Irama Batik Madura

0
1430

Batik madura bukan cuma keindahan, melainkan juga cerminan watak Madura. Keberanian dan ketegasan orang Madura memunculkan warna-warna berani. Berevolusi lewat adukan beragam budaya, batik madura adalah cermin karakter dinamis, egalitarian, kesukaan untuk serba praktis, sekaligus keinginan meluap-luap untuk ”eksis” dengan tampil berbeda.

Minggu (6/3) pagi masih biru ketika Abdul Asis (45) menggelar tikar di lantai bangunan tak berdinding di Pasar Batik 17 Agustus, Pamekasan. Pelan ia menatap bertumpuk-tumpuk kain batik di atas tikarnya, juga menjereng beberapa batik pilihan di tali-tali menegang di antara tiang los pasar.

Abdul piawai merayu, memaksa pembeli membeli batik-batik karyanya, juga kain-kain batik buatan istrinya, saudara iparnya, kakak perempuannya, dan adiknya. ”Mencari batik seperti apa? Ini murah Rp 40.000,” kata Abdul membuka lipatan kain batik berwarna kuning terang, meriah oleh motif dan imbuhan warna-warna terang.

”Atau mau kain yang bagus, ini, ini saja,” ujar Latifah, kakak perempuan Abdul, membeberkan kain batik lain, yang bermotif rumit, halus nan rapi. Kain Latifah memadu warna yang sama cerahnya. Merah menyala, kuning terang, hijau yang kemilau.

Ketika kami terlepas dari rayuan maut Abdul sekitar satu jam berikutnya, los pasar berukuran sekitar 20 x 40 meter itu sudah penuh sesak. Matahari telah tinggi, tetapi los khusus para pedagang batik itu gelap karena kain-kain batik yang tergantung di sana-sini menghalangi terangnya cahaya mentari menerobos masuk.

Seiring teriknya matahari, los pasar kian riuh. Pedagang-pedagang batik duduk lesehan dan bersesakan, berbagi lapak berukuran 2 x 2 meter. Mereka membaur bersama ratusan perajin yang menghuni 52 kios dan lebih dari 270 los lesehan. Dengan hanya membayar sewa los Rp 2.500 per hari pasaran, perajin bisa menjajakan ratusan lembar batik.

Seperti Abdul, masing-masing pedagang agresif menawarkan batik tulisnya dengan harga ”ajaib”. ”Semua batik tulis, ini batik tulis cuma Rp 40.000. Ini Rp 60.000. Mau yang Rp 80.000 juga ada,” kata Thoyibah, memamerkan warna kain yang cemerlang bolak-balik.

Kesukaan terhadap warna menjadi refleksi dari unsur kebudayaan Madura. Dalam bukunya,Mencari Madura, sosiolog Universitas Jember, A Latief Wiyata, menulis bagaimana orang Madura sangat menjunjung tinggi harga diri, memunculkan ketegasan watak. Tegas mengandung makna perilaku memegang prinsip yang diyakini sehingga tidak terombang-ambing. Dalam pemilihan warna, misalnya, hampir selalu warna yang bernuansa tegas, orang Madura juga hanya mengenal rasa manis dan asin, bahkan ketika membangun rumah, posisinya harus mengarah pada arah mata angin utama.

Evolusi tak henti

Bersetia pada tradisi batik tulis, tak ada motif baku di antara para pembatik di Pulau Madura. Selain motif klasik yang sesekali masih dikukuhi, setiap pembatik rajin mengeluarkan desain sendiri. Dalam kurun tiga- enam bulan, desain batik pasti berganti, menunjukkan betapa ekspresifnya orang Madura.

Ekspresif dan tegasnya pembatik Madura juga terlihat dari keberanian mereka mengganti canting dengan pasoh atau les bilesPasoh berwujud serupa kuas runcing kecil, memiliki ”mulut” yang jauh lebih besar dari ”mulut” canting batik, membuat pembatik bisa lebih cepat menoreh malam pada kain. Pembatik dari Dusun Banyumas, Desa Klampar, Nadirah (45), setiap pekan mampu menghasilkan 50 lembar batik tulis yang dihasilkan dari motif malam yang ditoreh dengan pasohyang terbuat dari serat nanas.

Ketua Komunitas Batik Jawa Timur (Kibas) Lintu Tulistyantoro menyebut watak ekspresif batik madura membuat kain batiknya sepi dari ornamen dekoratif, tetapi justru kuat memunculkan komposisi motif dan warna yang tegas. ”Untuk batik madura, lihatlah dari kejauhan. Itu akan sangat spektakuler. Dari dekat mungkin akan kecewa. Karena tidak presisi seperti batik jawa. Batik jawa, detailnya kuat. Kalau melihat motif batik madura enggak boleh protes karena merupakan ekspresi diri,” kata Lintu.

Bagi Edhi Setiawan, budayawan Madura dan kolektor batik, itulah sisi keunggulan batik madura. ”Batik madura beda satu sama lain karena masing-masing ingin tampil beda. Beruntunglah belanja batik madura. Masuk limited edition, enggak pasaran,” kata Edhi tertawa.

