Merayakan Idul Fitri di Tanah Ottoman

0
333

Merasakan berlebaran di luar negeri sekaligus merayakannya disana mungkin bagi kebanyakan orang adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Melihat sekaligus merasakan perayaan Hari Idul Fitri dari berbagai negara mempunyai kesan yang tak terlupakan. Sebenarnya, tak perlu jauh-jauh untuk melihat perbedaan ini, di negeri kita saja masih banyak perbedaan yang bisa kita jumpai.

Bagi orang Muslim, Lebaran adalah hari yang ditunggu-tunggu. Kebanyakan mereka menghabiskan waktu bersama keluarga, mengunjungi rumah-rumah saudaranya dan mencicipi makanan yang mugkin hanya sekali dalam setahun. Mungkin berbeda dengan masyarakat Turki yang mengganggap Lebaran sama saja dengan hari biasanya. Tak ada hal yang istimewa di hari besar Islam ini. Perbedaan yang mencolok inilah yang membuat sebagian dari pelajar mengharapkan agar bisa kembali ke kampung  halaman sebelum lebaran.

Hari ini Lebaran saya pertama di Turki, tapi bukan pertama berlebaran jauh dari orangtua. Tahun lalu, saya banyak menghabiskan waktu di Jakarta, sedangkan orangtua di Aceh. Bagi saya yang waktu itu rumahnya jauh pasti punya pertimbangan sendiri soal biaya tiket pesawat yang melonjak naik. Merasakan rindu yang mendalam kepada keluarga mungkin suatu yang tak akan habis-habisnya untuk diceritakan.  Idul Fitri di Turki menarik untuk diceritakan melihat  saat ini Turki sangat dielu-elukan oleh beberapa kalangan di Indoensia mengingat presidennya sekarang.

Perayaan tak terlalu meriah di Turki,tidak ada malam takbiran, pawai takbiran, kembang api atau hal lain yang sering kita jumpai di Indonesia. Shalat Id dimulai pukul 06.20 waktu Turki. Semua bergegas menuju camii (pen-masjid) tidak ada tanda-tanda bahwa akan dilaksanakan shalat yang hanya akan diadakan dua kali dalam setahun oleh umat Islam. Beberapa orang muncul tapi itu malah menaruh kecuriigaan yang mendalam. Bagaimana tidak semalam sebelum lebaran, warga Turki berbondong-bondong memenuhi pasar. Pasar yang biasanya pada pukul sembilan malam saja pasar pasti sudah lengang. Tapi malam sebelum lebaran orang-orang masih ramai hingga pukul tiga pagi. Budaya belanja baru sepertinya masih memiliki persamaan dengan masyarakat Indonesia.

Jika kita melihat jumlah penduduk Turki dilansir trthaber.com yang berjumlah 80 juta orang 99.2 % merupakan pemeluk Islam. Menurut pengamatan Jumlah tersebut tentu tidak seimbang dengan apa yang terjadi di saat pelaksanaan Idul Fitri sendiri. Sebenarnnya faktor lain yang menyebabkan hal tersebut bahwa pada pelaksananan shalat Idul Fitri, perempuan tidak diharuskan untuk shalat bersama di camii tapi bisa di rumah masing-masing. Nah ini yang membuat perayaan lebaran di Turki sendiri terbilang kurang ramai.

Untuk Shalat Id sendiri bisa dibilang ada beberapa tata laksana yang berbeda. Mayoritas penduduk Turki adalah bermazhab Hanafi pastinya memiliki perbedaan dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas Syafi’i. Misalnya saja ketika takbiratul ihram kedua, biasanya di Indonesia didahulukan takbiratul ihram sebanyak lima kali namun di Turki didahulukan membaca al-fatihah, membaca surah kemudian baru dilanjutkan takbiratul ihram.

Selesai shalat kemudian dilanjutkan takbiran yang hanya diucapkan beberapa kali saja. Kemudian para jama’ah melaksanakan rukun Shalat Id terakhir yaitu mendengarkan dua khutbah. Setelah  selesai semuanya bersalaman, di luar sendiri sudah disediakan coklat kecil dan lokum kue manis khas Turki gratis. Inilah perbedaan yang agak mencolok perayaan hari besar Islam di Turki tidak semeriah di Indonesia. Apalagi perayaan tersebut tidak ada di samping orang-orang yang kita sayangi.

Menjadi mahasiswa di luar negeri memang tak selalu indah, berkumpul bersama teman-teman satu negara mungkin bisa menghilangi rasa rindu yang mendalam. Saya ingat di setiap lebaran di Aceh, ibu sudah menyiapkan berbagai macam makanan setelah semua sudah selesai shalat kita bisa mencicipi makanan tersebut. Hari beikutnya mengunjungi rumah kakek yang jaraknya kira-kira dua jam dari kota Banda Aceh. Hari raya yang memang sangat sendiri sangat rindukan. Bagi yang masih bisa merasakan lebaran bersama orangtua mari manfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin.  Semoga kita bisa memaknai lebaran kali ini untuk menjadi lebih baik.

 

 

Tentang Penulis

Cut Meurah Habibur Rahman. seorang pelajar di Turki. Suka menulis, solo traveling dan pendengar setia “Hujan” ketika turun.