Rasa Baru Tiga Dara

0
778

Pesona film musikal klasik ”Tiga Dara” rupanya tidak berhenti setelah direstorasi dan ditayangkan kembali di layar lebar. Kisah persaudaraan tiga kakak-beradik dalam balutan lagu-lagu dan tarian menjelma lagi dalam cerita yang lebih modern dan kompleks lewat film ”Ini Kisah Tiga Dara”.

Ini Kisah Tiga Dara besutan produser dan sutradara Nia Dinata memang terinspirasi oleh Tiga Dara karya sineas legendaris, Usmar Ismail, yang dibuat tahun 1956. Bagi mereka yang telah menonton kedua film itu, tampak jelas benang merahnya. Ada beberapa adegan yang bisa dibilang mirip, tetapi karakter, jalan cerita, sekaligus napas zamannya memang berbeda.

”Dari kecil aku sudah sering menonton (Tiga Dara). Di TVRI dulu sering diulang-ulang. Ketika itu aku umur 10 atau 11 tahun, sekitar akhir tahun 1970. Jadi, nempel banget, lengket di ingatan,” ujar Nia.

Itu juga yang membuat Nia begitu lancar membuat skenario Ini Kisah Tiga Dara. Hanya perlu waktu enam bulan—dari biasanya setahun atau lebih—untuk menyelesaikan skrip dan mulai mengambil gambar. Inspirasinya begitu kuat, lanjut dia, sehingga cerita bisa mengalir lancar.

Kisah Tiga Dara - Tara Basro (Ella), Shanty Paredes (Gendis), dan Tatyana Akman (Bebe) di salah satu scene musikal di set Pasar Geliting, Maumer. Arsip Kalyana Shira Film 02-09-2016
Kisah Tiga Dara – Tara Basro (Ella), Shanty Paredes (Gendis), dan Tatyana Akman (Bebe) di salah satu scene musikal di set Pasar Geliting, Maumer.
Arsip Kalyana Shira Film
02-09-2016

Film Tiga Dara menceritakan tentang Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya), dan Nenny (Indriati Iskak). Film Ini Kisah Tiga Dara menyajikan cerita Gendis si anak pertama yang diperankan Shanty Paredes, Ella si anak tengah diperankan Tara Basro, dan Bebe si bungsu yang diperankan pendatang baru, Tatyana Akman. Ketiganya diboyong sang ayah, Krisna (Ray Sahetapy) bersama nenek mereka, Oma (Titiek Puspa), dari Jakarta untuk mengelola hotel keluarga di Maumere, Flores.

Gendis digambarkan sebagai perempuan yang sangat mandiri, keras kepala, dan mencurahkan hidup sepenuhnya untuk minatnya pada dunia kuliner. Ella lebih supel dan ramah serta memilih memimpin bagian public relations dan marketing hotel. Adapun Bebe berkarakter bebas, penuh letupan gairah masa muda, dan membuat Oma khawatir karena pergaulannya dengan turis asing tamu hotel, Erick (Richard Kyle).

Mirip seperti tokoh Nenek dalam Tiga Dara, Oma juga galau karena Gendis di usianya yang ke-32 belum juga menikah. Dia pun melakukan segala upaya untuk mendapatkan jodoh bagi cucu tertuanya. Pilihannya jatuh pada Yudha (Rio Dewanto), pengusaha muda. Ella, yang sebenarnya punya pengagum, Bima (Reuben Elishama), juga ingin mendapatkan Yudha.

Cerita kemudian berpusar pada cinta keempat orang ini, dibumbui dengan konflik dan kemesraan. Bumbu indah lainnya adalah pemandangan alam Flores nan memukau dan kekayaan budaya setempat yang hadir dalam kain tenun, tarian adat, dan kehidupan sehari-hari di pasar tradisional.

Tersirat semacam sindiran atas kondisi sosial budaya kita saat ini. Misalnya, tentang kemacetan Jakarta, kesetaraan pria dan wanita, serta perbedaan cara pandang antargenerasi.

