[Finalis Kompetisi Esai]-E-commerce “Mendaki” ke Puncak, Mal dan Pasar Tradisional “Tergelincir” ke Lembah ?

2
822

Setiap manusia selalu memiliki keinginan untuk berkembang. Dunia teknologi pun melangkah berdampingan dengan manusia untuk terus berevolusi mempermudah masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dukungan juga terus diluncurkan oleh pemerintah Indonesia seperti undangan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika kepada 20 perusahaan investasi dari Jepang untuk menghadiri “Indonesia-Japan Innovation Meet Up” dengan tujuan menarik investor Jepang untuk menanamkan modal pada berbagai usaha rintisan di bidang teknologi informatika.

Pengaruh teknologi yang sudah dirasakan oleh masyarakat adalah e-commerce atau jual-beli produk atau jasa melalui internet (online). Berkat adanya sistem belanja online, terbentuklah kenyamanan antara pembeli dan penjual. Pembeli yang memiliki aktivitas padat hanya cukup memesan produk yang diinginkan melalui website atau aplikasi di telepon genggamnya dan produk akan sampai dengan cepat setelah seluruh syarat dan ketentuan termasuk administrasi terpenuhi . Di pihak penjual, terbuka banyak usaha rintisan baru dengan modal terjangkau karena tidak diperlukannya modal untuk menyewa tempat atau stand sebagai tempat melakukan aktivitas jual-beli.

Menurut penulis, hal tersebut benar-benar berpengaruh terhadap alur hidup masyarakat Indonesia sekarang ini. Semuanya dapat diperoleh dengan mudah dibantu dengan agen jasa pengiriman. Dukungan dari luar juga kian pesat terlihat bahwa Alibaba menyuntikkan modal sebesar 1 miliar dollar AS pada Lazada di tahun 2016 serta Tokopedia yang berhasil mengumpulkan 248 juta dollar AS dari berbagai investor termasuk SoftBank dan Sequoia Capital. Lalu jika kita berpikir saat Indonesia genap 100 tahun nanti di tahun 2045, industri online pasti akan semakin marak dan semakin variatif dari segi produk maupun jasa.

Kemunculan kebiasaan belanja online (e-commerce) turut mempengaruhi eksistensi Mal dan pasar-pasar tradisional. Lembaga konsultan properti asal Australia, Savills menyebutkan bahwa tingkat kekosongan area tenant di Mal di Jakarta bergerak naik ke angka 10,8% pada semester I-2017 dari sebelumnya 10,3% di semester II-2016. Wakil Gubernur DKi Jakarta terpilih Sandiaga Uno  juga menilai menurunnya pengunjung di Pasar Glodok dikarenakan banyaknya usaha mikro, kecil, dan menengah yang beralih ke e-commerce saat meluncurkan OK OCE Stock Center di BEI (Bursa Efek Indonesia), Jakarta.

Ketika Indonesia berusia 100 tahun, sebagian pasar dunia nyata mungkin akan tergeser dengan adanya dunia online dan dapat mempengaruhi bisnis dalam Mal dan pasar tradisional. Namun jika ditelaah lebih lanjut, e­-commerce tidak dapat “mencuri” seluruh target pasar. Hal itu dikarenakan Mal dan pasar tradisional memiliki fungsi yang belum dapat digantikan oleh dunia online pada tahun 2045 pun.

Pertama, Mal masih memiliki fungsi sosial dalam masyarakat. Kenyamanan berbelanja secara online memang didapatkan namun masyarakat masih membutuhkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga serta teman-teman untuk sekedar makan ataupun menonton di bioskop bersama . Mal juga berfungsi sebagai tempat mengadakan berbagai pertemuan menyangkut bisnis (rapat, penandatanganan perjanjian dan lain-lain) . Maka dari itu fungsi sosial harus terus ditonjolkan dan dikembangkan dari Mal tersebut.  Dengan menonjolkan fungsi tersebut, toko-toko perbelanjaan juga turut bangkit karena para pengunjung pasti akan melirik toko-toko sembari berjalan-jalan bersama keluarga, teman ataupun rekan bisnis.

