Cantik itu Tidak Sakit, tapi Sakit Banget…

0
4011

Banyak perempuan merasa tak sempurna. Dan, industri kecantikan pun terus memelihara ketidakpuasan itu. Ada kalanya perempuan memilih rela bersakit-sakit asal bisa cantik. Apalagi, bisa secantik idola asal Korea.

Simaklah cerita Zikra Soraya (28) yang berprofesi sebagai agen operasi kecantikan berbungkus jalan-jalan (beauty surgery travel). Dia berulang kali mengantar pasien untuk mempercantik diri dengan menjalani operasi di Korea. Tugas utamanya menemani pasien yang hendak dan setelah operasi. Dialah yang menjaga pasien saat tidur, mencarikan pasien makan, atau mengantar ke kamar mandi. ”Bisa dibilang seperti baby sitter,” ujar ibu satu anak itu.

Oleh karena itu, dia memahami betul perkembangan setiap pasiennya, terutama setelah operasi. Dia bercerita bahwa sakit yang dialami pasiennya terbilang luar biasa. Misalnya, pasien setelah operasi hidung tidak boleh tidur miring selama dua bulanan karena akan memengaruhi bentuk hidungnya. ”Otot-otot hidung juga tidak boleh digunakan selama masa pemulihan. Jadi, misalnya, kalau mau bersin, harus ditahan sebisa mungkin atau kalau bisa lewat mulut. Susah, kan,” kata Zikra.

Meta (27), yang pernah menjalani operasi plastik di hidung, merasakan siksaan itu. Tidak bisa leluasa makan dan minum karena khawatir menyenggol hidung. Minum pun harus selalu menggunakan sedotan.

Pasca operasi, bukan saja hidungnya, pipi di sekitar hidung juga turut bengkak dan memerah sehingga harus menghilang dari pergaulan umum selama berbulan-bulan. ”Kalau diminta operasi hidung lagi, aku enggak mau,” ujar Meta. Namun, kenyataannya, Meta ingin mengoperasi bagian tubuh lainnya.

Derita operasi hidung itu belum seberapa dibandingkan dengan operasi pangkas rahang. Setelah operasi, pasien harus digips lehernya selama tiga bulan dan sebisa mungkin meminimalkan penggunaan otot-otot rahang. ”Mereka sering meneteskan air mata saat makan. Saking sakitnya.” kata Zikra.

Mirip artis Korea

Orang-orang yang menjalani operasi plastik ini, termasuk yang menggunakan jasa Zikra, rata-rata ingin berpenampilan bak bintang drama atau artis Korea. Sebutlah Song Hye-kyo, bintang drama seri Full House, yang berkulit putih halus bak pualam dan berhidung bangir lancip, atau seperti Heo Young-ji, salah satu personel band K-Pop, Kara. ”Klien saya wawancara dulu inginnya seperti apa. Artis-artis Korea banyak berpengaruh dalam pilihan itu,” kata Zikra.

Gagasan cantik ala Asia Timur yang membingkai perempuan cantik dalam tampilan yang seolah-olah terlihat natural dan innocent alias lugu bisa ditilik dari bagaimana budaya pop Jepang tergila-gila pada konsep kawaii. Kawaii yang sederhananya berarti cute atau imut ini memiliki pendekatan yang infantil dalam mengukur perempuan cantik.

Merujuk penjelasan yang pernah diungkapkan Profesor Yomota Inuhito dari Universitas Meiji Gakuin, konsep kecantikan ala kawaii berunsur feminin, murni, rapuh, submisif, kekanak-kanakan, serta lugu atau polos walau berlekuk tubuh dewasa. Ya, tak jauh dari gambaran Maria Ozawa alias Miyabi. Konsep ini memang terkesan patriarkis dalam membingkai perempuan seperti apa yang dianggap cantik.

Pembingkaian cantik yang berkesan natural itu amat penting sekalipun hasil permakan. Jadi, yang menjadi obsesi bukan sekadar asal mancung, misalnya. ”Hidungku, tuh, kemarin, lembek, enggak ada bentuk. Jadi, ingin dibuat lebih tinggi, tetapi tetap natural,” kata Meta.

Ada juga yang merombak penampilan wajah lantaran pengaruh lingkungan pergaulan. Ini, misalnya, dialami Annie (36), salah satu pelanggan klinik Dermaster di Pondok Indah. ”Teman-teman di arisan penampilannya cakep semua. Saya jadi termotivasi juga untuk tampil cantik,” katanya.

