Tiga Monolog, Satu Kegelisahan

0
6157

Lelaki itu mengaku bernama Hero. Dia mengenakan kaus lengan panjang dan jubah warna merah, celana ketat putih, juga sebuah kutang dan popok. Dengan sepatu roda yang melekat di kakinya, Hero berputar-putar membawa bendera Merah Putih, sambil menyemburkan sindiran dan pertanyaan tentang berbagai soal.

Di atas panggung, dia mengeluarkan lelucon tentang Gayus Tambunan yang di akhirat dianggap sebagai pahlawan oleh Tuhan, lalu mengeluarkan petuah panjang tentang perempuan yang hamil di luar pernikahan. Hero juga sempat bercakap-cakap dengan pemuka berbagai agama, dari kiai hingga biksu, tetapi kemudian pembicaraannya mulai fokus pada satu hal, yakni sosok ibu.

Tokoh Hero yang ingin menjadi pahlawan sungguhan itu dihadirkan Roci Marciano dalam pentas monolog Ibu, Jumat (2/10) malam, di Gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta. Pentas tersebut merupakan bagian dari Silaturahmi Budaya #5 yang diadakan Anak Muda Bicara (AMB) Teater, sebuah kelompok teater asal Yogyakarta, pada 2-4 Oktober 2015.

Pada malam pertama, selain menampilkan monolog Ibu, Silaturahmi Budaya #5 juga menghadirkan dua monolog lain, yakni Topeng-Topeng oleh Made Ivan Mandalika dan Hariyang Kesekian oleh Henricus Benny Hendriono. Pada Sabtu malam, AMB Teater mementaskan lakon Kalimasada yang merupakan adaptasi bebas dari naskah Republik Petruk karya N Riantiarno, sementara pada Minggu malam, Teater Pecut dari Kuningan, Jawa Barat, mementaskan Mega-Mega karya Arifin C Noer.

Tiga monolog yang ditampilkan pada hari pertama Silaturahmi Budaya #5 sebenarnya mengambil tema yang berbeda. Namun, ketiganya disatukan oleh satu persamaan, yakni sama-sama lebih menampilkan sebuah gagasan atau mengutarakan kegelisahan, bukan hendak menyajikan suatu rangkaian cerita. Oleh karena itu, adegan demi adegan dalam tiga pentas itu nyaris tidak membangun suatu alur cerita, tetapi lebih mengekspresikan gagasan-gagasan yang kadang juga tak utuh.

Monolog Ibu, yang naskahnya ditulis sendiri oleh Roci Marciano, misalnya, tidak hanya mempersoalkan sosok ibu yang jasanya kerap dilupakan, tetapi juga bercerita ihwal Ibu Pertiwi, personifikasi dari bangsa Indonesia yang mengalami berbagai persoalan. Di bagian akhir monolog, Roci menggambarkan kompleksnya persoalan yang dihadapi sang Ibu Pertiwi dengan menghadirkan manekin perempuan telanjang.

Bagi Roci, ketelanjangan sang ibu yang dicarinya itu tak semata-mata persoalan tubuh atau kehormatan, tetapi lebih merupakan simbol dari persoalan yang dialami suatu bangsa. Itulah kenapa, dalam salah satu bagian di monolog itu, Roci mengatakan, ”Oh Ibu, kenapa BH dan celana dalammu juga harus tergadai demi kepuasan anak-anakmu?”

Dibandingkan dua monolog lain, pentas Ibu berjalan jauh lebih hidup. Roci Marciano tidak hanya bermonolog di atas panggung, tetapi juga mendatangi para penonton dan mengajak mereka terlibat dalam pertunjukan. Di bagian akhir pentas, dia bahkan mengajak penonton berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya”. Tentu gimmick menyanyikan ”Indonesia Raya” itu sedikit berlebihan, tetapi paling tidak Roci cukup berhasil membangun keterlibatan penonton.

Monolog Topeng-Topeng yang dimainkan oleh Made Ivan Mandalika berangkat dari naskah karya Rachman Sabur dari Teater Payung Hitam, Bandung. Naskah itu merupakan tafsir atau respons Rachman terhadap naskah Umang-Umang karya Arifin C Noer. Pentas Topeng-Topeng memunculkan kembali tokoh Waska dan Semar yang hadir dalam lakon Umang-Umang. Melalui Topeng-Topeng, Made ingin menghadirkan gagasan tentang dua sifat dalam diri manusia yang kadang bertentangan, yakni baik dan jahat.

Sementara itu, monolog Hari yang Kesekian menampilkan selintas ide dan kegelisahan tentang masa lalu dan masa kini. Naskah monolog yang ditulis sendiri oleh Henricus Benny Hendriono itu menghadirkan seorang tokoh yang telah kehilangan masa jayanya sebagai seorang aparat keamanan dan kini menjalani hari dengan kesepian.

Kegigihan

Yang menarik dari Silaturahmi Budaya #5 bukan hanya unsur intrinsik dari tiap pertunjukan. Kegigihan AMB Teater, sebuah kelompok yang didirikan pada tahun 2009 oleh sejumlah anak muda, menggelar acara itu juga patut diapresiasi. ”Kami tidak mendapat dana dari pemerintah untuk pentas ini. Sempat cari sponsor, tetapi tidak dapat. Namun, ada sponsor atau tidak, kami tetap jalan,” kata pendiri AMB Teater, Abimanyu Prasastia Perdana.

Meski dengan dana terbatas, AMB Teater juga berencana melanjutkan Silaturahmi Budaya #5 ke kota lain dengan mementaskan lakon Kalimasada di Tangerang, Banten, Indragiri Hulu, Riau, dan Singapura. Hal itu bisa dilakukan karena kuatnya jejaring AMB Teater dengan kelompok teater di kota-kota lain.

”Kami menjalin jejaring dengan komunitas teater di Indonesia dan Asia Tenggara, terutama kelompok yang kecil dan tak mendapat dana dari pemerintah. Selain dengan komunitas di Indonesia, kami punya jejaring dengan kelompok dari Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina,” kata Abimanyu.

(Haris Firdaus)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 04 Oktober 2015, di halaman 26 dengan judul “Tiga Monolog, Satu Kegelisahan “