Sneakers, Cerminan Jiwa Muda

0
505

Diskusi kami mengenai perkembangan budaya sneakers di Indonesia berlangsung asyik bersama kedua narasumber kami, Ketua Indonesia Sneaker Team (IST) Pandu Polo (29) dan Rafly Abidin (34), pada hari Kamis lalu (13/07). Pandu datang dengan membawa sneaker Puma terbaru yang belum masuk ke dalam pasar Indonesia dengan gaya berpakaian street wear. Pandu telah menyukai tren sneakers sejak Sekolah Menengah Pertama. Masih sangat belia, bukan?

Sneaker berasal dari kata ‘sneak’ yang berarti mengendap-ngendap. Dikatakan seperti itu karena solnya terbuat dari karet sehingga ketika berjalan tidak menimbulkan suara. Menurutnya, sneakers masuk dan mendongkrak popularitas di Indonesia pada awal tahun 2000, dibawa oleh budaya para pemain skateboard.

Masuknya merek luar ke dalam negeri disambut dengan antusias. Merek ternama seperti Nike dan Adidas sukses mengundang atensi banyak kalangan, khususnya anak muda. Penggemar yang bertemu melalui media sosial pun tak sedikit yang akhirnya membentuk komunitas pecinta sneakers. Salah satunya IST tadi.

Ketua Komunitas Indoneia Sneaker Team (IST) Pandu Polo. Foto: Della Ragil Putri

“Awalnya dari Kaskus, semua ngumpul di thread-nya sneaker addict. Kita sering ngumpul dan foto bareng. Akhirnya, kita meeting, kenapa nggak dibuat komunitas? Kita seriusin lagi. Pada saat pembentukan ada 10-15 orang,” kata Pandu.

Pandu menceritakan awal terbentuknya IST sambil bernostalgia. “Tapi, yang bertahan dari mereka hingga sekarang bisa dihitung jari. Paling-paling hanya tiga orang. Kebanyakan dari mereka telah disibukkan dengan pekerjaan dan keluarga,” ujarnya.

Kini, IST merupakan salah satu komunitas sneakers yang memiliki anggota terbanyak, tersebar di berbagai daerah. Mereka kerap kali mengadakan acara seputar sneakers. Meski begitu, beberapa dari para sneaker head yang belum mengetahui keberadaan komunitas ini. Salah satunya, Rafly Abidin, vokalis dari grup musik bernama ‘The Banery’.

“Wah, aku pernah dengar. Kalau ada kesempatan, aku mau bergabung dan ikut acara-acara mereka. Siapa tahu setelah aku masuk aku bisa semakin mengetahui dan mengikuti perkembangan sneakers di Indonesia,” kata Rafly.

Rafly Abidin, vokalis The Banery. Foto: Della Ragil Putri

Rafly bercerita mengenai rencananya untuk ikut menghadiri acara Jakarta Sneaker Day di kawasan Senayan, tepatnya di Senayan City. Meski akhirnya, ia tidak bisa datang.

Ayah dari tiga anak perempuan ini mengaku bahwa ia sangat sering memakai sneakers, baik dalam kesehariannya maupun ketika ia manggung. Kenyamanan adalah hal yang utama bagi Rafly. “Aku nggak suka kalau beli sepatu cuma untuk dipajang,” ujarnya.

Rafly datang membawa dua pasang sepatu, yaitu New Balance 574 Reflective dengan perpaduan warna biru keabu-abuan dengan warna dasar hitam dan Onitsuka Tiger Mexico 66 dengan warna dasar abu-abu muda dilengkapi garis berwarna merah burgundy. Keduanya adalah pemberian dari istrinya.

“Aku diberi sepatu ini sudah lama. Sudah agak rusak. Aku bawa ke shoe repair gitu, sekalian disikat. Jadi, pas balik-balik seperti dihidupkan kembali,” kata Rafly. Dari ceritanya, Rafly merawat sepatunya dengan amat baik.

Mencari bekas
Ada hal yang perlu kalian tahu, nih. Kalian nggak perlu punya banyak uang untuk membeli sepasang sneakers. Bahkan, Pandu memberi tahu kami bahwa sneakers miliknya yang paling mahal adalah seharga 3,6 juta rupiah.

“Itu saja diperoleh dengan menjual sepatu lain. Lebih baik lo mengorbankan yang lo suka, untuk diganti ke barang baru yang lo suka. Lo nggak perlu langsung beli barang-barang yang baru di-launching. Karena, untuk sepatu yang baru keluar pasti harganya tetap mahal. Lebih baik tunggu yang baru dipakai beberapa kali dan dijual lagi, harganya kebanting jauh,” kata Pandu.

Namun, seperti yang Pandu telah ketahui, remaja zaman kini sangat mementingkan gengsi. Ia pun menambahkan secara gamblang, “Hal yang terpenting itu, jangan malu. Ya kalian kan memang budget-nya belum mencukupi,” katanya.

Tips tersebut bisa menghemat jumlah uang yang lumayan, lho! Untuk dirinya, kenyamanan dan desain itu nomor satu. “Kalau perempuan, ya, yang paling penting sepertinya desain dan warna. Urusan nyaman atau enggaknya belakangan,” lanjut Pandu sambil tertawa. Benar enggak nih, Mudaers?

Para pecinta sneakers terus bertambah seiring waktu berjalan. Namun, hal itu tidak menjamin keberlangsungan perusahaan mereka dalam jangka waktu panjang. Seperti yang terjadi kepada distributor sneakers yang ada di Indonesia. Hal ini terjadi karena banyak sekali produksi lokal yang meniru desain brand-brand besar dengan memasang harga pasaran yang jauh lebih murah.

“Kalau gue punya prinsip gini, lebih baik lo beli sesuatu yang masih sesuai kantong lo. Jangan beli yang jangkauan harganya lo nggak bisa raih. Yang bakal ngegaet lo buat beli tiruannya,” ujar Pandu.

Produk lokal
Maraknya kehadiran budaya sneakers di dunia juga menggelitik para pengusaha lokal untuk berkecimpung di dunia fashion street wear. Meski merek lokal belum sebesar merek-merek luar, bukan berarti ini menghalangi mereka untuk menciptakan produk yang mampu bersaing secara kompetitif.

“Dari segi kualitas, apa sih yang Indonesia nggak punya? Secara materi, kita semua ada. Cuma, mungkin, teknologi kita kurang memadai. Perlu digodok lagi. Sayangnya, mereka baru tergerak sekarang, setelah melihat model-model yang ada. Cari model dan desain yang orisinil, meski merek besar juga saling mengikuti merek lainnya. Kecuali mereka sudah punya trademark,” kata Rafly.

Sebagai bukti, Rafly sangat menggemari salah satu produk lokal yang menghasilkan sepatu boots dari Solo. Kemudian, ada pula Hurricane asal Bandung yang diakui Mas Pandu memiliki potensi untuk semakin berkembang.

Kelompok Renjana, Magangers Kompas Muda Batch IX