Beberapa penumpang terlihat terburu-buru membeli tiket di Pelabuhan Yeouido, kota Seoul, Korea Selatan. Seusai bertransaksi di loket, mereka langsung berlari menuju kapal Evitania. Awak kapal dengan ramah mengajak mereka bergegas. Kurang dari lima menit kemudian, Evitania bertolak.

Kapal angkat sauh dan mulai mengarungi Sungai Han sekitar pukul 17.00. Atas undangan perusahaan global, Samsung Electronics, saya dan beberapa jurnalis dari Indonesia berkesempatan berkunjung ke Korsel, termasuk menyusuri Sungai Han, akhir Juli 2016.

Cuaca pada musim panas itu sungguh cerah. Terik matahari telah pudar menjelang datangnya petang. Seorang anak buah kapal (ABK) menerangkan cara mengenakan pelampung. Baru beberapa menit mengarungi Sungai Han, sejumlah camar terbang mengiringi kapal dan berkaok-kaok dengan bisingnya.

Wisatawan dibuat bertanya-tanya, apa gerangan yang dicari burung-burung itu. Beberapa camar santai bertengger di atap kapal yang tak diacuhkan awak kapal. Sebagian pengunjung menduga-duga, kawanan camar tersebut berburu ikan yang berenang mengikuti kapal.

Belakangan, ulah para camar diketahui. Tawaran kepada wisatawan untuk membeli makanan camar menggema melalui pengeras suara. Rupanya camar-camar itu mengincar anchovy (ikan bilis). Harga sekantong pakan tersebut 1.000 won atau setara Rp 140.000 dengan berat sekitar 250 gram.

Sejumlah wisatawan menikmati pemandangn saat menyusuri Sungai Han yang melewati Seoul, Korea Selatan, akhir Juli 2016. Sementara, di permukaan sungai itu, beberapa camar berebut makanan yang dilemparkan wisatawan. Kompas/Dwi Bayu Radius (BAY) 31-07-2016
Sejumlah wisatawan menikmati pemandangn saat menyusuri Sungai Han yang melewati Seoul, Korea Selatan, akhir Juli 2016. Sementara, di permukaan sungai itu, beberapa camar berebut makanan yang dilemparkan wisatawan.
Kompas/Dwi Bayu Radius (BAY)
31-07-2016

Anak-anak terlihat membeli anchovy di lantai dasar kapal. Gumpalan ikan yang dilemparkan wisatawan sontak membuat burung-burung itu berebut anchovy. Pertarungan sengit di udara dan air pun tak terelakkan. Itulah daya tarik susur Sungai Han selain melihat pemandangan bantaran Seoul.

Adu kaki, jerit camar, kepak sayap, dan paruh mewarnai kegaduhan. Beberapa penumpang terpekik dan tertawa kecil menyaksikan aksi para camar. Wisatawan lain mengabadikan momen itu dengan kamera saku atau telepon seluler. Terlihat sekitar 50-an camar yang siap mencaplok anchovy.

Seorang ibu yang mencoba memberikan anchovy spontan menjerit seraya cekikikan saat seekor camar menyambarnya. Potongan anchovy yang tak didapatkan di udara akan diburu hingga ke permukaan sungai dan laga para camar masih berlanjut.

Pakan bisa dilontarkan dari geladak atas dan dek samping. Awak kapal mengimbau wisatawan untuk tidak memberikan makanan sembarangan karena bisa membuat camar sakit. Di geladak atas juga tersedia beberapa meja dan kursi untuk duduk sambil mengobrol santai.

Sementara di dek samping, beberapa wisatawan berfoto dengan latar belakang kawanan camar. Bagian lain yang menjadi tempat favorit untuk berswafoto adalah haluan kapal. Pemandangan lain yang patut diabadikan adalah gedung-gedung menjulang di pinggir sungai.

Bangunan yang terlihat, misalnya, gedung Parlemen Korsel dengan kubah hijau yang khas dan pilar-pilar megahnya. Selain itu, Saebit Dungdungseom yang berarti pulau terapung juga tampak. Tempat itu terkenal karena menjadi salah satu lokasi shooting film para pahlawan super, Avengers: Age of Ultron.

Kapal juga melewati jembatan-jembatan besar. Salah satunya, Banpo atau jembatan pelangi, termasuk infrastruktur utama yang membentang di atas Sungai Han. Saat malam hari, pemandangan tak kalah cantik dengan kelap-kelip lampu gedung yang terpantul di permukaan sungai.

Jika enggan berjalan-jalan di luar, wisatawan bisa duduk di ruang utama yang berpendingin udara dengan kapasitas sekitar 150 orang. Di kantin kecil di sudut tempat itu tersedia makanan kecil, seperti sosis, keripik rumput laut, dan kacang mete.

Lagu-lagu santai berbahasa Korea yang mengalun dari musisi setengah baya dengan gitarnya membuat suasana kian rileks. Setiap hari, terdapat sembilan jadwal perjalanan dengan lama sekitar 40 menit hingga 1,5 jam. Susur Sungai Han terdiri atas beberapa paket perjalanan.

