Tepis Tipis Tulis

0
963

GADING SERPONG, KOMPAS CORNER – Niat akan hal tulis menulis perlahan memudar dari dalam diri hampir sebagian besar generasi muda dewasa ini. Menanggapi hal tersebut, Kamis, 24 Maret 2016 kemarin Kompas Corner mewadahi mahasiswa cerpenist untuk kembali terjun dalam dunia kesusastraan. Dengan mengundang Putu Fajar Arcana, Editor Sunday Desk Kompas dan penulis buku “Drupadi” yang baru rilis beberapa waktu lalu, dan pengarang Agus Noor yang terkenal dengan salah satu karyanya, yakni “Cerita Buat Para Kekasih”.Acara tersebut dimulai tepat pukul 13:30 WIB yang diikuti oleh 31 peserta yang antusias mendengarkan pemaparan para ahli kesusastraan tersebut.

Kompas Corner mengawali pembukaan acara dengan perkenalan singkat mengenai program Kompas Corner. Dalam presentasinya, July Angelica (Public Relation) mengatakan bahwa Kompas Corner adalah ibarat Sarang Lebah, karena diharapkan Kompas Corner sendiri dapat menjadi seperti Lebah yang selalu berembuk bersama dan menghasilkan madu yang bermanfaat bagi banyak orang. July juga mendorong mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk aktif dan ikut serta dalam penulisan artikel Mahasiswa Berkata di Kompasmuda.com yang dapat dilihat sebagai sarana pelatihan untuk setiap individu yang ingin mengasah kemampuannya dalam bidang literasi. Menutup presentasinya, July mengimbau mahasiswa UMN untuk memanfaatkan segala fasilitas yang diberikan Kompas Corner pada waktu senggangnya untuk berkarya dan juga bersosialisasi.

 

Perkenalan singkat oleh July Angelica, selaku Public Relation Kompas Corner (25/3) mengenai fungsi dan peran keberadaan Kompas Corner di Universitas Multimedia Nusantara.
Perkenalan singkat oleh July Angelica, selaku Public Relation Kompas Corner (25/3) mengenai fungsi dan peran keberadaan Kompas Corner di Universitas Multimedia Nusantara.

 

Unsur Penulisan Cerpen

Selanjutnya acara masuk kedalam proses belajar mengajar oleh Putu Fajar Arcana yang lebih menitikberatkan dalam pemaparan teoritis. Awalnya, Bli Putu mengajak mahasiswa untuk brainstorming tentang unsur-unsur seperti apa yang harus ada dalam menulis sebuah cerpen. Bli Putu menjelaskan bahwa unsur sebuah cerpen terdiri dari:

Unsur-Unsur Sebuah Cerpen:

  1. Ide
  2. Tema
  3. Alur
  4. Penokohan
  5. Latar
  6. Sudut pandang
  7. Pesan

Pertama, dalam memulai sebuah penulisan, Putu mengatakan bahwa harus ada ide yang terpampang dengan jelas terlebih dahulu dalam pikiran seorang penulis.“Dulu kalau saya cari ide itu pagi-pagi di kamar mandi masih ngantuk-ngantuk. Lalu setelah keluar, saya tuangkan semua dalam ketikan, pokoknya diketik dulu nyambung tidaknya urusan nanti” papar Agus berseloroh. Bli Putu menambahkan bahwa sebuah ide menjadi sesuatu yang sangat penting, karena pada masa lalu yang digunakan adalah mesin ketik, kalau ada yang salah harus mengulang sedari awal.

Kedua, setelah mendapatkan ide hal yang akan ditulis, kemudian menentukan tema dari gagasan-gagasan tersebut. Namun, Putu menambahkan ada beberapa penulis yang terjun langsung ke dalam isi tulisan dulu, kemudian menentukan judul dari tajuk tersebut. Ada faktor kenyamanan subjektif berperan besar dalam proses kreatif seorang penulis.

Ketiga, alur yang menentukan arah dari peristiwa yang ada dalam cerita. “Alur biasanya paling sulit, karena bisa maju mundur dan berliku-liku di mana saja” ujar Putu. Terdapat beberapa teknik dalam penentuan alur cerpen, yang akan mempengaruhi bagaimana penulis menyampaikan ide yang telah ada. Alur pula yang seringkali menambah keseruan dan dramatisasi sebuah cerita fiksi.

Keempat, penokohan yang juga memainkan peran penting dalam menentukan alur, tema, konflik, dan pesan dari sebuah cerpen yang akan ditulis. Dalam pengajarannya, Putu menyatakan bahwa adanya sebuah karakter dalam cerita sudah menjadi hal yang lumrah, dibandingkan tulisan tanpa penokohan di dalamnya.

Kelima, latar dari sebuah cerita sangat bervariasi. Latar mencakup waktu, tempat, suasana, sejarah, dst. Latar tempat sering kali ditemukan dalam cerpen realis.

Keenam, sudut pandang penulis yang berkaitan dengan penokohan. Putu mengajarkan bahwa penggunaan kata “Saya” umumnya mencerminkan sudut pandang orang pertama dalam sebuah cerita. Sedangkan penggunaan nama, dia, atau dirinya menunjukan sudut pandang orang ketiga.

Ketujuh, pesan yang ingin disampaikan dari penulisan tersebut. Cara membungkus pesan agar menarik adalah dengan memainkan konflik cerita yang dapat menyentuh hati pembaca lebih dari otaknya sanggah Putu mengakhiri pengajarannya.

