Pesona Alun-alun Sumedang: Tetap Terang Walau Gelap

    0
    1956

    Pada abad 13 hingga 18 tepatnya jaman kerajaan Majapahit hingga kerajaan Mataram, alun-alun yang menjadi ciri khas kota-kota di Jawa dijadikan sebagai bagian dari komplek Kraton yang merupakan pusat pemerintahan dan kebudayaan. Meskipun pada abad ini terdapat perubahan bentuk alun-alun, tapi terlihat adanya pengkonsepan yang selaras penataannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat pada jaman tersebut.

    Tapi, sesudah kemerdekaan, fungsi alun-alun bukan sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan. Apalagi jaman sekarang yang sudah kelihatan rusaknya alun-alun sebagai ciri khas kota-kota di Jawa. Banyak keputusan atau kebijakan pembangunan kota oleh pemerintah yang tidak mengerti mau difungsikan untuk apa alun-alun ini.

    Alun-alun yang tidak tahu fungsinya untuk apa, membuat alun-alun pada malam hari terlihat gelap dan menyeramkan. Suasana sepi, minimnya pencahayaan, hembusan dinginnya angin malam membuat bulu kuduk berdiri, ditambah sekeliling ditumbuhi pohon-pohon besar yang akar-akarnya telah muncul dipermukaan tanah menambah kesan menyeramkan pada malam hari. Sehingga tidak ada masyarakat berlama-lama untuk mengunjungi alun-alun pada malam hari.

    Berbeda dengan suasana malam hari di alun-alun Sumedang sekarang. Suasana malam yang dulu gelap tanpa adanya penerangan, hanya ada monumen Lingga yang terletak di tengah halaman, di keempat sudut monumen tumbuh tegak pohon beringin berukuran besar, dan aneka pepohonan yang tertanam di pinggir halaman. Bahkan pada malam hari, masyarakat sekitar sungkan untuk mengunjungi tempat ini. Namun, kini suasana gelapnya malam berubah terang seketika alun-alun Sumedang bermandikan cahaya oleh lampu-lampu beraneka bentuk menerangi pusat berkumpulnya warga Sumedang.

    Sama seperti alun-alun di Jawa, Alun-alun Sumedang pun terletak ditengah kota dan dikelilingi dengan bangunan penting. Yaitu kompleks pendopo Kabupaten Sumedang yang letaknya di sebelah selatan, Gedung DPRD di sebelah utara, bangunan penjara di sebelah timur, dan Masjid Agung Sumedang yang terletak disebelah barat.

    Dulu, ketika melewati tempat ini, terasa suasana gelapnya malam. Namun, saat melewati alun-alun Sumedang pada Senin malam, seketika mata yang tadinya sedang asik fokus dengan ruas jalan raya teralihkan oleh cahaya warna-warni yang terletak di pinggir tempat.

    “Karena titik kumpulnya disini (alun-alun), ada inovasi. Bagaimana menjadikan orang lebih happy bisa berkunjung di alun-alun sebagai tempat Berkunjungnya,” jelas Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sumedang Ayuh Hidayat.

    Pada 22 April selalu diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang, biasanya acara peringatan hanya di isi dengan penampilan budaya khas Sumedang. Namun, pada hari jadi ke 439, berkaitan keinginan pemerintah Kabupaten Sumedang dalam menata kembali alun-alun Sumedang sebagai sarana bermain dan berekreasi keluarga yang nyaman, alun-alun Sumedang disulap menjadi tempat wisata dengan hiasan lampu-lampu berbagai macam bentuk menerangi.

    “Kita coba menjelang hari jadi, ada perubahan. Sudah dari kemarin malam minggu lampu-lampu udah nyala. Masih ada ornamen-ornamen yang belum dinyalakan soalnya baru datang,” terang Ayuh.

    Warna merah akan berubah menjadi biru, warna biru berubah menjadi warna hijau, dari warna hijau akan berubah menjadi warna ungu

    Objek wisata baru berupa lampion di alun-alun Sumedang ini ada yang berupa bentuk kuda, ular kobra, unta, bunga, lumba-lumba, dan terowongan. Bahkan ada pula lampion bertuliskan “I❤ SUMEDANG” yang menjadi kesukaan pengunjung untuk mengambil foto dengan ikon yang mencirikhaskan Sumedang. Dengan adanya lampion ini, kecantikan dan keindahan Sumedang terlihat serta dapat dinikmati.

    Pada bagian monumen lingga yang terletak ditengah halaman , terpasang lampu-lampu kecil berwarna yang tersusun lurus mengikuti aliran pepohonan kecil yang tertanam di sekelilingnya. Tidak hanya pepohonan sekitar monumen saja yang dihias, pohon beringin yang terletak disetiap sudut monumen pun tidak ketinggalan dari hiasan lampu. Pada pohon beringin terlihat lilitan lampion yang menghiasinya. Lampion lilitan tersebut setiap beberapa detik akan berubah warnanya. Warna merah akan berubah menjadi biru, warna biru berubah lagi menjadi warna hijau, dari warna hijau akan berubah menjadi warna ungu. Dan seterusnya yang akan terus bergantian menerangi monumen lingga.