Kadang kala bentuk tidak masalah, tetapi belum puas dengan warna kulit sehingga perlu rekayasa. ”Eye shadow saya bisa kelihatan warnanya kalau kulit muka lebih terang. Kalau kulit gelap, kan, enggak keliatan,” begitu Qonita Fajarasri (25), karyawan bank, mengeluh.

Makanya, ia rela membeli seri perawatan wajah senilai Rp 5 juta sepaket, mulai dari pembersih muka, krim urut, penyegar, serum wajah, krim malam, hingga siang. Dia juga rajin facial di klinik kecantikan dengan tarif Rp 300.000 sampai Rp 500.000.

”Pernah saya berhenti pakai perawatan kulit. Yang terjadi adalah kulitku terlihat kusam, komedo di mana-mana. Kalau wajah kusam begitu, saya jadi tak percaya diri,” kata Qonita yang sempat kaget saat mengakumulasi biaya perawatannya mencapai Rp 36 juta setahun, setara dengan uang muka mobil.

Jumlah itu tentu belum seberapa jika dibandingkan dengan uang yang harus dikeluarkan para pasien operasi pangkas rahang atau operasi hidung di Korea yang berkisar Rp 95 juta sampai Rp 200 juta. Itu belum termasuk biaya tiket, visit dokter, dan penginapan selama masa pemulihan. Biaya ekstra lain adalah untuk belanja dan jalan-jalan agar tidak bosan di hotel melulu. ”Di Korea itu biasa banget lihat orang mukanya bengkak atau masih di perban jalan-jalan di mal,” kata Zikra.

Sakit dan mahal itu keniscayaan dalam mengubah penampilan wajah. Toh, banyak dari mereka yang kemudian menikmatinya. Tidak saja karena lebih diterima lingkungan, tetapi juga secara finansial.

Jika kita simak media sosial Instagram, nama Winny Putri Lubis (22) tentu tak asing. Dara Kota Medan ini meraup follower hingga 1,2 jiwa yang kemudian ditafsirkan sebagai pasar. Lewat jasa promosi atau endorsement produk-produk kecantikan, dia meraup penghasilan Rp 50 juta per bulan.

Winny Putri Lubis (Arsip Pribadi)
Winny Putri Lubis
(Arsip Pribadi)

Daya tariknya antara lain adalah wajah Winny yang imutnya amit-amit itu. Hidung bangir, kulit cerah nan halus, mata bening, pipi tirus, dan dagu lancip. Dulu, penampilan Winny terlihat gembil (chubby). Setelah suntik meso fat di wajah dua tahun lalu, dagunya menjadi lebih lancip. Winny juga rajin merawat tubuh dengan diet dan menggunakan beragam alat kecantikan.

Pengagum Taylor Swift dan Kendall Jenner ini pun banyak dipuji pengguna Instagram. Bahkan, di beberapa grup media sosial kaum adam, wajah Winny kerap menjadi bahan obrolan nakal. Konsep cantik ala Winny yang mirip-mirip artis Korea itu memperkaya referensi laki-laki dalam mendefinisikan cantik. Reza (33), misalnya, kerap menyimak foto-foto Winny karena menarik secara visual.

Setelah tampil cantik dan dipuja-puji, apakah lantas sakit itu hilang? Tidak. Sakit dalam bentuk lain berdatangan. Semakin banyak pencinta (lover), banyak pula pembenci (hater). Para pembenci Winny menyebarkan berita-berita miring bernada fitnah. ”Dikatain cewek enggakbener. Itu, kan, fitnah,” kata Winny yang mengaku tidak pernah menjalani operasi plastik selain suntik di dagu.

Awalnya, Winny sakit hati. Lama-lama dia meresapi segala perilaku hater itu sebagai bunga-bunga hidup. Selama Winny tidak menyakiti orang lain, dia tak ambil pusing.

Begitulah hidup di tengah masyarakat ambigu. Tampil apa adanya dianggap tidak ada. Mereka kemudian menghadapi pisau bedah atau jarum suntik agar memesona. Itu pun lantas dicela. Dalam konteks itu, cantik memang tidak sakit, tetapi sakit banget….


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Februari 2016, di halaman 24 dalam rubrik “        Cantik itu Tidak Sakit, tapi Sakit Banget…”