Bangun Personal Branding Lewat Aksi Sosial

0
1491

SERPONG, KOMPAS CORNER — Personal branding kini bisa dikatakan sebagai sebuah kebutuhan bagi setiap orang, terutama bagi mereka yang ingin melangkahkan kariernya dengan mantap. Personal branding memungkinkan bagi seseorang untuk tampil berbeda, unik, dan khas. Dalam pengaplikasiannya di dunia kerja, personal branding akan sangat membantu seseorang dalam bersaing dengan kompetitor lainnya, sehingga membuat kinerjanya terlihat lebih unggul di hadapan banyak orang.

Menyadari betapa pentingnya peranan personal branding, maka Kompas Corner mengadakan workshop dengan topik “Build Your Personal Branding Through Humanity Act” yang dibawakan oleh Christopher Tobing selaku Chief Executive Officer (CEO) Nusantarun, pada 17 Maret 2016, di Student Lounge Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Tak hanya memberikan wawasan bagi mahasiswa, namun mahasiswa juga diajak untuk membangun personal branding melalui aksi kegiatan sosial.

 

Penyampaian materi workshop oleh Chrstopher Tobing berlangsung secara interaktif.
Penyampaian materi workshop oleh Chrstopher Tobing berlangsung secara interaktif pada Kamis(17/3) di Student Lounge, UMN.

 

Sesi penyampaian materi personal branding diawali dengan sebuah sesi menebak personal branding yang melekat pada tokoh-tokoh dunia / tokoh terkenal, seperti Steve Jobs, Nelson Mandela, Justin Bieber, dan beberapa tokoh lainnya. Setelah membiarkan para peserta menerkapersonal branding para tokoh, kemudian mahasiswa diajak berpikir lebih kritis lagi tentang alasan yang membuat para tokoh tersebut mendapatkan ciri khas tersebut.

Personal brandingitu berbicara mengenai karakteristik seseorang, terlepas dari baik buruknya kepribadian tersebut,” ujar Christopher. Kata “popularitas” mungkin akan terlintas dalam benak masyarakat ketika sedang membicarakan personal branding. Padahal, jika menilik lebih lanjut, personal branding membahas tentang pesanyang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Christopher mencoba meluruskan kesalahpahaman yang kerap kali terjadi dengan menuturkan beberapa mitos mengenai personal branding.

“Sebagian besar orang menganggap bahwa personal branding itu ialah sebuah upaya pencitraan,” ungkapnya. Pencitraan jelas memiliki makna yang jauh berbeda dan tidak ada korelasinya dengan personal branding. Personal branding justru membuat seseorang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa perlu menciptakan identitas “semu” dihadapan banyak orang.

“Mungkin banyak pengguna kanal media sosial, seperti Instagram, Twitter, dan yang lainnya berpikir bahwa dengan mengunggah banyak tulisan atau foto, maka itu akan membangun personal branding mereka. Namun, nyatanya itu adalah kesalahan yang fatal,” terangnya. “Pertama-tama, kita perlu berpikir mengenai pesan apa yang akan kita sampaikan kepada orang lain ataupun dunia secara konsisten,” ungkap Christopher.

Terdapat beberapa pertanyaan yang perlu dijawab oleh individu dalam menumbuhkembangkan personal branding. Selain perlu memikirkan pesan apa yang ingin kita sampaikan kepada dunia, individu juga perlu menganalisa alasan pesan tersebut dianggap penting bagi dirinya, orang lain, dan dunia.

“Cobalah untuk mencari tahu lebih dalam lagi mengenai pesan yang ingin disampaikan. Seberapa penting pesan tersebut bagi diri kalian, orang lain, dan bahkan dunia?” tambahnya di sela-sela pemberian materi. Lebih lanjut, pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup krusial bagi setiap individu, mengingat tentunya tujuan hidup masing-masing orang mestilah berbeda.

Setelah melontarkan sejumlah pertanyaan terkait personal branding kepada para peserta workshop, ia juga mengungkapkan bahwa personal branding mampu dibangun dengan beragam cara, salah satunya ialah dengan melakukan aksi kegiatan sosial yang memberikan dampak bagi orang lain. Seperti diungkapkan oleh Christopher Tobing, bahwa kegiatan sosial yang diselenggarakan memungkinkan individu untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar disamping menyampaikan pesan secara konsisten.

