Nasi Bodrex Kompas/Agus Susanto

Tabrak Rasa Banyuwangi

Banyuwangi, kota di ujung paling timur Pulau Jawa, menyimpan kejutan rasa. Racikan tabrak menunya selalu menumbuhkan petualangan rasa. Pecel dipadukan dengan rawon menghasilkan pecel rawon, lalu rujak cingur dikawinkan dengan soto menjadi rujak soto. Ada pula nasi tempong yang bakal menampar lidah hingga sajian dengan nama aneh seperti nasi bodrex dan nasi cawuk.

Mari kita mulai dengan menyantap nasi bodrex. Nasi bodrex ini mirip-mirip dengan nasi kucing yang biasa disajikan dalam wujud bungkusan berlapis kertas koran di angkringan ala Yogyakarta. Bedanya, ragam lauk pada nasi bodrex lebih banyak, seperti kering tempe, bihun, potongan ayam, lalu sambal. Sebungkus nasi bodrex yang sangat mengenyangkan ini hanya dijual Rp 5.000.

Menjelang malam, penjual nasi bodrex bisa dijumpai di seluruh penjuru kota. Salah satu penjualnya adalah seorang anak muda dengan dandanan rapi ala cowok masa kini, Erwin (29), yang mulai membuka warung nasi bodrex pukul 17.00-02.00 dini hari. ”Nasi bodrex buatan ibu. Kudu kuat melek. Bisa laku 100 bungkus per malam,” kata Erwin, yang sudah generasi ketiga mengelola warung nasi bodrex di Jalan Kolonel Sugiono itu.

Kebanyakan yang nongkrong menikmati nasi bodrex di warung itu memang para remaja. Sembari ngobrol atau memainkan gitar menyanyikan lagu-lagu berbahasa daerah Banyuwangi, bahasa using, mereka menghangatkan malam dengan menyeruput susu anget, teh anget, atau kopi susu. Selain anak muda, orang tua biasanya memilih membawa pulang nasi bodrex untuk disantap bersama keluarga. ”Pembelinya semua kalangan,” tambah Erwin.

Kenapa disebut nasi bodrex? Ada beberapa versi terkait penamaannya yang menyerupai merek salah satu obat sakit kepala itu. Menurut Erwin, disebut nasi bodrex karena harganya sama dengan sekeping obat sakit kepala. Beda lagi, kata salah satu pelanggan Roni yang menganggap nama bodrex berasal dari kebiasaan konsumen makan nasi bungkus sebelum minum obat sakit kepala.

Apa pun alasannya, sebungkus nasi bodrex seharga Rp 5.000 ini memang menjadi primadona di Banyuwangi. Tak heran jika Erwin tak berkeberatan meneruskan usaha turun-temurun berjualan nasi bodrex di keluarganya yang dimulai dari sang nenek Juhariah lalu diteruskan ibunya, Aliyah.

Nasi Bodrex Kompas/Agus Susanto
Nasi Bodrex
Kompas/Agus Susanto

Serasa ditampar

Nasi khas Banyuwangi lainnya yang mudah dijumpai kala malam adalah nasi tempong. Nasi tempong atau sego tempong ini juga menjadi primadona bersantap malam. Sepiring nasi tempong panas dengan lauk super lengkap, seperti aneka sayuran rebus, gorengan tahu-tempe, ikan asin, dadar jagung, dan dilengkapi sambal mentah super pedas, ini dihargai tak lebih dari Rp 10.000 per piring porsi besar.

Tak heran jika warung-warung nasi tempong di berbagai sudut Banyuwangi selalu laris diserbu penggemarnya. Salah satu warung nasi tempong yang cukup tersohor adalah nasi tempong Mbok Nah yang juga beralamat di Jalan Kolonel Sugiono. Setiap hari warung ini buka dari pukul 16.00 hingga tengah malam.

