I miss Kediri

0
412

Aku Nur Fadillah, perantau dari Sulawesi Selatan (Sulsel) tepatnya di kota Parepare, yang sekarang melanjutkan studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aku ingin menceritakan perjalanan yang tidak terkait dengan  Sulawesi Selatan ataupun Jakarta, melainkan perjalananku ke daerah Jawa Timur yaitu Pare, Kediri.

Sebagai seorang perantau, liburan adalah momen yang sangat dinantikan. Akupun demikian, tapi bukan karena aku ingin menghabiskan liburan di kampung halaman. Aku sudah menyiapkan rencanaku untuk liburan semester awal ini, yah aku akan ke Pare, Kediri buat belajar bahasa Inggris.

Aku di Kediri selama satu bulan. Dua minggu aku kursus dan dua minggunya lagi aku sempatkan buat jalan-jalan. Di Kediri aku tinggal di kos-kosan Sunrise yang harganya Rp 350.000 ribu perbulan. Fasilitas yang aku dapatkan pun cukup memuaskan yaitu kasur, kamar mandi dan tentunya yang paling penting wifi non-stop 24 jam.

Aku memilih dua tempat kursus, pagi hari aku kursus di RNB yang berada dekat dengan kosanku. Sore harinya aku kursus di Holiday, tempatnya lumayan jauh sehingga aku harus menyewa sepeda yang harganya Rp 50.000 ribu per dua minggu. Sepeda menjadi hal yang wajib ada ketika berada di Kediri. Gunanya untuk mempermudah aktivitas selama berada di sini. Harga sewanya pun terbilang murah yang membuat hampir semua pengunjung tertarik menggunakan sepeda.

Di RNB aku mengambil program Speaking English, biaya pendaftarannya hanya Rp 75.000. Aku memiliki lima teman baru. Mereka memiliki kemampuan bahasa Inggris melebihi kemampuanku yang membuat aku merasa terbelakang. Metode pembelajaran yang digunakan RNB cukup menarik yaitu setiap hafalan yang diberikan, harus di praktikan di depan umum. Hal itu yang memotivasiku untuk lebih percaya diri dengan kemampuanku.

Sepulang dari pesantren, kami t mampir ke Monumen Simpang Lima Gumul yang bagunannya mirip dengan L’arch D’Triomphe Prancis

Kursus soreku di Holiday, biaya pendaftarannya lebih murah yaitu Rp 35.000 ribu. Tapi murah bukan berarti tidak berkualitas. Aku justru lebih bersemangat di Holiday, karena teman baru yang aku dapatkan lebih banyak, ada 13 orang. Cara mengajar mentor pun sangat seru ditambah sebagian dari temanku ada yang berasal dari Thailand menambah kelucuan pada saat belajar. Sama seperti RNB, Holiday juga penuh dengan hafalan, bedanya  RNB menghafal kalimat yang nantinya dibahas per kata, sedangkan Holiday menghafal kata setelahnya dibuat kalimat.

Baik RNB maupun Holiday, telah memberikanku pengalaman yang luar biasa. Di akhir kursus aku dan teman-teman di Holiday mengadakan perpisahan kecil-kecilan. Kami makan bersama setelah itu kami berkunjung ke salah satu Pesantren yang ada di Kediri yaitu Pesantren Lirboyo. Sepulang dari pesantren, kami mampir ke Monumen Simpang Lima Gumul yang bagunannya terkenal karena mirip dengan L’arch D’Triomphe Prancis. Suasana di sana sangat ramai, ada banyak penjual pernak-pernik serta jajanan makanan.

Dua minggu selanjutnya, aku berkunjung ke rumah teman yang ada di Blitar. Aku nginap di sana karena pagi hari kami ingin mengunjungi makam Bung Karno. Aku merasa sangat beruntung bisa menziarahi makam tokoh patriot Indonesia sekaligus Presiden pertama. Tidak mau melewatkan kesempatan yang ada, aku juga diajak mengunjungi Istana Gerbang yang merupakan kediaman bapak Presiden pertama. Sore harinya aku diajak lagi ke kampung Coklat. Aku sunguh takjub melihat semuanya berasal dari coklat. Sangat disayangkan jika ke Kediri tanpa mengunjungi tempat ini. Dan tentunya aku membeli beberapa coklat buat oleh-oleh.

Selain tempat wisata di atas, aku juga berkunjung ke Goa Surowono. Goa ini merupakan lorong bawah tanah yang di dalamnya terdapat aliran sungai. Aku awalnya sangat takut untuk menelusuri goa tersebut, selain gelap juga sangat sempit. Tapi karena aku tidak ingin menyesal dikemudian hari, aku akhirnya memberanikan diri untuk memulai pengalaman menegangkan tersebut. Di dalam goa, suasananya sangat menakutkan hingga membuatku ingin naik kembali. Sayangnya aku tidak bisa melakukannya, karena lorong yang sempit tersebut hanya bisa memuat satu orang sehingga sulit jika aku berjalan berlawanan arah. Dan aku sangat lega ketika mulai mendapati cahaya matahari.

Sebenarnya aku sempat sakit di Kediri, tapi aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan sehingga aku harus tetap semangat. Satu lagi bonus yang ada di Kediri, jajanannya sangat murah membuat aku tak mau melewatkan jajanan apa pun. Aku tidak hanya menikmati pemandangan saja melainkan menikmati kuliner yang ada.

Di Kediri, aku hanya menghabiskan uang kurang lebih sebanyak Rp 1.500.000 ribu selama sebulan. Mulai dari uang tiket kereta pulang-pergi, bayar kosan, pendaftaran kursus, oleh-oleh, jalan-jalan dan jajan. Satu hal yang aku pelajari di sana, biaya hidup di Jakarta sangat berbeda dengan di Kediri. Kediri memberikan kesan yang membuat kita rindu sehingga membuat orang tak bosan berkunjung lagi.