Kembali Menilik Akar Batik

0
1719

Tradisi batik berakar jauh hingga masa kerajaan-kerajaan Nusantara. Filosofi yang tumbuh sepanjang perjalanan sejarah itu dicatat Iwan Tirta lewat dokumentasi motif batik. ”Dewaraja” menyuguhkan sebagian cerita kaya filosofi itu.

OLEH NUR HIDAYATI

Menilik kembali sekitar 10.000 motif batik yang sudah didokumentasikan mendiang Iwan Tirta, sang maestro batik Indonesia, seperti dihadapkan pada pengingat. Begitu banyak cerita tentang batik yang belum diakrabi khalayak, bahkan kalangan pemakai batik. Sejarah dan filosofi, termasuk yang dicatat dengan motif batik, bukanlah topik favorit hari ini.

”Di antara sepuluh pelanggan kami, mungkin hanya tiga orang yang tahu seperti apa Iwan Tirta,” ujar Era Soekamto, Direktur Kreatif Iwan Tirta Private Collection, label yang meneruskan karya warisan Iwan Tirta. Nama besar Iwan Tirta yang melekat pada label ini, dirasakan Era, juga berarti tanggung jawab untuk ikut mengupayakan kain batik tidak sekadar dipakai, tetapi juga dipahami akarnya.

Peragaan tunggal busana batik Iwan Tirta Private Collection digelar di Ballroom Hotel Fairmont Jakarta, Senin (27/4). Peragaan bertajuk ”Dewaraja” ini merupakan peragaan tunggal yang pertama kali digelar sejak sang maestro berpulang pada tahun 2010.

Era menjelaskan, Dewaraja adalah konsep yang berakar pada masa Kerajaan Majapahit di abad ke-12 ketika evolusi batik dimulai. Dewaraja bertutur tentang raja pada pencapaian spiritual tertinggi. ”Pada tingkat Dewaraja, raja adalah jelmaan dewa untuk memimpin dengan arif,” ujarnya.

Era mengasosiasikan konsep Dewaraja dengan motif-motif batik yang semula adalah milik raja. Motif-motif ini didokumentasikan Iwan Tirta dari lingkar dalam keraton-keraton Nusantara. Di sisi lain, penggalian motif itu pun dilakukan dalam konteks pencatatan sejarah.

Tak sebatas pada kain, inspirasi motif itu juga terdapat pada relief candi dari abad-abad lampau, kakawin, hingga naskah lontar. ”Iwan Tirta bukan menciptakan batik. Ia adalahcaretaker, pengemban batik,” kata Era.

Ketika mengembangkan motif batik, Iwan Tirta berpegang teguh pada sebuah prinsip. ”Hidup itu tidak berjalan linear, tetapi singular. Mau berkembang seperti apa pun tetap terkait pada akarnya,” kata Era mengutip prinsip sang maestro batik.

Belum dikenal

Konsep Dewaraja diangkat dalam koleksi terbaru Iwan Tirta Private Collection sebagai upaya mengajak pencinta batik kembali menilik akar kain warisan tradisi ini. Untuk mewujudkan semangat itu, Era memilih motif-motif batik dari dokumentasi Iwan Tirta yang belum banyak diperkenalkan pada publik.

”Hanya sekitar 10 persen dari 10.000 motif dokumentasi Iwan Tirta yang sudah cukup banyak dikerjakan dan dikenal orang. Selebihnya belum banyak dikenal,” kata Era.

Tiga tahap perjalanan menuju tingkat Dewaraja dituangkan menjadi tiga segmen dalam peragaan koleksi busana batik ini. Segmen pertama adalah dualisme samsara dan nirvana. Tahap ini dimaknai sebagai pengingat bahwa kehidupan tak pernah lepas dari dualisme: baik dan buruk, lebih dan kurang. Pada segmen yang didominasi warna hitam dan putih ini, motif ukir Bali banyak dieksplorasi.

Segmen kedua, refleksi, diangkat dari kitab Hindu, Siwaratri Kalpa. Di sini terkandung ajakan untuk tak lupa berkaca dalam diri sendiri. Kecintaan Iwan Tirta mengeksplorasi motif berdimensi mirroring (simetri) ditonjolkan di sini. Motif-motif batik yang digali dari Kesultanan Cirebon pada segmen ini ditampilkan dalam nada warna terakota. Beberapa motif tersebut antara lain nogo sebho, pager wesikala, nogo liman, dan sunyaragi.

Antahkarana atau ”light upon light” merupakan segmen ketiga. Pada tingkat antahkarana, pencerahan didapatkan sebagai buah laku spiritual. Motif-motif batik yang ditampilkan pada segmen ini antara lain diangkat dari desain motif Kumudowati di atap pendopo Keraton Mangkunegaran. Motif polengan dikombinasikan dengan ceplok kembang dan ukel bali juga disuguhkan di sini.

Terang bulan

Untuk mengurangi kesan berat pada busana yang bermotif batik penuh, Era menggunakan kembali teknik yang sebelumnya pernah diperkenalkan Iwan Tirta, yakni teknik terang bulan. Pada metode ini, motif batik membingkai ruang yang terkesan kosong. Ruang kosong ini sebenarnya juga diwarnai dengan teknik batik.

Agar dapat diolah menjadi busana, proses pembatikan kain dilakukan mengikuti komposisi pola yang sudah lebih dulu didesain. Beberapa material kain yang dibatik antara lain sutra satin, sutra taffeta, dan tenun sutra dengan alat tenun bukan mesin.

Untuk desain busana, Era menjelaskan, beragam inspirasi siluet diolah menjadi tampilan busana siap pakai pada koleksi Iwan Tirta Private Collection 2015. Inspirasi siluet itu antara lain diambil dari busana pedanda dan penari Bali serta dodot Jawa. Di sisi lain, siluet kostum Raja Henry V dari Inggris hingga gaya desain Christian Dior pada era 1960-an pun menjadi inspirasi koleksi ini.

Seperti yang diajarkan Iwan Tirta, tak perlu ada batasan untuk berkembang sejauh tak kehilangan akar pada jati diri sendiri.

FOTO-FOTO: KOMPAS/RIZA FATHONI

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Mei 2015, di halaman 18 dengan judul “Kembali Menilik Akar Batik”