Berkebun Batu-batu

0
2643

Tahun-tahun belakangan ini seniman Sunaryo (72) sibuk berkebun batu. Di lahan seluas 2.000 meter persegi, di kawasan Dago Pakar Timur, tak jauh dari Selasar Sunaryo, puluhan batu yang berasal dari sungai, bukit, dan gunung bertumbuh dalam beragam bentuk.

Keinginan berkebun batu itu, kata Sunaryo, Jumat (28/8), sudah dimulai ketika ia berpameran Batu Melangkah Waktu di Selasar Sunaryo pada 1999. ”Waktu itu materialnya batu-batu kecil, saya tergoda bertanya, bagaimana kalau batu gede-gede?” kata Sunaryo.

Setelah tiga tahun berburu batu ke berbagai pelosok Indonesia, akhirnya kebun batu yang ia sebut sebagai Wot Batu itu akan diresmikan pada Jumat (4/9) mendatang. Sayangnya, taman batu itu cuma bisa menampung sekitar 70 orang. ”Jadi, taman ini akan dibuka untuk publik Januari 2016,” kata Sunaryo.

Wot Batu berarti jembatan untuk menuju pemahaman yang inti tentang batu. Batu, dalam persepsi Sunaryo, tidak saja menjadi material penting dalam gejala geologis bumi, tetapi lebih dari itu, ia menjadi wahana spiritualisme manusia sejak masa megalitikum. Batu-batu diperlukan sebagai sarana mediasi yang menampung kehendak manusia dalam berkomunikasi dengan semesta.

Ketika menyusun Wot Batu, Sunaryo turun langsung menelusur sungai, menaiki bukit dan gunung untuk menemukan batu. ”Saya ikuti kehendak batu-batu,” katanya. Oleh karena itu, susunan batu-batu besar di Wot Batu, bahkan ada yang beratnya 13 ton, dilakukan dengan menuruti kehendak batu. Sunaryo percaya bahwa batu juga membawa takdir ”hidupnya” sendiri. Ketika dipertemukan batu lain atau unsur-unsur seperti logam, ia akan menemukan bentuknya yang paling sesuai. ”Kuncinya saya selalu bergantung pada keseimbangan,” katanya.

Di taman Wot Batu, batu bertumbuh menyerupai gerbang, lingga yoni, kolam, gua, dan bahkan sebuah gang. Seluruh imajinasi itu dibangun dengan cara mempertemukan batu satu dengan batu lainnya. Sesungguhnya Wot Batu menjadi kebun gagasan Sunaryo, yang juga merefleksikan ketekunan, kerja keras, dan pencapaian estetiknya sebagai seorang pemikir dan seniman. Kini, para pengunjungnya bisa memetik kebun gagasan itu dalam berbagai bentuk fantasi yang mencuat dari bongkah-bongkah batu.

(CAN)


Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 30 Agustus 2015, di halaman 21 dengan judul “Berkebun Batu-batu”