 

Pemaparan materi tentang unsur yang harus dimiliki dalam sebuah cerpen oleh Putu Fajar Arcana (25/3) di Kompas Corner, Gading Serpong.
Pemaparan materi tentang unsur yang harus dimiliki dalam sebuah cerpen oleh Putu Fajar Arcana (25/3) di Kompas Corner, Gading Serpong.

 

Pelatihan menulis cerita pendek ini dilanjutkan dengan mempraktikan apa yang telah diajarkan Putu bersama dengan Agus yang lebih menekankan pada pragmatis. “Menulis itu sama seperti sepeda, walaupun kamu tau teori bawa sepeda seperti apa tapi tidak pernah dipraktikan, kamu tidak akan bisa mengendarai sepeda” kata Agus seraya memulai latihan.Ia pun lalu mengajak para mahasiswa untuk menentukan tema dan alur cerita yang sontak muncul dalam pikiran mereka jika diberi ide tentang demo taksi silam. Di tengah tugas yang diberikan kepada mahasiswa, Agus menambahkan bahwa seorang penulis tidak selalu mengikuti keinginan pembaca dalam menentukan arah tulisannya. Kemudian pelatihan yang dikemas dalam sebuah games terdiri dari dua orang ini,mengajak anggotanya untuk saling sambung menyambung kata membentuk sebuah alur cerita yang kemudian dipaparkan kepada peserta lainnya.Seru banget loh! Tampak peran penting pengasahan imajinasi dan kreativitas yang harus dijalankan terus menerus,

 

Mahasiswa berlatih mempraktekkan saling sambung menyambung kata membentuk sebuah alur cerita (24/3).
Mahasiswa berlatih mempraktekkan saling sambung menyambung kata membentuk sebuah alur cerita (24/3).

 

Agus Noor memaparkan kepada mahasiswa bahwa dalam pengembangan ide saat menulis sebuah cerpen antara lain:

  1. Pilihlah ide yang menarik;

Contohnya, demo taksi.

  1. Cari kemungkinan paling jauh dari topik itu yang tidak dipikirkan orang lain;

Contohnya, hubungan antara sisir, zombie, dan taksi.

  1. Diaplikasikan dalam unsur cerpen dan berlatih.

 

Selanjutnya, Putu memperkenalkan secara singkat tentang Cerpen Kompas. Diawali tahun 1967 Kompas menerbitkan cerpen pertamanya dalam harian Kompas bertajuk Lajang Naka: Saidjah yang ditulis dengan bahasa Melayu kuno. Hingga tahun 90-an, Kompas masih menerima cerpen terjemahan dari luar Indonesia, seperti cerpen berjudul “Boket Biru” yang terbitpada tahun 1990. Pada awal 2000-an, Kompas mulai mengusung cerpen dengan ilustrasi berwarna, yang membawa banyak pro dan kontra akan ide tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu Putu menambahkan bahwa sudah banyak cerpen Kompas yang menggunakan ilustrasi berwarna. Berdasarkan data rekapitulasi cerpen yang diterima Kompas, jumlah karya cerpen yang masuk ke Kompas kian meningkat hingga tahun 2015.

Dalam presentasinya, Putu menunjukan kepada mahasiswa UMN bulan-bulan dengan sedikit kontribusi cerpen yang dikirim kepada Kompas. Hal ini bertujuan untuk mengajak mahasiswa UMN untuk mencoba mengumpulkan cerpen karya mereka pada bulan tersebut, dibandingkan dengan bulan lainnya. Rata-rata per hari, Kompas bisa menerima sembilan hingga 16 naskah cerpen, dengan total hingga 4500 per tahun sementara daya tampung rubrik hanya 52 maksimal dalam setahun. Bayangkan yah betapa ketatnya persaingan untuk naskahnya bisa dinyatakan layak lolos seleksi redaktur Kompas ini. Jangan menyerah yuk! Sebagai informasi, pemenang cerpen terbaik tahun 2014 adalah Faisal Odang asal Makassar yang usianya belum menginjak 30 tahun. Jadi ada harapan nih untuk generasi muda seperti kamu!.Bli Putu pun menambahkan pentingnya mengangkat budaya kearifan lokal dalam mengemas cerpen yang ditulis itu sangat penting.

 

Agus Noor menyampaikan tips ampuh dalam menulis sebuah cerita pendek (24/3).
Agus Noor menyampaikan tips ampuh dalam menulis sebuah cerita pendek (24/3).

 

Pada penghujung acara ditutup dengan presentasi singkat dari media partner Kompas Corner, Pojok Sastra. Herlina Yawang mewakili ketua Pojok Sastra memperkenalkan kehadiran komunitas baru ini yang telah berjalan sejak Oktober 2015 silam. Kegiatan membaca buku bersama senja, berdiskusi tentang topik yang sedang beredar, hingga proses pembacaan sebuah puisi dari masing-masing anggota merupakan gambaran umum dari kegiatan yang dilakukan komunitas ini setiap minggunya di Balkon Gedung C lantai 3 UMN. Selain itu, Pojok Sastra juga telah menerbitkan sebuah buku berisi kumpulan puisi dari anggotanya pada Januari 2016 silam.

Dengan diadakannya pelatihan menulis cerita pendek oleh Kompas Corner dan Pojok Sastra, diharapkan mahasiswa dapat terus melestarikan budaya menulis yang kian menurun.

 

 

Penulis : Herlina A.Yawang

Editor : Sulyana Andikko

Fotografer : Kompas Corner