    Bagian depan Alun-alun Sumedang, terdapat lampion bertuliskan “I❤SUMEDANG” berwarna-warni, ditengah tulisan timbul pusat cahaya yang menyebarkan warna untuk setiap huruf. Jika melihat dari depan lampion huruf ini, monumen lingga yang dikelilingi oleh lampu-lampu cantik akan terlihat jelas. Ditambah pada sisi kanan dan kiri tulisan terdapat lampion berbentuk hewan Kuda berwarna putih terang. Pencahayaan bagian depan, berhasil menarik masyarakat maupun pengunjung untuk berdatangan ke alun-alun baik bermain maupun mengabadikan keindahan lampion ciri khas Sumedang.

    Ketika masuk melalui bagian barat, mata langsung disejukan pemandangan lampu warna merah, putih, biru dan hijau tertata lurus berbentuk lorong persegi. pada lorong warna-warni persegi ini berhiasan juga lampion berbentuk hati warna merah yang menambah kesan indahnya bagian barat. Kesejukan mata pada bagian barat tidak sampai situ saja, keluar dari lorong hati, disebelah kanan dan kiri terlihat lampion berbentuk unta yang diatas punggung bercahaya hijau.

    Bagian Timur tidak kalah cantik penerangannya dari bagian barat. Walaupun pada awal masuk bagian timur sama saja disambut dengan terowongan hati, tetapi perbedaan terlihat saat keluar dari terowongan hati tersebut. Ketika melihat lurus kedepan, tidak hanya terlihat monumen lingga saja, tetapi terlihat pula lampion bunga berukuran sedang menyala menyambut pengunjung bagian timur.

    Sebelah kiri lorong hati bagian timur, mata akan menjumpai lampion berbentuk ular kobra raksasa yang sedang membuka mulutnya seolah-olah bersiap untuk menyerang mangsa. Tubuh Ular kobra berwarna hijau terang. Pada bagian mulut yang sedang terbuka, terlihat taring gigi diatas maupun bawah dan garis-garis otot mulut kobra berwarna merah darah seolah-olah memang bagian rongga dalam mulut kobra yang siap memangsa.

    Ketika melihat bagian barat dan timur, pengunjung akan melihat dan disambut dengan lampion warna-warni setiap garis membentuk terowongan dan berhiasan lampion hati warna merah. Berbeda ketika melirik sisi utara, terlihat masyarakat yang mengunjungi alun-alun memadati dan asik berfoto di sebuah lampion yang terpajang. Rupanya, pada bagian utara ini terpajang lampion berbentuk bola-bola cantik beraneka warna tersusun setengah melingkar menyerupai sebuah terowongan menghiasi sisi alun-alun Sumedang ini.

    “Sebelum ada lampion-lampion, pencahayaan yang kurang banyak orang merasa malas dan bosan untuk ke alun-alun pada malam hari. Bahkan, enggak terlihat alun-alunnya, malah seperti taman biasa saja. Adanya lampion seperti ini, terlihat kehidupan alun-alun Sumedang yang rame dan daya tarik masyarakat untuk ke alun-alun pada malam hari semakin banyak,” ungkap Fitrias, pengunjung lampion alun-alun Sumedang.

    Suasana ramainya masyarakat yang berkunjung dimalam hari dan gemerlapnya cahaya-cahaya dari lampion yang menerangi alun-alun Sumedang ini, mengingatkan dengan suasana alun-alun Batu Malang, Jawa Timur. Di Alun-alun Batu yang diresmikan awal Mei 2011 silam, tidak hanya terdapat lampion-lampion aneka bentuk saja, tetapi ada pula wahana rekreasi berupa bianglala Ferris Wheel beraneka warna setiap kabin, seperti kabin warna merah, kuning, maupun hijau yang siap mengantarkan untuk melihat suasana malam hari Kota Batu dari sisi atas. Namun, kita harus merogoh kantong ketika setiap kali menikmati keindahan dan kecantikan yang berada di Kota Batu tersebut.

    Baik alun-alun Batu maupun alun-alun Sumedang yang sama-sama banyak dikunjungi masyarakat dan diterangi oleh cahaya pada malam hari, hanya saja di alun-alun Sumedang kita dapat menikmati wisata lampu-lampu bertebaran di setiap sisi dengan bebas tanpa harus merogoh kantong.

    Sebab itu, pesona Alun-alun Sumedang yang kini telah berhiasan cahaya terpajang pada halamannya, dapat kita lirik menjadi salah satu objek wisata baru untuk dikunjungi di malam hari. Apalagi kini telah difungsikannya kembali alun-alun Sumedang sebagai tempat berkumpul masyarakat baik waktu terang maupun gelap hari, serta membanjiri dengan lampion beraneka bentuk dan warna menerangi kegelapan. Sehingga kesan menyeramkan pun hilang.

    Penulis:

    Dwi Putri Iftihar Asror, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran