Rentangan Sejarah pada Seutas Tali

0
2437

The Walk diangkat dari kisah nyata. Sejak awal, sebagian penonton sudah tahu apa yang akan jadi klimaks film ini. Toh, ia tetap menggiring penontonnya dengan cara yang kadang komikal, menuju ketegangan tak terduga. Melihat dari perspektif tak terbayangkan.

Pagi hari, kerumunan massa di jalanan sekitar menara kembar World Trade Center, New York, Amerika Serikat, 7 Agustus 1974, tercekat oleh pemandangan yang hanya mereka lihat sekali sepanjang hidup. Hanya terjadi sekali pula sepanjang sejarah menara kembar, gedung tertinggi dunia ketika itu.

Philippe Petit (Joseph Gordon-Levitt) berjalan, bahkan berpose, di atas seutas kabel yang dipasang membentang di antara dua puncak menara berketinggian lebih dari 400 meter itu. Tanpa pengaman, tiap langkahnya dibayangi incaran maut.

Cerita film yang diangkat dari buku karya Philippe, To Reach the Clouds (2002), ini bergulir melalui kilas balik. Narasi Levitt dengan logat beraksen Perancis mengantar alur cerita. Paruh pertama film ini menggambarkan biografi Philippe. Sejak ia masih bocah dan jatuh hati pertama kali pada atraksi di atas bentangan tali. Beranjak remaja dan bertemu sang guru, Papa Rudy (Ben Kingsley). Kemudian, menjadi artis jalanan di Paris, Perancis. Di kota romantis itu pula, ia bertemu Annie (Charlotte Le Bon), kekasih, juga salah satu pendukung utama ”kudeta seni” yang dirancang Philippe.

Seni dan gila

Levitt menghidupkan sosok Philippe bukan menyerupai seorang narsistik yang angkuh. Ada kebersahajaan sekaligus determinasi terpancar pada diri Philippe. Sepenuh hati, ia meyakini lakonnya di atas tali adalah bentuk seni yang amat berdaya hidup. Karena keyakinan itu, ia pun tak keberatan dituding gila.

Segmen cerita berikutnya, menggambarkan persiapan Philippe untuk mengelar aksi ”The Walk”. Pada bagian ini, penonton diajak memahami apa saja—prosedur dan perlengkapan—yang dibutuhkan untuk atraksi menyabung nyawa itu.

Setelah pengantar yang panjang, klimaks cerita tentu atraksi itu sendiri. Selain tertuang dalam buku, kisah nyata ini juga sudah diangkat menjadi film dokumenter oleh James Marsh, Man on Wire (2008). Sebagian penonton sudah tahu atau setidaknya bisa menduga akhir kejadian monumental itu. Namun, ketegangan yang mencekam saat Philippe beraksi membuktikan kepiawaian Robert Zemeckis, sang sutradara yang juga ikut menulis skenario film ini.

Zemeckis yang sebelumnya menggarap sekuel Back to the Future (1985, 1989, 1990), Forrest Gump (1994), Cast Away (2000), dan The Polar Express (2004) adalah seorang pencerita yang juga bereputasi optimal merangkul teknologi efek visual. Melalui teknik sinematografi yang apik, penonton film ini dibuat terhanyut.

Panorama

Teknik kamera memungkinkan penonton seolah mengikuti langkah Philippe sampai ke tepi atap gedung. Kamera itu juga kerap menyuguhkan perspektif panoramik dari posisi Philippe di atas tali. Efek visual ini akan makin memikat dinikmati di layar lebar, bukan di televisi.

Orang yang mengidap fobia ketinggian mungkin ingin melewatkan film ini. Akan tetapi, salah satu kaki tangan Philippe yang membantunya melakukan aksi berbahaya itu adalah orang yang juga takut ketinggian. Relasi Philippe dan si kawan yang takut ketinggian ini menjadi salah satu sisipan menarik. Fakta bahwa ia mampu bertahan seolah memberi harapan bagi mereka yang juga punya fobia serupa.

Menara kembar yang menjadi ”zero ground” pasca serangan teror 11 September 2001 dalam film ini direkonstruksi demikian nyata secara komputerisasi. Tidak disinggung bahwa sekian tahun kemudian tragedi melenyapkan menara ini dan menelan ribuan nyawa. Sebuah pesan manis pada narasi menutup film ini dengan nada optimistis, sekaligus pahit, bahwa aksi Philippe juga membuat warga New York jatuh hati pada si menara kembar.

(NUR HIDAYATI)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Oktober 2015, di halaman 29 dengan judul “Rentangan Sejarah pada Seutas Tali”