MUSIK LAWAS: Rasa Lama pada Masa Kini

51
1542

Seminggu sebelum Indonesia merayakan ulang tahun ke-71, SA Films melepas hasil perbaikan mereka pada film musikal pertama di Indonesia, Tiga Dara. Namanya juga film musikal, lagu-lagu dalam produksi 1956 itu adalah hal penting. Film dan musiknya menggambarkan budaya pop di Indonesia pada era pemerintahan Soekarno.

Film Tiga Dara disutradarai oleh Usmar Ismail, dibintangi Mieke Wijaya, Chitra Dewi, dan Indriati Iskak. Sementara musiknya digarap oleh Saiful Bahri, Oetjin Nurhasjim, dan Ismail Marzuki.

Pada masa itu, ketenaran film ini mungkin setara dengan Ada Apa dengan Cinta, laris manis. Selama delapan minggu, filmnya jadi yang paling banyak ditonton di bioskop. Waktu itu cuma sedikit film produksi dalam negeri yang bisa diputar di bioskop kelas satu.

Tak cuma di Indonesia, film ini juga sempat diputar di Festival Film Venesia, Italia, pada 1959. Sementara aspek musik dalam film mendapat Piala Citra tahun 1960 untuk kategori penata musik terbaik. Tahun itu adalah kali pertama kategori musik masuk dalam Festival Film Indonesia.

Alex Sihar, produser SA Films, menceritakan, perbaikan atau restorasi master pita film ini dimulai SA Films sejak 2013. ”Film ini penting karena jadi catatan budaya pop terbesar Indonesia pada zamannya,” katanya. Hasil perbaikannya, film Tiga Dara ini jadi berwujud digital dengan gambar lebih tajam.

Selama proses perbaikan film, Alex bertemu dengan David Tarigan, seorang pengarsip musik Indonesia. David mengaku kepada Alex punya lima album lagu latar(soundtrack) Tiga Daraasli yang dikeluarkan oleh Dendang Records. Album-album itu berbentuk piringan hitam berbahan shellac, beda dengan piringan hitam berikutnya yang berbahan vinyl.

Mereka tertarik mencari master pita rekaman asli soundtrack supaya bisa mengedarkan lagi bersamaan dengan filmnya. Namun, selama sekitar lima bulan mencari ke sana kemari tidak ketemu. Akhirnya diputuskan, 10 lagu dalam film diaransemen ulang dan direkam.

”David (Tarigan) memberi saya lagu-lagu Tiga Dara dalam bentuk MP3. Dari situ saya bikin aransemen ulangnya,” kata Indra Perkasa (33), konduktor Orkes Gadgadasvara. Indra kebagian mengaransemen enam lagu, termasuk lagu utama ”Tiga Dara”, yang dinyanyikan oleh Aimee Saras, Bonita, dan Aprilia Apsari.

Pemusik Mondo Gascaro mengaransemen dua lagu, yaitu ”Bimbang Tanpa Pegangan” yang dinyanyikan Danilla Riyadi serta ”Senandung Lagu Lama” yang ia nyanyikan sendiri. Dua lagu lainnya, ”Lagu Gembira” digarap oleh band Deredia serta band Bonita & The Husband pada lagu ”Joget Gembira”.

David kaget dengan hasil aransemen ulang lagu-lagu itu. Lagu yang kebanyakan berirama swing itu tak kehilangan rasa aslinya, tetapi juga berasa masa kini karena digarap oleh pemusik era sekarang. Seperti Saiful Bahri, Indra Perkasa juga memoles lagu ini dengan iringan big band, lengkap dengan 13 pemusik tiup (horn) dan empat pemusik gesek (string).

Lagu ”Tiga Dara” dalam versi aslinya cenderung bertempo sedang. Di tangan Indra, lagu itu disisipi semangat baru sehingga jadi lebih cepat. Di lain lagu, vokal berat Danilla membuat tembang ”Bimbang Tanpa Pegangan”, yang aslinya dilantunkan tokoh Nana (diperankan Mieke Wijaya) sambil berpegangan di tanaman rambat itu, jadi lebih terasa kebimbangannya.

Akar musik Indonesia yang dipengaruhi corak Melayu juga tercatat baik di film ini. Dalam versi aransemen ulang, band Bonita and The Husband menambah banyak bebunyian perkusi serta akordion di lagu ”Joget Gembira”. Sementara cengkok vokal Anda Perdana pada lagu ”Tamasya” mempertahankan cita rasa Melayu lagu itu.

Pada Kamis (11/8), lagu-lagu itu ditampilkan dalam konser di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Menurut panitia, sebanyak 800 tiket habis. Sementara albumnya, Aransemen Ulang Lagu Orisinil dari Film Tiga Dara, yang diedarkan hari itu juga mendapat respons baik.

Penyanyi Indra Aziz dan Danilla tampil dalam Konser 60 Tahun Tiga Dara di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (11/8) lalu. Konser itu adalah rangkaian dari peluncuran film Tiga Dara karya Usmar Ismail yang baru saja diperbaiki oleh SA Films. Sejalan dengan itu diedarkan pula album berisi aransemen ulang lagu-lagu yang terdapat di film musikal pertama di Indonesia tersebut. Sejumlah musisi muda terlibat dalam aransemen ulang itu, seperti Mondo Gascaro, Indra Perkasa, Bonita & The Husband, Danilla, dan Deredia. Arsip Demajors 11-08-2016
Penyanyi Indra Aziz dan Danilla tampil dalam Konser 60 Tahun Tiga Dara di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (11/8) lalu.
Arsip Demajors
11-08-2016

Dari penjara

Tepat pada 17 Agustus lalu, Yes No Wave Music, label musik digital, mengedarkan album milik Dialita berjudul Dunia Milik Kita. Dialita adalah paduan suara ibu-ibu penyintas peristiwa 1965. Lagu-lagu pada album itu diciptakan dari dalam penjara Bukit Duri ataupun Plantungan dalam kurun waktu 1966 hingga 1970-an. Albun ini bisa diunduh gratis di situs yesnowave.com.

Sepuluh lagu di album ini dipoles oleh pemusik muda, seperti Frau, Sisir Tanah, Cholil Mahmud, dan kelompok Kroncongan Agawe Santosa. Mereka membuat lagu-lagu penuh semangat dan optimisme itu jadi lebih indah. Jangan salahkan kalau ada beberapa bagian yang bisa membangkitkan haru.

Lewat lagu-lagu ini, para ibu ini tegar luar biasa meskipun pernah ”dibungkam” pemerintah. Pada tembang ”Ujian”, misalnya, ketegaran itu tergambar dalam lirik ”dari balik jeruji besi, hatiku diuji, apa aku emas sejati, atau imitasi”. Lagu itu gubahan seorang guru Situ Jus Djubariah yang dipenjara pada 1965 hingga 1978. Leilani Hermiasih atau Frau mengiringi lagu itu dengan piano.

Pengantar album yang ditulis Arman Dhani menuliskan, lagu ”Ujian” jadi pemberi semangat bagi tahanan politik dalam menjalani hari-hari mereka. Semangat itu terdengar dalam lagu ”Taman Bunga Plantungan”. Para tahanan perempuan di Plantungan merawat taman di tahanan yang awalnya adalah bangunan rumah sakit penderita lepra pada masa penjajahan Belanda itu.

Lewat dua album itu, musik menabalkan perannya sebagai pencatat sejarah era tertentu selain sebagai sarana penghiburan. Semangat dan optimisme penciptanya bisa ditularkan kepada generasi berikutnya di tangan pemusik muda.