Meskipun pembeli mengular di jam makan malam, pelanggan tak perlu antre lama. Pelayan sangat sigap melayani pesanan. Nasi panas segera dihidangkan di piring rotan beralas kertas minyak. Dengan cekatan, sayuran seperti kacang panjang, kangkung, sawi, selada, genjer, daun singkong, bayam, dan daun pepaya, ditata sebelum ditaburi kemangi segar serta potongan timun.

Piring yang menghijau oleh beragam sayur segar segera disiram dengan sambal mentah dalam porsi banyak. Pelayan segera menawarkan aneka pilihan lauk, seperti empal, telur, aneka jeroan, ayam goreng, dan aneka ikan. Yang teristimewa dari nasi tempong ini terletak pada racikan sambal mentahnya yang super pedas. Saking pedasnya, serasa ditempong atau ditampar.

Kebanyakan masakan ala Banyuwangi memang disajikan berdasarkan pembagian waktu makan yang berbeda. Jangan coba-coba mencari menu makanan malam di pagi hari, demikian pula sebaliknya karena bakal sulit dijumpai. Jika nasi tempong dan nasi bodrex hanya dijual pada malam hari, masyarakat Banyuwangi biasanya menyantap nasi cawuk untuk sarapan, lalu aneka masakan segar, seperti rujak soto dan pecel rawon, pada siang harinya.

Menu sarapan nasi cawuk yang pedas segar hanya dijual hingga maksimal pukul 10.00. Nasi cawuk merupakan nasi dengan kuah santan kelapa muda, jagung muda yang dibakar dan campuran timun serta dibumbui cabai, bawang merah, bawang putih, dan sedikit asam. Cawuk sendiri berasal dari istilah Using ketika makan dengan tangan.

Nasi Mawut Bar-bar Kompas/Agus Susanto
Nasi Mawut Bar-bar
Kompas/Agus Susanto

Percaya diri

Panasnya terik matahari Banyuwangi juga dengan mudah dikalahkan oleh kesegaran aneka menu yang hanya dijumpai di Banyuwangi, seperti pecel rawon dan rujak soto. Pecel rawon merupakan percampuran dari nasi pecel yang terdiri dari bahan sayuran dengan bumbu kacang berpadu dengan kuah rawon.

Warung yang menyediakan pecel rawon dengan mudah bisa dijumpai di Banyuwangi, salah satu di antaranya Pecel Ayu di Jalan Laksda Adisucipto. Piring ditata dengan urutan pertama nasi dan aneka sayuran rebus sebelum kemudian diguyur dengan kuah rawon lalu sambal pecel dicampurkan pada urutan terakhir. Meskipun awalnya terasa aneh menyaksikan penampakan pecel yang dibanjiri kuah rawon, rasanya ternyata mudah diterima di lidah.

Selain pecel rawon, menu tabrak rasa ala Banyuwangi lainnya adalah rujak soto seperti yang disajikan di Warung Soto Pak Salim. Tak kalah aneh dengan pecel rawon, rujak soto merupakan perpaduan antara rujak cingur dan kuah soto babat. ”Percampuran menu ini juga wujud sinkretisme budaya di Banyuwangi. Rujak cingur asal Sidoarjo digabung dengan soto madura jadi rujak sotonya Banyuwangi. Ngawur, saya maunya begini mau apa, tapi ini Banyuwangi,” kata budayawan Banyuwangi Hasnan Singadimayan.

Persentuhan dengan budaya asing bukan sesuatu yang baru bagi orang Banyuwangi. Daerah ini dulu menjadi wilayah Kerajaan Hindu Blambangan, lalu diperebutkan Kerajaan Jawa Mataram, kerajaan Hindu Bali, Madura, Belanda, hingga Inggris dari abad ke-17 sampai ke-19. Hibridisasi kebudayaan, kata Hasnan, membuat orang Banyuwangi selalu tampil percaya diri, termasuk ketika mengolah resep masakannya.

Mawar Kusuma


 

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Oktober 2016, di halaman 30 dengan judul “KULINER banyuwangi”.