Menguak Kegagapan Generasi Kekinian

0
995

Penggunaan teknologi sekarang ini tidak ada bedanya dengan kita bernapas. Sampai-sampai kita susah untuk membedakan antara dunia nyata dan dunia maya yang sehari-hari kita jalani karena saking asyiknya kita berselancar di media sosial.

Ada orang-orang yang kebahagiaannya tergantung dengan seberapa jumlah Like di Facebook, jumlah follower di Twitter, dan seberapa eksisnya di dunia maya. Novel karya Okky Madasari ini menguak kegagapan generasi kekinian. Mereka memang hebat dalam menggunakan teknologi, tetapi gagap menghadapi kenyataan.

Pemilihan judul ”kerumunan” sebagai ungkapan Okky dalam merumuskan media sosial merupakan bentuk kerumunan yang jika dimanfaatkan dengan baik akan menimbulkan kekuatan bersama yang baik pula. Novel ini menjadi novel Indonesia pertama yang membahas serius tentang teknologi dan media secara mendalam dari sisi kemanusiaannya.

Okky mengisahkan tentang seorang lelaki bernama Jayanegara yang melarikan diri dari nilai-nilai yang membesarkan ayahnya, seorang ilmuwan politik. Ia melarikan diri ke dunia baru, dunia maya. Mengganti identitasnya dengan mengubah nama menjadi Matajaya di media sosial, ia berusaha menggusur otoritas ayahnya di dunia nyata dengan peralatan di dunia maya. Tak hanya membicarakan sekelumit persoalan domestik rumah tangga, tetapi ia juga melebar berbicara pada persoalan dirinya sebagai warga dunia.

Matajaya lahir dari keluarga broken home dengan ayah mata keranjang, hobinya main perempuan sana-sini. Di tengah pergulatan hidupnya yang serba setengah-setengah, dia menemukan tempat pelarian lewat media sosial. Tak disangka lewat akun-akun media sosial yang dimilikinya dia membangun sosok baru dan sukses menjadi seleb Facebook. Semakin hari Matajaya semakin larut akan dunia maya yang dia bangun dan lama-lama gamang akan dunia nyata yang sebenarnya ada. Sampai suatu hari, dunia nyata dan dunia maya yang dia bangun saling bertabrakan.

Dunia yang Dilipat

Novel ini terbagi dalam tiga dunia, di mana pada dunia pertama, membahas tentang derap tanpa arah, tertinggal dan terbuang, lompatan-lompatan waktu, dan kegagapan-kegagapan itu.

Mari kita simak kutipan novel berikut ini: Kota ini dan Jakarta memang hanya berjarak satu malam perjalanan. Tapi sesungguhnya, ada jarak yang lebih jauh: jarak antara masa lalu dan masa yang baru, antara yang usang dan yang gemerlapan, antara yang perlahan dan yang penuh ketergesaan, antara aku yang ingin menahan waktu dan dia yang terus berjalan maju.(hal 55) Kita tahu dengan internet, semua terasa sangat dekat, tapi sebenarnya jauh jaraknya. Dengan internet, dunia dapat kita lipat.

Dunia kedua, membahas tentang kematian-kematian kecil, dewa-dewa baru, keliaran-keliaran, di antara jebakan-jebakan, dan lorong yang kian bising.

Dari satu kerumunan ke kerumunan lainnya: kehidupan dan kematian, kekaguman dan kekecewaan, primadona dan musuh bersama.

Aku bukan lagi pengunjung yang hanya datang untuk melihat-lihat. Aku sudah hidup di sini. Di dunia baru yang penuh rasa ingin tahu ini. Aku bisa merasakan setiap detak kehidupannya, aku ikut terlibat dalam emosi kesehariannya, aku mengagumi dan membenci seseorang selayaknya rasa kagum dan benci yang telah kukenal sejak masih bayi.

Ini adalah dunia yang sama sekali tak membutuhkan kita bersetia. Orang bisa datang dan pergi sesuka mereka, masuk ke kerumunan, sekadar mengamati dan berkenalan, lalu pergi begitu saja karena ada kerumunan baru yang suaranya lebih nyaring terdengar (hal 103).

Terakhir, dua dunia bermuara, yang membahas tentang batas yang menjauh, yang nyata yang fana, dan bukan akhir dunia.

Aku memejamkan mata, tak mau melipat apa-apa, tak mau dilihat siapa-siapa. Jari-jariku bergerak cepat, menyelusuri lorong-lorong yang disesaki manusia itu, menyebarkan kisah Ibu hingga ke sudut-sudut paling jauh yang bisa kujangkau. Lalu aku segera lari cepat-cepat tanpa menoleh pada siapa pun yang memanggilku. Aku keluar dari dunia itu dengan nafas tersengal-sengal. Segera kumatikan komputer, lalu kuajak Ibu meninggalkan warnet itu (hal 338). Tampak sekali ada kegagapan Jayanegara yang sudah mengganti identitasnya di media sosial dan kini bernama Matajaya. Ia bisa cepat menguasai teknologi, tetapi gagap menghadapi kenyataan sebenarnya yang dialaminya.

Okky menulis novel ini dengan bahasa yang lancar, tetapi cenderung liar. Ia memang mampu membebaskan keakuan dirinya dari penulis wanita untuk menyelami tokoh utama lelaki yang ditulisnya. Hanya saja kadang ia terlalu asyik dengan dirinya sendiri, sering tak memedulikan pembaca tetap bisa mengikuti alur ceritanya atau tidak. Tampaknya tak hanya tokoh rekaannya yang gagap, tetapi juga penulisnya sering gagap, apalagi dunia lelaki yang belum sepenuhnya dikuasainya. Alhasil, tokoh lelaki yang tampak terlalu feminin. Masih ada jarak penulis dengan tokoh rekaan yang ditulisnya. Bisa dikatakan penulis berani mengungkapkan tentang seks dan seksualitas, erotika dan erotisme, politik dan gosip politik, bahkan kadang cenderung kebablasan. Tapi itulah dunia dipilihnya.

Novel ini menggambarkan dengan gamblang orang-orang yang keranjingan dengan internet, media sosial dan hampir melupakan kalau kehidupan yang sebenarnya bukan di sepetak laptop ataupun smartphone yang dipeganginya. Mereka begitu terpukau dengan orang-orang yang sering disebut sebagai seleb di media sosial yang follower-nya jutaan, yang kalau dia berkomentar seolah Tuhan yang bersabda, tetapi mereka tidak tahu siapa sosok sebenarnya dia.

Membaca novel ini, mata kita jadi terbuka, seindah-indahnya dunia maya, tentu lebih indah lagi dunia nyata di mana kita bisa benar-benar berinteraksi satu sama lain.