Tak Ada Bioskop, Misbar Pun Jadi

0
1960

Jika satu pintu tertutup, pintu-pintu lain akan terbuka. Seperti itulah ruang-ruang alternatif pemutaran film bertumbuhan bak jamur di musim hujan. Ibaratnya, tak cukup layar bioskop, ruang alternatif tetap menanti.

Matahari sudah tinggi saat Herlina (36) dan suaminya, Yudi Singal (38), selesai menyantap ayam bumbu laos di Warung Misbar, di kawasan Jalan RE Martadinata, Bandung, Rabu (6/4). Namun, mereka tak lantas beranjak. Mata mereka tersedot ke layar yang memutar Maju Kena Mundur Kena, trio Warkop Dono, Kasino, dan Indro.

Bukannya tak pernah menonton Warkop DKI yang kocak di televisi. Namun, ada sensasi berbeda jika melihatnya di layar lebar. ”Ada rasa lain melihat aktornya punya ukuran tubuh sama dengan kita. Apalagi, suaranya keras, jadi lebih seru,” kata Herlina.

”Makan Enak Sambil Nonton” adalah semboyan Warung Misbar. Warung ini lahir terinspirasi maraknya arena layar tancap yang ramai di Bandung medio 1970-1990. Bioskop dadakan itu selalu ramai saat langit cerah. Namun, jika gerimis datang, penontonnya tunggang langgang untuk berteduh. Misbar alias gerimis bubar….

Meski tak persis misbar tempo dulu, tema sinema tetap ditonjolkan. Pintu masuk Warung Misbar, misalnya, dibuat seperti loket antrean tiket bioskop. Ada juga pedagang asongan menjajakan permen dan kacang. Selain tembakan proyektor di layar putih, pedagang asongan juga menjadi ciri khas arena layar tancap.

”Di sini ada 100 judul film yang diputar bergantian,” kata Hendra Jasmara, Asisten Manajer Warung Misbar. Beberapa komunitas film kampus juga kerap menggelar nonton bareng. Beberapa menonton film yang disediakan, sebagian minta film tertentu disiarkan.

 

Non arus utama

Di Jakarta, salah satu ruang alternatif bagi pemutaran film adalah Kineforum di Taman Ismail Marzuki. Di situ, film-film non arus utama, film-film populer, tetapi sudah sulit didapat, dan film-film yang hanya singgah sebentar di bioskop, mendapat tempat.

Jumat lalu, tiga film pendek tengah diputar, yakni The Fox Exploits the Tiger’s Might karya Lucky Kuswadi, Kisah Cinta yang Asu karya Yosep Anggi Noen, dan Sendiri Diana Sendirigarapan Kamila Andini. Tiga film ini produksi Babibuta Film dan sudah berkeliling di berbagai festival di Cannes, Busan, dan Toronto. Hari biasa, harga tiket Rp 15.000, akhir pekan Rp 20.000. ”Kami memutar film berdasarkan program yang disusun. Kami pernah memutar Cahaya dari Timur tak lama setelah turun dari bioskop komersial. Kami juga pernah memutar Kuldesak yang antrean penontonnya sangat panjang,” kata Manajer Kineforum Alexander Matius.

Kineforum digerakkan para relawan. Kadang-kadang, Kineforum juga bekerja sama dengan beberapa komunitas atau penggiat film. Belum lama, diputar film-film karya Riri Riza disusul diskusi bersama sang sutradara. Peminatnya membeludak. Selain Kineforum dan Misbar, masih terdapat sederetan ruang alternatif yang menyajikan film, seperti Paviliun 28 yang menggelar Cinema Rabu, Conclave, Reading Room, Kinosaurus, dan Subtitle di Dharmawangsa Square. Di Bandung, masih ada forum penggiat film, Bandung Film Council, yang rajin mengadakan pemutaran film-film yang merajai festival.