Dampak dari kegiatan sosial yang dirasakan oleh orang sekitar akan mendorong mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk turut berpartisipasi didalamnya. Christopher juga menyarankan bahwa dalam melakukan kegiatan sosial, hendaknya dilakukan secara bersama-sama dengan orang sekitar. Selain dampak yang dihasilkan lebih besar, berbagai macam pengalaman serta inspirasi juga bisa dibagikan kepada lebih banyak pihak. “Bisa dikatakan bahwa personal branding ialah hadiah yang dipetik setelah berhasil mengadakan kegiatan sosial,” tambahnya.

Dirinya mengakui bahwa awalnya kegiatan sosial yang diusungnya yakni Nusantarun, hanya bertujuan untuk memberikan kontribusi berupa dana secara berkelanjutan di bidang pendidikan. “Mulanya, saya tak pernah berpikir mengenai personal branding atau semacamnya, yang saya pikirkan hanyalah bagaimana caranya saya menginspirasi orang di sekitar dengan kegiatan sosial yang saya adakan,” ujar Christopher.Sebelumnya, ia tak pernah membayangkan akan memperoleh kontribusi yang begitu besar dari masyarakat. Terkumpulnya dana sebesar 1,3 miliar pada Chapter 3 Nusantarun di tahun 2015 kemarin merupakan bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki kepedulian serta jiwa sosial yang tinggi. “Jadi, jangan pernah ragu untuk meminta kontribusi kepada masyarakat sekitar. Selama pesan dari kegiatan tersebut jelas dan konsisten, maka pasti akan ada orang yang tergerak dan mau membantu.” terangnya.

Sebagai informasi, Nusantarun ini merupakan kumpulan pehobi lari untuk mengumpulkan dana secara beramai-ramai (crowdfunding) bagi suatu organisasi dengan pendidikan. Nusantarun yang baru berdiri pada tahun 2013 ini, pada awalnya mampu mengumpulkan donasi sebesar 137 juta, dan meningkat di tahun 2014 dengan menyentuh angka hampir 600 juta. Tujuan para pelari ini sangat sederhana tapi nyata, yakni berbagi melalui aktivitas yang mereka senangi. Mereka adalah individu yang optimis dengan masa depan Indonesia dan berinisiatif untuk turun tangan memulainya dari kegiatan yang bukan hanya menyehatkan, tapi juga mereka lakukan dengan sepenuh hati, berlari.

Seusai penyampaian materi workshop, setiap tim yang terdiri atas tiga peserta kemudian diminta untuk merancang simulasi proposal kegiatan sosial dan mempresentasikannya dihadapan Christopher Tobing.

 

Tim yang mengikuti workshop personal branding tengah mendiskusikan ide kegiatan sosial mereka pada Kamis(17/3) di Student Lounge, UMN.
Tim yang mengikuti workshop personal branding tengah mendiskusikan ide kegiatan sosial mereka.

Selesai dievaluasi, para peserta diberi kesempatan satu minggu untuk memperbaiki proposal dan mengompetisikannya kembali. Tiga tim dengan ide kegiatan terbaik akan diberikan kesempatan untuk merealisasikan kegiatan tersebut, dan memperoleh bantuan dana sebesar Rp 3.000.000 dari Harian Kompas.

“Tentu saja dalam pelaksanaannya, akan ada berbagai pihak yang turut mengawasi seperti Kompas Corner, Rumpin, Rencang, dan pihak terkait lainnya,”ujar Sulyana Andikko selaku Community Relation Kompas. Lebih lanjut lagi, “Dengan minat baca yang rendah saat ini, prioritas pendanaan aktivitas akan menitikberatkan pada bidang literasi dan edukasi, dandengan memanfaatkan Harian Kompas sebagai medium pembelajaran tentu akan menjadi nilai tambah,” ungkap Sulyana Andikko yang sekaligus menutup acara hari itu.  Selamat berkontribusi teman-teman!

 

Penulis                  : Elisabeth Tan (Kompas Corner) & Sulyana Andikko

Editor                    : Sulyana Andikko

Fotografer          : Errend Cavalera (Kompas Corner)