Eko Nugroho: Seni Rupa dalam Film

0
1515

Lahir di Yogyakarta 39 tahun silam, Eko Nugroho telah berhasil mendunia dengan berbagai karya seninya. Ratusan pameran dan puluhan pameran tunggal telah dicicipi Eko sejak bangku sekolah. Lulus dari ISI di 1997, jam terbang Eko semakin tinggi. Mulai dari Belanda, Finlandia, Taiwan, Singapore dan masih banyak lagi negara lain yang telah menikmati karya Eko. Ditanya mengenai pencapaian tertingginya Eko mengaku studio yang ia bangun adalah wujud dari keberhasilannya. “Seniman itu kan memang ada kecenderungan sulit diatur dan lebih suka hidup bebas, jadi keberlangsungan studio yang saya bangun bisa dibilang jadi definisi prestasi terbesar saya” tutur Eko.

Sejak SMP Eko sudah mulai yakin untuk terjun didunia seni. “Dulu cuma suka gambarin tembok terus temen bilang gambaran saya bagus yasudah semenjak itu saya fokus di seni” tambah Eko. Walaupun Eko mengaku tidak memiliki darah seni dari kedua orang tuanya, Eko tetap yakin dengan pilihannya. Keyakinan tersebut pada akhirnya berbuah manis. Berbagai karya juga informasi mengenai seorang Eko Nugroho dapat dilihat di http://ekonugroho.or.id. Salah satu karya yang baru saja diselesaikan Eko Nugroho adalah kolaborasinya dengan Miles Film dalam #AADC2.

 

Apa sih yang membuat Mas Eko akhirnya menerima pinangan kolaborasi dari Mira Lesmana di film #AADC2?

Bagi saya ini adalah hal yang aneh. Orang seni khususnya seni rupa diajak main film. Awalnya saya kaget sekaligus senang. Modal nekat, saya terima langsung ajakan Mas Riri walaupun saat itu saya belum ada gambaran sama sekali karya seperti apa yang akan saya tampilkan.

 

Bentuk kolaborasinya seperti apa?

Mas Riri menurut saya pintar sekali mengolah film ini. Jadi konsep kolaborasi yang ditawarkan tidak hanya menjual setting lokasi di Jogja tapi Mas Riri mampu membangun kekaryaan yang unik. Energi dari seniman-seniman yang dirangkul untuk film #AADC2 ini benar-benar diangkat tanpa dibuat-buat atau direkayasa dalam rangka memenuhi tuntutan film ini.

 

Kalau idenya sendiri dapat dari mana Mas?

Kalau ide saya dapat ide dari lingkungan saya kemudian juga dari sinopsis yang diberikan. Tapi, lebih ke apa yang saya tangkap dari kehidupan sekitar saya sih. Mas Riri sangat membebaskan saya berekspresi jadi karya yang saya tampilkan adalah “this is me, Eko Nugroho” bukan cuma karena sinopsis.

 

Seperti apa sih kolaborasi antara #AADC2 dan Mas Eko ditampilin?

Oh. Jadi gini total saya menyiapkan 12 karya untuk film ini. Di film ini, setting yang ditampilkan adalah saya sedang melakukan pameran tunggal. Dalam pameran tersebut terdapat beberapa karya lukis juga instalasi seperti 3 lampion besar di atas kolam renang. Ya kira-kira seperti itu. Nanti bisa dilihat sendiri di film nya biar nggak penasaran lagi.

Kalau tantangan nya sendiri, mulai dari rancangan hingga proses instalasi seperti apa Mas?

Tantangannya mungkin di setting lokasi ya. Biasanya kalau pameran kan memang dilakukan digedung-gedung pertunjukan atau memang sudah diatur sedemikian rupalah untuk saya corat coret. Kalau ini mungkin menjadi lebih sulit karena ada aturan-aturan dari hotel yang tidak bisa saya langgar. Tapi ya pada akhirnya masalah tersebut bisa tersiasati lah.

Karya masterpiece nya Mas Eko di film ini yang mana nih?

Semuanya sih kalau menurut saya. Karena ini di film jadi karya yang saya tampilkan tak sekedar menempelkan di dinding kemudian diberi penerangan. Logika cahaya dan sebagainya harus sangat diperhatikan untuk menampilkan apa yang ingin saya sampaikan lewat karya saya. Jadi menurut saya, semuanya adalah masterpiece karena prosesnya.

Gerogi gak Mas waktu syuting?

Semua kru dan pemain #AADC2 sangat profesional jadi saya sangat senang dan terbantu dengan hal itu. Lagi pula apa yang saya dan teman-teman seniman tampilkan disini ya memang benar-benar “this is us” sih.

IMG_7147

 

(Chandra Pradhitaningrum/ Volunteer Kompas MuDA)