Kemudian, untuk pasar tradisional pun masih memiliki fungsi yang belum tergantikan yaitu sebagai penyedia bahan baku makanan yang segar, barang-barang yang langsung dapat dicoba serta harganya lebih terjangkau. Sebagai contoh, terdapat aplikasi online yang menjual bahan makanan mentah namun tetap harus dalam pembelian yang banyak dengan minimum harga pembelian menimbang biaya transportasi dan kualitas produk.Dengan kecenderungan perkembangan masyarakat untuk hidup sehat, masyarakat pun mulai cerdas dalam memilih bahan makanan serta lebih memilih untuk berbelanja langsung dengan alasan kualitas.

Dalam mewujudkan bangsa Indonesia saat berusia 100 tahun dengan eksistensi pasar yang seimbang,  penulis merangkum solusi menjadi 2 poin utama.

Pertama untuk pengembang Mal, tetap mengutamakan fungsi sosial Mal serta meningkatkan experiences pengunjung Mal dengan bantuan teknologi. Pemanfaatan teknologi seperti 3D printer dapat digunakan oleh pemilik ritel untuk mengurangi persediaan stok yang ada dalam toko sehingga memperluas area untuk melakukan promosi yang memberikan pengalaman “langsung”, seperti mencoba baju dengan teknologi augmented reality mirror, simulasi permainan alat elektronik, tempat bermain bowling atau berbagai aktivitas lain yang tidak dapat dilakukan secara online.

Dari segi toko ritel, diperlukan sasaran pasar atau kelompok yang lebih jelas seperti umur, gaya hidup ataupun kesukaan. Kemudian menambah ruang untuk jasa Makanan dan Minuman serta hiburan karena 2 sektor tersebut merupakan sektor yang paling banyak menjadi tujuan pengunjung untuk pergi ke Mal. Karena menjadi Toserba atau Toko Serba Ada sudah dapat dicukupi oleh berbagai toko di sekitar tempat tinggal pengunjung. Selain itu, penggunaan instalasi tenda atau stand di tempat strategis di Mal dapat menarik perhatian pengunjung dan memeratakan perhatian pengunjung pada lapak-lapak yang ada di Mal tersebut.  Di tahun 2045, para karyawan Mal di Indonesia pun tetap dapat bertahan untuk bekerja di Mal asalkan mereka juga diberikan edukasi untuk “sadar” teknologi. Para karyawan tidak hanya menjalankan fungsi pemasaran atau pengawasan terhadap produk yang dijual. Namun juga melakukan fungsi pembimbingan pada masyarakat untuk berbelanja secara cerdas dengan aplikasi teknologi yang digunakan sehingga konsep belanja menjadi lebih menarik.

Kedua untuk pasar tradisional. Tampaknya pasar tradisional masih cukup diminati oleh masyarakat karena letaknya yang cukup mudah dijangkau dari tempat tinggal dan pembelian secara ecer. Hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan pasar tradisional agar kondisi pasarnya tetap seimbang yaitu membuat kondisi lingkungan berbelanja yang nyaman seperti pasar tradisional yang diberi keramik, ventilasi, kebersihan  yang terjaga serta lapak-lapak yang ditata dengan rapi sesuai dengan jenis produk yang dijual. Hal tersebut cukup dapat mempertahankan pasar untuk kedatangan konsumen. Yang pasti, dengan harga yang tetap merakyat .

Secara keseluruhan, eksistensi pasar Indonesia tetap dapat bertahan di tahun 2045 atas kunci utama yaitu para generasi muda Indonesia. Kita merupakan generasi milenials muda yang harus tetap bersatu dan teguh dalam mengaplikasikan Bhinneka Tunggal Ika dalam hidup bermasyarakat. Ketika Indonesia telah berusia 100 tahun, perkembangan teknologi boleh mendampingi kita namun tidak dapat memutuskan tali perhubungan kita sebagai masyarakat sebangsa dan setanah air. KITA SATU DAN KITA BISA !

#100TahunIndonesia dan eksistensi pasar


 

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan vote

LOGIN DAFTAR

2 COMMENTS

  1. Informasi yang disampaikan cukup mengesankan.. Saa sangat setuju dengan kata” terakhir dari penulis yang menyampaikan bahwa Ketika Indonesia telah berusia 100tahun.. dan teknologi tentunya telah berkembang pesat.. namun kita sebagai bangsa Indonesia tentunya harus tetap bersatu jangan sampai perkembangan teknologi memutuskan tali persaudaraan bangsa kita yang sangat kita cintai ini..

  2. artikel ini merupakan sebuah “penyadaran” bagi saya yang gemar belanja lewat e-commerce namun juga gemar ke mal. menurut saya, ide augmented reality mirror adalah sebuah ide yang cemerlang!