Budayawan Madura, KH Zawawi Imron, membenarkan tingginya pamor limited edition dalam keseharian orang Madura. ”Tiap orang ingin menunjukkan bahwa dirinya ada. Membikin sesuatu yang berbeda dengan kemarin menjadi tuntutan kreatif. Tiap orang sah menyatakan diri dalam karya. Kebebasan itu sudah sesuatu yang niscaya buat orang yang berpikir. Madura pulau kecil dan tadah hujan. Kalau orang tidak rajin berpikir dan tidak rajin bekerja, tidak bisa hidup,” kata Zawawi.

Daya replika

Meski batik berawal dari budaya tinggi kalangan bangsawan Madura, pada babak berikutnya batik menjadi keseharian orang Madura dari segala lapisan. Batik merembes menjadi produk kebudayaan orang kebanyakan. Pembatik di seputaran Keraton Sumenep, misalnya, sudah sulit ditemukan. Padahal, dulunya batik di Sumenep berkutub pada keraton sebagai pusat kekuasaan.

Pada era tahun 1960-an hampir semua pembatik Sumenep gulung tikar akibat resesi ekonomi. Salah satu juragan batik di Sumenep yang merintis kebangkitan batik di era 1970-an adalah Achmad Zaini di Desa Pekandangan Barat, Bluto. Mewarisi usaha batik dari mertuanya, jumlah pembatiknya kala itu hanya tersisa empat orang. Sempat berjualan batik dari pintu ke pintu, saat ini usaha batik di Sumenep kembali bergairah.

Dalam disertasinya, ”Kota-kota Pantai di Sekitar Selat Madura (Abad XVII sampai Abad XIX)”, Fransiscus Assisi Sutjipto Tjiptoamodjo mengutip tulisan HI Domis dalam Bijzonderheden betreffende Sourabaja yang menerangkan keberadaan Madura sebagai penghasil kain tenun. Sejak abad ke-18, Madura juga telah mengekspor kain tenun produksi Sumenep. Pada 1830, ekspor kain tenun sebanyak 4.789 kodi.

Batik madura terus berevolusi sebagai produk kebudayaan orang Madura yang egalitarian, bebas dari segala pakem batik jawa dilatari oleh ketatnya hierarki sosial dalam pengenaan batik. Gara-gara itu pula, pembatik di Madura tak pernah rikuh membajak motif baru yang tengah berjaya di pasaran.

Iin (35), pedagang batik yang rutin memborong batik madura untuk dijual ke Jakarta, Riau, dan Timika di Papua, berbagi cerita tentang bajak-membajak motif yang berlangsung cepat. ”Motif baru milik saya sendiri disimpan rapat-rapat. Kalau saya bawa ke pasar, besoknya sudah ditiru. Pembatik Madura pintar meniru hanya sekilas melihat,” kata Iin.

Seketika pasar kebanjiran motif yang serba mirip. Namun, seketika itu pula para pembatik kreatif berani menciptakan motif-motif baru demi memuaskan kebutuhan konsumen, seperti KH Zawawi Imron, untuk tampil beda.

Seperti motif-motifnya, Madura tak pernah tunggal atau serupa. Di antara batik ”serba cepat” itu pun, terselip batik madura ”yang lain”. Tepat di belakang rumah Abdul, beberapa pembatik sibuk membatik dengan canting nol di teras sebuah rumah beton.

Di sana, Norhayati, sang pemilik rumah, membatikkan malam dan menggenapi ornamen rumit batik pagi-sore yang telah dikerjakannya selama dua setengah bulan. Batik yang belum lagi jadi itu telah dipesan kolektor di Jakarta. Begitu pula batik- batik lain yang digarap di teras rumahnya sudah punya pembeli dari Surabaya dan Semarang dengan kisaran harga hingga Rp 15 juta per lembar.

Selain mengerjakan motif-motif kreasi baru, para pembatik halus Desa Podek juga piawai menciptakan salinan motif-motif klasik nan rumit. Rusydi, pemilik Nargis Batik, menyebut, daya replika tinggi pembatik Madura membuat karya mereka diminati para kolektor batik di luar Madura.

”Ini memang sisi lain dari batik madura, menonjolkan kemampuan tinggi dari pembatik Madura. Kemampuan orang Madura mereplika bentuk memang luar biasa, juga kemampuannya menyingkap teknis pewarnaan rumit dari proses pencelupan berulang kali. Madura bukan cuma punya batik serba cepat karena kemampuan pembatiknya begitu beragam,” ujar Rusydi.

Jika ada satu yang pasti dari batik madura adalah evolusinya yang tak akan pernah berhenti. Baik dari sisi motif, warna, maupun teknik pengerjaan dari yang paling ekspresif hingga yang paling dekoratif dan rumit.

Daya hidup orang Madura yang liat menghidupi evolusi beragam-ragam batik itu. Seluruh watak Madura—termasuk irama hati pembatiknya—pun terangkum dalam selembar batik.

(Aryo Wisanggeni G/Mawar Kusuma)

FOTO-FOTO: KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Mei Juli 2016, di halaman 24 dengan judul “Irama Hati Batik Madura”