Jazz pun Semakin Muda

0
496

Tiga volunter Kompas Muda terpilih untuk menonton dan meliput Jakarta International BNI Java Jazz Festival 3-5 Maret 2017. Mereka adalah Abigail Aurellia dari Penabur Secondary School Tanjung Duren, Jakarta;  Falih Friyan Aqil dari SMAN 2 Tangerang; dan Andaradisha Getaya dari SMAN 100 Jakarta.

Abigail dan Falih menjadi volunter reporter Kompas Muda, sedangkan Andaradisha menjadi volunter fotografer Kompas Muda.

Nah, ini dia nih tulisan Abigail dan Falih serta foto-foto Andaradisha yang oke punya. Silakan pantengin.

Foto: Andaradisha Getaya
Teddy Adhitya in action.

Jazz pun Semakin Muda

Zaman semakin berkembang, refrensi musik baik lokal maupun mancanegara semakin mudah untuk didapat. Jazz bukan lagi musik yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang berumur, yang muda pun tak mau ketinggalan. Hal tersebut lah yang mendorong anak-anak muda semakin tertarik oleh musik jazz, telihat dari antusiasme mereka untuk datang ke Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2017.

Java Jazz Festival (JJF) menjadi magnet bagi mereka para pencinta jazz. JJF 2007 mengemas acara mereka dengan cara yang lebih keren dan sedikit berbeda. Tak ingin terkesan mengotak-ngotakan genre, JJF tahun ini tak hanya berisikan musisi-musisi jazz, tetapi terdapat juga musisi seperti penyanyi pop Afgan, band rock asal Jakarta  BARASUARA dan musisi lintas genre lainya. Hal tersebut semakin memberi warna dalam festival musik ini.

“Genre musik lebih bervariatif, beda dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar Tantya (17), siswi asal SMAN 87 Jakarta saat sedang asyik menonton Gugun Blues Shelter di Transvision Stage pada Sabtu (4/3/2017) malam. Menurut siswi penyuka band-band Indonesia ini, JJF kali ini memberikan kesempatan penonton untuk turut serta melihat penampilan musisi lintas genre.

Pendapat yang dilontarkan oleh tiga siswa asal SMAN 71 Jakarta yaitu Daniel Dandi(16), Arsa Maradinata(16), dan Sadrach Othniel(17) juga menunjukan antusiasme mereka, terlebih lagi salah satu dari mereka sudah lima tahun berturut-turut menyaksikan event JJF ini. “Tiketnya sangat worthed untuk dibeli, banyak artis yang gue suka main hari ini,” kata Daniel, pada Sabtu (4/3/2017) malam.

“Tiket dengan student price membantu banget buat pelajar-pelajar yang mau nonton acara ini,” ujar Fuad Raharyan (21), mahasiswa semester akhir Universitas Gajah Mada yang menyempatkan diri ke Jakarta untuk menonton musisi idolanya.  “Udah lima kali gue nonton acara ini, selalu ada yang baru dan bikin gue tertarik,” tambahnya.

Kemeriahan JJF tahun ini tidak terlepas dari yang namanya media sosial (medsos). Mendokumentasikan musisi idola lalu meng-upload-nya ke medsos menjadi kesenangan  tersendiri bagi mereka. Terlebih lagi apabila sang musisi baru beberapa kali singgah di Indonesia. Gawai pun tak akan pernah lepas dari genggaman mereka. Ada yang asyik menonton ada pula yang asyik merekam. Masing-masing punya caranya tersendiri untuk menikmati penampilan sang musisi.

“Medsos penting banget! Update mulai dari Snapchat, Instagram, sampai Path,” ujar Retno Novitasari Sella(18) siswi SMAN 12 Tangerang Selatan saat ditemui ketika menonton penampilan Sergio Mendes di Hall D2. Menurutnya medsos bisa dijadikan ajang “pamer” ke teman-teman sebayanya. Retno mengaku bahwa ini adalah tahun ke duanya hadir di JJF. Meski begitu ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menonton musisi-musisi yang menjadi headline disini, ujar penyuka Incognito ini.

Kontribusi JJF bagi para musisi muda pendatang baru juga tidak kalah besar loh! Bagi mereka dapat bermain di salah satu event jazz terbesar di asia tenggara ini merupakan kesempatan berharga yang sangat ditunggu-tunggu. Memang dari tahun ketahun JJF memberi tempat khusus bagi mereka para musisi pendatang baru untuk unjuk gigi di atas panggung mereka. Terlebih lagi dengan jumlah penonton yang massive tentu akan menjadi pengalaman tersendiri bagi para musisi tersebut.

“Peranan Java Jazz bagi para musisi baru adalah membuka jalan bagi mereka untuk masuk ke dalam pasar-pasar tertentu, maka dari itu event seperti sangat ditunggu bagi mereka,” ungkap Kunto Aji Wibsono(30) atau kerap disapa Kunto Aji pada saat sedang menyaksikan penampilan salah satu musisi pendatang baru yaitu Teddy Adhitya di Gazebo Stage Sabtu (4/3/2017) Sore.

Kunto Aji merupakan musisi lokal yang ikut meramaikan event JJF tahun ini. “Bahkan enggak sedikit musisi senior yang ingin tampil di acara ini,” tambahnya.

Nampaknya event tahunan yang diselengarakan oleh Java Festival Production ini selalu memberi kesan baik bagi para penonton maupun musisi muda yang terlibat di dalamnya. Terlebih lagi beberapa dari mereka pun sudah memasukan JJF sebagai agenda tahunan wajib mereka.

(Falih Friyan Aqil – SMAN 2 Tangerang)