Kenangan dalam Secangkir Teh Wangi…

0
4123

Teh wangi telah dikonsumsi rakyat berlapis-lapis generasi. Padahal, pada awalnya, aroma melati pada teh wangi itu hanya siasat untuk menyamarkan kualitas teh yang kurang baik. Teh melati lalu menjadi ciri khas teh Indonesia.

Coba ingat deretan teh berikut ini. Teh Balap, Sintren, Nyapu, Lucu, Dandang, Gopek, Petjut, Tjatoet, Tang, Ketongan, 999, Tong Tji, Poci, Botol, Bandul, Naga, Goalpara, Sarawaita, Pendawa, Melati, Gardu, Kepala Jenggot, dan deretan merek lain. Teh mana yang ada dalam kenangan Anda? Setiap orang punya kenangan dan fanatisme pada merek-merek tertentu.

Semua teh di atas mempunyai produk teh wangi dengan aroma melati. Teh melati telah menjadi bagian dari selera rakyat turun-temurun. Mereka terbiasa menyeruputnya sejak kecil. Salah satunya Rini Wulandari (39), perempuan asal Solo yang kini mukim di Bali. Meski berada di ruang sosial berbeda, selera Rini tetap teh manis yang wangi itu. Di Bali dia juga sulit menemukan teh favoritnya. Namun, Rini tak kehilangan akal. Dia meminta keluarganya di Solo untuk mengirimkan teh-teh favoritnya.

Ia tak bisa melepaskan diri dari jerat secangkir teh panas manis-sepat dan wangi yang dicecapnya sejak masih kecil. Warna teh yang merah-kecoklatan dengan uap panas mengepul dari bibir cangkir membuat hasrat dan kenangannya bangkit. Paduan rasa manis, sepat, dan wanginya meninggalkan jejak kuat di ujung lidah. Sang ibu dulu setiap hari selalu menyiapkan teh hangat di pagi hari.

”Sebelum saya bangun pagi dan bersiap ke sekolah, Ibu sudah menyiapkan sarapan dan secangkir teh manis. Bahkan, sore dan malam hari sebelum tidur pun, kadang kami minum teh dulu,” ungkap Rini.

Teh yang menjadi favorit sampai hari ini di rumahnya di Solo adalah Nyapu, Sintren, dan Gopek. Rasa dan aroma ketiga teh tersebut, ujar Rini, menjadi sangat lengkap ketika disatukan. ”Yang membuat istimewa itu karena kental, warnanya yang merah, serta rasanya yang sepet dan wangi,” ujar Rini.

Rini ingat betul ketika eyang putrinya menyeduh teh dengan teko dari keramik warna putih bergambar bunga-bunga dan cangkir-cangkirnya yang mungil, memanggilnya mendekat. ”Saya disuruh duduk dekat eyang dan disuguhi kue semprong dan teh. Semenjak itu jadi kebiasaan sendiri kalau ada camilan, harus ditemenin teh hangat,” tutur Rini.

Bagi Anita (46), teh juga selalu mengingatkan kenangan akan sang ibu. Sejak kecil, sang ibu setia dengan merek teh 999 yang menurut Anita paling enak. Jika badan meriang dan sakit perut menyerang, Anita minum teh panas racikan ibu. ”Setelah minum teh panas, tubuh serasa lebih sehat,” kata Anita.

Nourma (36) juga mengenang almarhum bapaknya yang dari Yogyakarta sebagai seorang pencinta teh fanatik. Favoritnya adalah teh Pendawa yang diminum dengan gula batu. ”Pokoknya harus panas, legi dan kenthel,” katanya.

Teh tradisional kemasan dari berbagai daerah di Indonesia, Jumat (7/8). Kompas/Lucky Pransiska
Teh tradisional kemasan dari berbagai daerah di Indonesia, Jumat (7/8).
Kompas/Lucky Pransiska

Teh rakyat

Teh wangi diolah dari pencampuran daun teh dan bunga melati segar. Teh wangi sejatinya adalah teh kebanggaan bangsa Indonesia. Teh wangi merupakan satu-satunya teh yang bisa menjadi ciri khas Indonesia karena lahir dari kreativitas pengusaha teh rakyat. Teh wangi di Indonesia umumnya diproduksi oleh perusahaan keluarga dengan resep pengolahan yang diwariskan turun-temurun. Tiap perusahaan punya cara unik sehingga menghasilkan teh wangi yang cita rasanya tidak bisa disamakan dengan teh wangi lainnya.

Di pasaran, teh wangi ini dijumpai dalam berbagai merek, seperti Teh Tjatoet, Teh Kepala Jenggot, Teh Nyapu, atau Teh 2Tang. Sejak sebelum Indonesia merdeka, keluarga besar Presiden Direktur PT Tang Mas Leonardus Hanjoyo sudah mengolah teh wangi sebagai bahan baku utama.

Meskipun telah melebarkan sayap ke produk olahan teh dalam kemasan seperti minuman teh beraroma jeruk Frutang, hingga kini PT Tang Mas setia memproduksi teh wangi alias teh rakyat. Pasar terus berkembang ke industri kemasan siap minum. Namun, menurut Hanjoyo, masih banyak konsumen yang mempertahankan konsumsi teh cara model lama. ”Selera masyarakat telanjur terbentuk oleh kenangan turun-temurun teh wangi,” kata Hanjoyo.

Kesetiaan mengolah teh rakyat sudah dimulai oleh ayahanda Hanjoyo, yaitu Sispramono atau Kwee Pek Hoey, bersama lima saudaranya yang mendirikan perusahaan teh FA Gopek. Pada tahun 1968-1969, Kwee Pek Hoey berpisah dengan saudaranya dan melanjutkan usaha bisnis teh wangi dengan berbagai merek seperti 2Tang, Tjatoet, dan Jumput yang hingga kini masih diproduksi dengan bendera PT Tang Mas.

Teh Gopek masih bisa dinikmati oleh konsumen di kawasan Semarang, Purwokerto, Madiun, dan Tegal. Adapun teh wangi 2Tang dan teh Tjatoet dijumpai di DI Yogyakarta. Sedangkan teh jumput terkenal di Tegal. ”Selera masyarakat sudah terbentuk. Konsumen teh sangat kenal dengan rasa teh kegemarannya. Ada proses berbeda yang sangat menentukan hasil akhir,” tambah Hanjoyo.

Proses pengolahan teh wangi tergolong lebih panjang dibanding teh hijau yang saat ini sedang naik daun di kalangan masyarakat menengah atas. Jika teh hijau hanya melalui proses pemanenan dan penggorengan sangrai,teh melati harus diolah lagi dengan tambahan proses pemanggangan agar berwarna lebih hitam baru kemudian dicampur dengan bunga melati.

Jenis teh yang banyak ditanam di perkebunan teh rakyat yang bertipe asam dan bibitnya berasal dari India sangat cocok diolah menjadi teh wangi. ”Meski prosesnya lebih panjang, tidak kemudian menjadi lebih mahal. Teh melati ini minuman rakyat, persepsinya belum setinggi teh hijau atau oolong,” tambahnya.

Walaupun dijual dengan harga terjangkau, teh wangi tetap harus berjuang mengedepankan kualitas. Bahan baku yang digunakan akan lebih baik jika berasal dari pucuk tiga daun teh muda. Konsumen harus pintar menakar kualitas teh wangi dengan melihat komposisi antara jumlah batang dan daun teh. Pemakaian batang teh masih bisa ditoleransi jika tidak lebih dari 5-10 persen. ”Kurang dari itu, rasa sepatnya akan hilang,” kata Hanjoyo.

Siasat

Ketua Umum Dewan Teh Indonesia Rachmat Badruddin menyebut teh wangi sebagai teh khas Indonesia yang bisa ditonjolkan sebagai kebanggaan bangsa. Padahal, awalnya, penambahan melati lebih ditujukan untuk menyamarkan kualitas jelek pucuk kasar yang diproduksi oleh perkebunan teh rakyat. Seiring waktu, selera masyarakat sudah terbentuk dan telanjur jatuh cinta pada olahan teh wangi.

Diawali dari Indonesia, produsen besar teh dunia seperti Tiongkok turut memproduksi teh melati. Produksi teh wangi di Indonesia juga mampu menopang keberlanjutan produksi perkebunan teh rakyat yang arealnya mewakili 47 persen dari total luasan perkebunan teh di Indonesia meskipun produksinya hanya menyumbang 23 persen. Mayoritas perkebunan teh rakyat memproduksi teh hijau yang hampir seluruhnya diserap industri teh wangi.

Teh yang kebanyakan diproduksi dari perkebunan rakyat dari Jawa Barat ini kemudian dibawa ke Jawa Tengah untuk mendekati perkebunan melati yang banyak ditanam di Jawa Tengah. ”Teh wangi diterima sebagai rasa yang digemari turun-temurun. Cita rasa yang ternyata disenangi masyarakat kita,” tambah Rachmat.

Slrrpp… ah….

(Dwi As Setianingsih & Mawar Kusuma)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Agustus 2015, di halaman 30 dengan judul “Kenangan dalam Secangkir Teh Wangi…”