Riri, si Dara Khatulistiwa

0
1468

Aroma alam lekat dalam diri Syarifah Fajri Maulidiyah (20). Peraih gelar Puteri Pariwisata Indonesia 2014 ini tak pernah berjarak meresapi keindahan tanah kelahirannya, Pulau Kalimantan. Tubuhnya bahkan masih akrab menyelami Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia itu.

Aku hobi berenang di sungai. Dilarang pun, pasti tetap berenang di Sungai Kapuas. Rasanya asyik ”menghilang” ketika menyelam di aliran airnya yang kecoklatan. Di sore hari, banyak ibu yang mandi dan mencuci. Ramai bermain kejar-kejaran di air. Ini duniaku,” kata gadis Melayu bersapaan Riri ini.

Selama setahun terakhir memakai mahkota Puteri Pariwisata Indonesia, Riri semakin banyak menyelami keindahan alam dan budaya Indonesia. Ketika ditemui di Hotel Ibis, Daan Mogot, wajahnya masih kelihatan lelah seusai berkeliling mengunjungi Kalimantan Utara. Provinsi yang baru terbentuk dua tahun lalu tersebut memang mulai gencar mempromosikan keelokan wisata alamnya.

Kalimantan Utara antara lain memiliki Hutan Lindung Kayan Mentarang yang juga dikenal sebagai ”Heart of Borneo” seluas 1,5 juta hektar. Hutan lindung dengan pohon-pohon raksasa di Kalimantan yang merupakan paru-paru dunia menjadi salah satu kebanggaan Riri dalam mempromosikan tanah kelahirannya.

Tak hanya alamnya, kegiatan sederhana seperti singgah di warung kopi-tepi jalan pun bisa memberi kesan mendalam terhadap keramahan Borneo. ”Masyarakatnya menyambut baik wisatawan. Di warung kopi, aku disuguhi telor kampung karena sedang tidak enak badan. Ada ibu-ibu yang sempat bilang, maaf Kalimantan Utara masih provinsi baru belum ada apa-apanya. Aku langsung ingatkan tentang potensi alamnya yang kaya,” tambah Riri.

Lahir dan tumbuh besar di Pontianak, Kalimantan Barat, Riri bertekad turut mempromosikan kecantikan alam Kalimantan. Sungai Kapuas di Pontianak yang menjadi lokasi berenang favoritnya merupakan destinasi wisata eksotik sebagai sungai terpanjang di Indonesia. Pontianak juga memiliki keunikan karena berada di titik lintang nol derajat yang membagi bumi menjadi dua bagian, yaitu belahan bumi utara dan selatan.

Dilewati oleh garis khatulistiwa menjadikan Pontianak istimewa. Keajaiban alam terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada Maret dan September, tepatnya ketika matahari berada di atas khatulistiwa. Saat seperti itulah, warga Pontianak bergembira merayakan keunikan alam yang hanya ada di Pontianak.

”Kita berdiri di bawah matahari, tapi sama sekali enggak ada bayangan. Kulminasi matahari juga menghasilkan gaya gravitasi yang kuat sehingga bisa membuat telur berdiri tegak di titik nol derajat,” kata Riri.

Syarifah Fajri Mauludiah Putri Pariwisata 2015 Kompas/Riza Fathoni
Syarifah Fajri Mauludiah
Putri Pariwisata 2015
Kompas/Riza Fathoni

Kental Melayu

Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan antara lain diwujudkan dari hal kecil, seperti membiasakan membuang sampah pada tempatnya dan hemat memakai listrik. Ketertarikan pada gaya hidup hijau itu pula yang sempat membawanya meraih gelar Miss Green Technology pada ajang Miss Tourism International 2014 di Malaysia. ”Harus diterapkan ke kehidupan pribadi, baru mengajak orang lain,” tambahnya.

Tak hanya Kalimantan, sejumlah daerah di Indonesia pun sudah mulai dikunjunginya, seperti Banyuwangi, Palembang, dan Nusa Tenggara Barat. Di Pekalongan, Jawa Tengah, Riri mencicipi sulitnya belajar membatik. Dari proses pembelajaran itu, ia semakin menghargai beragam warisan budaya Nusantara seperti batik.

Dalam sesi pemotretan, keindahan kekayaan kain Nusantara seperti batik dan tenun tecermin pada gaun rancangan desainer Eko Tjandra yang tampak indah membalut tubuh Riri yang ramping. Dengan tinggi 169 dan berat 55 kg, pakaian apa pun memang tampak pas di tubuh Riri. Wajahnya yang ayu khas Melayu juga memudahkan sang perias dan penata rambut Venny Angelina. Hanya butuh sedikit sentuhan, maka binar pesona khatulistiwa segera terpancar dari wajah sang dara.

Pada 2013, ketika usianya baru 18 tahun, gelar sebagai Dare Pontianak sudah dikantongi. Wajah Riri memang merefleksikan kecantikan khas dare Kalimantan. Ayahnya asli Kalimantan Barat dan masih keturunan bangsawan Kerajaan Melayu, sedangkan ibundanya berasal dari Sumatera Barat.

Meskipun sudah hampir setahun tinggal di Jakarta, logat Melayu masih kental terasa dari tutur katanya. Beberapa kali, Riri kelepasan menggunakan logat Melayu seperti saye untuk saya atau siape untuk siapa. Nada suaranya yang halus dengan cengkok Melayu semakin pas dengan pembawaannya yang tenang. Tari Melayu seperti jepin dan joget juga dikuasainya, di samping tari dayak.

Syarifah Fajri Mauludiah Putri Pariwisata 2015 Kompas/Riza Fathoni
Syarifah Fajri Mauludiah
Putri Pariwisata 2015
Kompas/Riza Fathoni

Terang fajar

Sejak kecil suka menari dan berlenggak-lenggok di catwalk, potensi Riri ditemukan oleh Iwan Kelana, koreografer di sanggar Kelompok Kelana Suara Putra, desainer David Rusli, dan presenter Beben. Mereka pula yang kemudian menjadi mentor dan menumbuhkan rasa percaya diri untuk mengikuti ajang putri kecantikan.

Dari awalnya tergolong gadis pendiam dan pemalu, Riri kemudian tampil percaya diri di lintasan mode. ”Dulu, di sekolah, aku enggak bisa ngomong. Takut salah. Takut ditanya. Di sanggar, aku dipaksa mencoba. Mereka sabar banget membimbing aku dari nol,” kata Riri.

Setelah memenangi Dare Pontianak 2013, Riri kemudian terpilih sebagai Puteri Pariwisata Indonesia Kalimantan Barat kemudian menang di tingkat nasional. Selama proses karantina, pesertanya padat berkompetisi hingga dini hari dan harus kembali beraktivitas sejak pukul 04.00.

”Ternyata aku bisa, sempat ragu karena aku berasal dari kampung. Aku masih tahap belajar. Aku jalani saja dan aku ikuti. Semua yang kudapat ini rezeki dari Tuhan,” kata Riri. Harus beradaptasi dengan kehidupan Ibu Kota, Riri menyimpan mimpi besar untuk memberi sumbangsih bagi kemajuan pariwisata Indonesia.

Menyandang nama Fajri Maulidiyah karena lahir di fajar bulan Maulid, Riri ingin membagi optimisme bahwa Indonesia adalah negeri cantik. ”Pariwisata Indonesia unggul karena keragaman budayanya,” kata Riri.

(Mawar Kusuma)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Agustus 2015, di halaman 17 dengan judul “Riri, si Dara Khatulistiwa”