salah satu bagian yang masih berhubungan dengan “Kronika: Jalan Pedang” di mana para prajurit kaisar sedang menyingkirkan warga desa. Pembedanya adalah prajurit dan tokoh lainnya pada pementasan pembuka ini diperankan oleh anak-anak.

Melalui pementasan ini, Fernanda berharap para penonton dapat mengambil pelajaran dari “Kronika: Jalan Pedang”. “Pokoknya intinya itu, jangan mudah terpancing emosi, dan kalau bisa jangan sampai memikirkan untuk membalas dendam,” tutup Fernanda.

PENULIS: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita

DOKUMENTASI: Kompas Corner UMN / Maudy Andriane