FESTIVAL FILM Bingkisan dari Eropa

0
811

Festival Film Eropa Ke-16 atau Europe on Screen 2016 hadir kembali di Indonesia. Kali ini, EOS 2016 akan memutar 78 film dari 22 negara di Eropa. Berlangsung dari 29 April hingga 8 Mei, festival kali ini akan dihadirkan gratis di enam kota, yaitu Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, Surabaya, dan Yogyakarta.

EOS 2016 merupakan inisiatif bersama dari kedutaan besar dan pusat kebudayaan Eropa di Indonesia yang diselenggarakan pertama kali pada 1990, 1999, dan sejak 2003 digelar setiap tahun. Kualitas baik dari film produksi Eropa, antara lain, disuguhkan dalam penayangan prafestival seusai jumpa pers, Selasa (19/4).

Film yang diputar kali ini, In Order of Disappearance, adalah film produksi Norwegia karya Sutradara Hans Petter Moland. Diproduksi pada 2014, penonton tak sepenuhnya berhadapan dengan aktor yang sama sekali belum dikenal. Aktor utama dalam film berdurasi dua jam ini adalah Stellan Skarsgård asal Swedia yang turut membintangi film seperti Avengers: Age of Ultron (2015) dan The Girl with the Dragon Tattoo (2011).

Film ini juga dibintangi aktor ganteng Norwegia Pål Sverre Hagen dan aktor asal Swiss Bruno Ganz. Film komedi aksi yang penuh adegan bunuh-bunuhan, tetapi menghibur dengan banyak aksi konyol, ini segera membawa penonton ke alam Norwegia yang diselimuti salju di musim dingin. Salju yang menjadi latar peristiwa dan disuguhkan di hampir semua bagian film menjadi sesuatu yang benar-benar asing bagi penonton di negara tropis.

Julio Arias, Kepala Bagian Politik, Pers, dan Informasi dari Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia berharap Europe on Screen 2016 bisa mempromosikan pemahaman antarbudaya dan menjadi jembatan antar-orang dengan perbedaan kepercayaan, ide, dan nilai. Hal ini, menurut dia, menjadi sesuatu yang terasa semakin penting dalam era globalisasi.

Sejak empat tahun lalu, EOS juga berupaya mendukung bakat serta visi kreatif sutradara pemula Indonesia. Pada tahun ini, EOS 2016 mengundang lima sutradara Eropa untuk menggelar lokakarya dan diskusi untuk berbagi pengetahuan.

”Ingin melanjutkan lokakarya untuk memberi kesempatan terjun langsung. Mereka akan menjelaskan tentang teknik pembuatan film,” kata Direktur EOS 2016 Orlow Seunke.

Budaya lain

Melalui film In Order of Disappearance atau Kraftidioten, penonton diajak berjumpa dengan belahan bumi lain yang begitu beku oleh salju dan berusaha mengenal cara hidup warganya yang terasa berbeda. Dalam dialog di antara para aktornya pun, mereka menghadirkan sentuhan Asia lewat tokoh pembunuh bayaran yang diceritakan berasal dari Jepang, tetapi dijuluki Chinaman.

PENANYANAN FILM IN ORDER OF DISAPPEARANCE DI HADAPAN MEDIA PADA JUMPA PERS EUROPE ON SCREEN 2016 Photo by: Philip Ogaard-B
PENANYANGAN FILM IN ORDER OF DISAPPEARANCE DI HADAPAN MEDIA PADA JUMPA PERS EUROPE ON SCREEN 2016
Photo by: Philip Ogaard-B

Dari dialog antaraktor, pandangan Eropa terhadap Asia bisa dipetik. Seperti ketika mereka membicarakan betapa sulitnya berjuang hidup di negara yang diselimuti es dibandingkan kehidupan ”nyaman” di wilayah yang mataharinya bersinar sepanjang tahun. Lepas dari perbedaan budaya tersebut, film ini menyajikan alur asyik yang sulit ditebak.

Stellan Skarsgård berperan sebagai Nils, seorang pengemudi kendaraan penyapu salju di pegunungan Norwegia. Pengabdian membawanya meraih gelar warga kehormatan. Ketika berpidato meraih penghargaan untuk pekerjaan yang dicintainya, anaknya justru terbunuh.

Sebagai seorang ayah, ia berjuang menyelidiki kematian anaknya. Penyelidikan membawanya ke tengah perang narkoba antara mafia Norwegia dan Serbia. Dengan peralatan berat, kekuatan stamina, dan pengenalan jalan-jalan terpencil bersalju, Nils menghadapi orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan anaknya.

Film In Order of Disappearance dengan dialog bahasa Norwegia yang dilengkapi teks bahasa Inggris ini juga akan ditayangkan di Institut Francais Jakarta pada 1 Mei, Auditorium Grand Aston City Hall Medan pada 7 Mei, dan Auditorium Erasmus Huis Jakarta pada 7 Mei.

”Film Eropa pernah tidak terlalu dikenal dalam waktu yang lama. Kami mencoba memberi akses untuk penayangan film. Film yang populer sengaja ditayangkan di jam-jam yang mudah diakses orang. Ada juga film yang khusus ditujukan bagi pencinta film,” kata Orlow Seunke.


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 April 2016, di halaman 18 dengan judul “FESTIVAL FILM Bingkisan dari Eropa”