Kineforum, salah satu ruang alternatif untuk menonton film dengan settingan permanen yang terletak di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tempat ini memutar beragam film baik film festival, film pendek, animasi hingga film klasik secara rutin meski berapapun jumlah penonton. Kompas/Riza Fathoni
Kineforum, salah satu ruang alternatif untuk menonton film dengan settingan permanen yang terletak di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tempat ini memutar beragam film baik film festival, film pendek, animasi hingga film klasik secara rutin meski berapapun jumlah penonton. Kompas/Riza Fathoni

 

Di Yogyakarta, ada Studio Video Audio Visual (VAV) Puskat yang menjembatani munculnya sineas muda. VAV menyediakan ruang khusus untuk memutar film alternatif dan berdiskusi. Saat ini, kegiatan itu sudah bersalin rupa menjadi Festival Film Kreatif. ”Sudah dua kali diselenggarakan. Temanya tentang dasar-dasar kehidupan dan kemanusiaan,” ujar Marketing VAV Puskat FX Tri Mulyono.

Ada juga Lembaga Indonesia Perancis (LIP) yang menyediakan ruang khusus bagi para sineas yang ingin memutar karya-karyanya. Menurut Penanggung Jawab Bidang Budaya dan komunikasi LIP Eno Dewati, setiap tahun, rata-rata 15 film alternatif diputar di sana.

 

Menikmati

Bagi penikmat film, kehadiran ruang-ruang alternatif yang memutar beragam film itu menyajikan pengalaman berbeda. Sandi (36), warga Rawamangun, Jakarta Timur, meluangkan waktu menonton film di Kineforum karena ingin mencari warna lain semacam petualangan yang tak didapat di bioskop besar.

”Saya sering ke sini sejak 2011 meski juga tetap nonton di bioskop besar. Film-film di sini lebih banyak yang tak diputar di bioskop besar,” katanya.

Pekerja seni yang juga penikmat film alternatif, Wiendy Widasari, sangat berharap bisa terfasilitasi dalam menonton film-film alternatif atau indie di lokasi-lokasi pemutaran film alternatif yang didirikan pemerintah. Ini tentu lebih baik ketimbang selalu mengandalkan proyek penayangan keliling di tempat-tempat yang selalu berbeda, seperti di kampus-kampus.

”Jadi, kalau mau angkat film-film indie, ya, harus bisa membuat pasar sendiri. Misalnya, membuat festival film indie yang bergengsi ala Sundance Film Festival,” katanya.

Ruang teater di Paviliun 28, Jakarta, Rabu (2/3). Setiap Rabu malam, komunitas In-Siatif menggelar pemutaran film di Paviliun 28. Kompas/Lucky Pransiska  02-03-2016 UNTUK MATRA KOMING
Ruang teater di Paviliun 28, Jakarta, Rabu (2/3). Setiap Rabu malam, komunitas In-Siatif menggelar pemutaran film di Paviliun 28. Kompas/Lucky Pransiska

 

Pemerintah juga diharapkan bisa memberi dana subsidi untuk memproduksi film alternatif. Secara rutin pemerintah bisa mengadakan proses pitching untuk menjaring pembuat film indie berbakat. ”Kalau membiayai pembangunan bioskop khusus dianggap terlalu mahal, pemerintah bisa mengakali dengan menyewa tempat-tempat yang nyaman untuk menonton bersama para komunitas film indie tadi,” imbuhnya.

Sutradara dan pengajar di Yogya Film Academy, Edie Cahyadi, mengungkapkan, ruang-ruang bagi film alternatif umumnya dimotori komunitas anak muda yang ingin menghidupkan pasar dunia film alternatif.

”Mereka berusaha mencari tempat-tempat kosong untuk pemutaran film. Di kampus-kampus ada cukup tempat meski tak bisa rutin. Selebihnya, ya, hanya ruang kosong dengan kursi sederhana,” katanya.

Film-film alternatif biasa diuji di lingkungan komunitas-komunitas, entah lewat diskusi atau berbagai festival, misalnya, Jogja Asian Film Festival. Saat ini, kata Edie, lapak film-film alternatif memang bukan gedung-gedung film mainstream.

 

(Dwi As Setianingsih, Cornelius Helmy, Fransiska Romana, Wisnu Dewabrata, Totok Wijayanto)


 

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 April 2016, di halaman 25 dengan judul “Tak Ada Bioskop, Misbar Pun Jadi”