Nia menuturkan, napas zaman menjadi pembeda utama antara Tiga Dara dan Ini Kisah Tiga Dara. ”Di film ini, tiga kakak beradik itu masing-masing punya cita-cita, mimpi, karier, dan hal-hal yang mereka prioritaskan di luar mencari jodoh,” tuturnya.

Menurut Nia, tujuan pembuatan film Ini Kisah Tiga Dara ini supaya karakter tiga kakak beradik yang kompak, pemberani, dan independen terus diingat sepanjang masa, khususnya oleh para perempuan yang percaya bahwa menjadi perempuan harus mandiri atau oleh laki-laki yang percaya bahwa perempuan bisa mengambil keputusan sendiri.

"Kisah Tiga Dara" - Shanty Paredes (Gendis), Tara Basro (Ella), Titiek Puspa (Oma) dan Tatyana Akman (Bebe). Arsip Kalyana Shira Film 02-09-2016
“Kisah Tiga Dara” – Shanty Paredes (Gendis), Tara Basro (Ella), Titiek Puspa (Oma) dan Tatyana Akman (Bebe).
Arsip Kalyana Shira Film
02-09-2016

Suara asli

Sama seperti Tiga Dara, film Ini Kisah Tiga Dara juga merupakan film musikal. Namun, proses pembuatannya berbeda. Di film yang dulu, penyanyi bukan si pemeran melainkan diisi penyanyi lain lewat sistem dubbing. Di film ini, aktor dan aktrisnya menyanyi dan menari sendiri. Suaranya asli suara mereka meskipun di studio diperbaiki lagi.

Prosesnya menjadi lebih repot karena proses rekaman dua kali. Rekaman dilakukan di lokasi pengambilan gambar dengan membawa pengeras suara untuk memutar musiknya. Lalu setelah proses editing selesai, rekaman dilakukan kembali menggunakan orkestra agar hasil suaranya maksimal untuk pemutaran di bioskop.

Musik digarap Aghi Narottama dan Bemby Gusti, sedangkan lirik ditulis Nia sendiri. Jika pada film Tiga Dara rasa musik lebih banyak swing dan Melayu, lagu-lagu dan musik pada Ini Kisah Tiga Dara lebih banyak bernuansa jazz ringan, balada, dan pop dengan beat yang lebih rancak.

Ada dua lagu dalam film lama yang dinyanyikan dalam Ini KisahTiga Dara dengan aransemen ulang yang lebih modern, yakni ”Tiga Dara” dan ”Senandung Lagu Lama”.

Kisah Tiga Dara - Titiek Puspa (Oma) bersama anaknya, Krishna (Ray Sahetapy). Arsip Kalyana Shira Film 02-09-2016
Kisah Tiga Dara – Titiek Puspa (Oma) bersama anaknya, Krishna (Ray Sahetapy).
Arsip Kalyana Shira Film
02-09-2016

Bermain film musikal juga menjadi tantangan tersendiri bagi para aktor dan aktrisnya karena banyak di antara mereka yang baru pertama kali bermain film musikal. Shanty tidak banyak mengalami kesulitan karena dia juga dikenal sebagai penyanyi. Dengan latihan berminggu-minggu, para pemeran lain pun bisa menyanyi dan menari dengan baik.

Ketiga dara itu berkesempatan menyanyi solo. Shanty menyanyikan ”Anak Dara”, Tara membawakan ”Nomor Dua”, dan Tatyana membawakan ”Vowel Song”. Ketiganya lalu beradu menyanyi dengan Titiek Puspa dalam lagu ”Matriarch”, yang menggambarkan kecintaan cucu-cucu itu kepada neneknya meskipun sang nenek galak, suka mengatur, dan berbeda prinsip hidup. Titiek Puspa masih terlihat energik dan bersinar dalam film ini.

Pada akhirnya, Nia berpesan agar penonton tidak terlalu banyak berpikir tentang film ini. Meskipun banyak harapan di dalamnya, Ini Kisah Tiga Dara tetap bisa segar dan menyenangkan. Jadi, nikmati saja.

FRANSISCA ROMANA NINIK


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 September 2016, di halaman 20 dengan judul “Rasa Baru Tiga Dara”.