Beberapa wisatawan menikmati pemandangan di sekitar Sungai Han berupa jembatan dan gedung pencakar langit di Seoul, Korea Selatan, akhir Juli 2016. Minat wisatawan menyusuri Sungai Han semakin tinggi jika ada festival yang berlangsung di Seoul. Kompas/Dwi Bayu Radius (BAY) 31-07-2016
Beberapa wisatawan menikmati pemandangan di sekitar Sungai Han berupa jembatan dan gedung pencakar langit di Seoul, Korea Selatan, akhir Juli 2016. Minat wisatawan menyusuri Sungai Han semakin tinggi jika ada festival yang berlangsung di Seoul.
Kompas/Dwi Bayu Radius (BAY)
31-07-2016

Harga tiket mulai 12.000 won atau sekitar Rp 180.000 per orang untuk susur sungai saja hingga paling tinggi 75.000 won atau sekitar Rp 1,1 juta per orang yang dilengkapi santap menu makan malam mewah sepuasnya yang disajikan secara buffet serta pertunjukan kembang api.

Pelabuhan Yeouido berada di tepi taman yang luas. Beberapa warga asyik bersepeda, sementara pengunjung lain menggelar alas. Sepeda bisa disewa dengan tarif sekitar 5.000 won atau sekitar Rp 75.000 per jam. Beberapa pasangan memadu kasih di taman itu.

Pernah kotor

Gahee Kim (27), warga Korsel yang bekerja sebagai pemandu wisata, mengatakan, susur Sungai Han menjadi salah satu andalan pariwisata Seoul. ”Banyak wisatawan yang tertarik menyusuri Sungai Han dengan kapal. Biasanya, sungai yang melewati ibu kota negara ukurannya sedang, bahkan kecil,” katanya.

Tak heran, Han merupakan sungai ternama di dunia karena besarnya. Han juga memegang peranan penting dalam sejarah Korsel pada masa kerajaan dengan menjadi tulang punggung jalur transportasi. Sungai itu menjadi rebutan beberapa kerajaan hingga memicu perang.

Han adalah sungai besar yang membelah Seoul. Mirip Ciliwung di Jakarta, tetapi Han jauh lebih besar dengan lebar lebih dari 1 kilometer (km) dan panjang sekitar 500 km. Sebagian wisatawan yang baru melihat Sungai Han mungkin menyangkanya sebagai laut.

Kim yang fasih berbahasa Indonesia mengatakan, Sungai Han dulu sangat kotor. Maklum, saat Korsel baru tercabik kecamuk perang dengan Korea Utara yang usai pada tahun 1953, ditambah masih banyaknya penduduk miskin membuat mereka membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai-sungai.

Namun, seiring kemajuan Korsel yang amat pesat dan meningkatnya taraf pendidikan masyarakat, hasrat untuk memiliki sungai yang bersih pun terwujud. ”Warga saling mengawasi. Kalau ada yang membuang sampah sembarangan, warga akan melaporkannya,” ujar Kim.

Seorang musisi menghibur penumpang kapal saat menyusuri Sungai Han yang membelah Seoul, ibu kota Korea Selatan, akhir Juli 2016. Penumpang yang enggan berkeliling kapal bisa menikmati lagu-lagu santai berbahasa Korea di ruang  berpendingin udara. Kompas/Dwi Bayu Radius (BAY) 31-07-2016
Seorang musisi menghibur penumpang kapal saat menyusuri Sungai Han yang membelah Seoul, ibu kota Korea Selatan, akhir Juli 2016. Penumpang yang enggan berkeliling kapal bisa menikmati lagu-lagu santai berbahasa Korea di ruang berpendingin udara.
Kompas/Dwi Bayu Radius (BAY)
31-07-2016

Shinta (41), wisatawan dari Indonesia, mengatakan, perjalanan di Sungai Han dengan pemandangan yang indah sangat mengesankan. ”Saya duduk di lantai atas yang terbuka. Pandangan jadi luas. Ada tempat duduk. Saya bisa mengobrol santai dengan kawan-kawan,” katanya.

Sambil menghirup udara segar, Shinta bisa melihat camar-camar yang melayang dengan cantiknya. Tepi sungai berupa padang rumput yang hijau juga menyegarkan mata. ”Taman di tepi sungai bersih dan rapi, lengkap dengan taman bermain anak. Bisa piknik dan sewa sepeda juga,” ujarnya.

Menurut Kartika Yunianto (40), warga Indonesia yang bermukim di Korsel dan sesekali menjadi pemandu wisata, susur sungai sangat diminati jika ada festival digelar. Acara itu, misalnya, Festival Kembang Api Internasional Seoul setiap Oktober.

”Padahal, udara musim gugur cukup dingin, tetapi penonton sudah berkumpul sejak siang untuk mendirikan tenda di lokasi strategis,” katanya.


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Agustus 2016, di halaman 23 dengan judul “Tarung Camar di Sungai Han”.