Merayakan Asa di Pulau Harapan

0
1234

Matahari menyorot jingga sebelum terbenam di ufuk barat. Inilah salah satu sensasi Pulau Bulat, Kelurahan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. Febrianti dan Dimas menyatukan kedua tangan mereka membentuk hati. Dan, ”klik…” bunyi jepretan kamera mengabadikan siluet tanda cinta mereka.

Senja pada Sabtu (24/1) menjadi saksi bisu sejoli asal Jakarta memadu kasih. ”Ciyeeee, yang punya pacar seneng banget,” ujar teman-teman mereka menggoda. Sembari bergandengan tangan, Febrianti (19) dan Dimas (20) tersipu-sipu.

Pemandangan matahari terbenam di Pulau Bulat merupakan salah satu bagian paket wisata ke Pulau Harapan di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Dengan jarak sekitar 60 kilometer dari daratan Jakarta, tidak sulit untuk menjangkau pulau ini karena moda transportasi laut selalu ada setiap hari baik itu dari Pelabuhan Muara Angke maupun Marina Ancol.

Jika melalui Muara Angke, wisatawan dapat menumpang kapal kayu bertarif Rp 50.000 per orang dengan lama tempuh 3,5 jam. Sementara jika bertolak dari Marina Ancol, wisatawan dapat menggunakan kapal cepat bertarif Rp 270.000 per penumpang dengan waktu perjalanan dua jam.

Febrianti dan Dimas berangkat ke Pulau Harapan bersama 12 teman mereka dari Jakarta untuk berlibur. Mereka bagian dari ratusan wisatawan yang memadati pulau itu akhir pekan lalu.

Pulau berpenduduk 1.760 jiwa itu hanya dijadikan tempat menginap bagi wisatawan. Yang jadi daya tarik justru pulau-pulau lain di sekitarnya, seperti Pulau Perak, Pulau Kayu Angin Genteng, Pulau Bulat, Pulau Macan, Pulau Putri, Pulau Genteng Kecil, dan Pulau Kelapa Dua.

Febrianti dan kawan-kawan, misalnya, diajak snorkeling oleh pemandu wisata ke Pulau Kayu Angin Genteng dan Pulau Perak, kemudian menyusuri Pulau Bulat dan Pulau Genteng Kecil. ”Wisata ke pulau ini banyak tempat yang bagus. Bisa snorkeling dan jalan-jalan keliling pulau. Lagian murah dan dekat dari Jakarta,” ujar Febrianti.

Tidak hanya warga Jakarta. Warga luar Ibu Kota pun tertarik ke sini. Sebut misalnya, Riyan Fajar (22), mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Ia turut berkunjung Pulau Harapan pada akhir pekan lalu. Dia mendapatkan informasi dari internet dan memutuskan bertolak dari Malang menggunakan kereta api.

”Pulau ini, kan, tidak jauh dari Jakarta dan lokasinya masih bersih dan alami. Beda dengan perairan Jakarta yang hitam-kotor dan lalu lintasnya macet, he-he-he,” kata Riyan.

Sejak tahun 2012, aktivitas wisata bersemi di pulau seluas 6,7 hektar tersebut. Penginapan bermunculan, warga mendadak beralih kerjaan menjadi pemandu wisata, dan kapal penumpang pun membeludak dipenuhi wisatawan pada akhir pekan.

Berdasarkan data Kelurahan Pulau Harapan, pada tahun 2011 hanya terdapat 16 penginapan di Pulau Harapan. Jumlah ini kemudian meningkat menjadi 86 penginapan pada tahun 2013 dan menjadi 119 penginapan hingga Januari 2015.

Gambaran pulau

Pulau Harapan menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Selain itu, juga terdapat kantor Kelurahan Pulau Harapan, puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap untuk ibu melahirkan, kantor urusan agama, serta taman terpadu yang berisi fasilitas bermain anak.

Pulau yang berdampingan dengan Pulau Kelapa ini merupakan salah satu dari 30 pulau yang masuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Pulau Harapan. Terdapat satu pulau lagi yang berpenghuni, yakni Pulau Sebira yang jaraknya sekitar 20 kilometer ke utara. Adapun 28 pulau lainnya berupa pulau wisata yang dikelola pihak swasta dan pulau konservasi.

Pulau Harapan terbilang kecil dan padat. Jika menggunakan sepeda motor, hanya dibutuhkan 15 menit untuk mengelilingi lingkar luar pulau ini. Permukiman padat mengapit jalan selebar 2 meter atau hanya cukup dilewati dua sepeda motor. Tidak terlihat satu pun mobil di tempat ini.

Meski cukup padat, Pulau Harapan terbilang cukup bersih. Tidak sulit menemukan tong sampah di sejumlah ruas jalan. Petugas kebersihan dari kelurahan menyapu jalan setiap hari.

Wisatawan yang berkunjung ke pulau ini juga tak perlu risau soal akses listrik. Sekretaris Kelurahan Pulau Harapan Ardani mengungkapkan, pulau ini dialiri listrik selama 24 jam melalui kabel laut sejak awal 2011. Sebelumnya, listrik hanya menyala pukul 17.00 hingga 06.00 karena mengandalkan genset.

Kendala terbesar di Pulau Harapan adalah krisis air bersih yang terjadi saat musim kemarau. Warga hanya mengandalkan satu-satunya alat pemurnian air di pulau ini untuk memperoleh air. Alat itu beroperasi sekitar 10 jam per hari dan memproduksi 3.600 liter air bersih.

Kondisi ini jauh dari pemenuhan kebutuhan warga. Sebagai gambaran, jika satu orang membutuhkan 30 liter air bersih per hari, maka alat itu hanya dapat memenuhi kebutuhan 120 jiwa atau kurang dari sepersepuluh penduduk Pulau Harapan. Adapun saat musim hujan, air cukup melimpah karena warga juga memakai air bersih dari penampungan air hujan.

Terkait pengembangan wisata, pulau ini masih minim prasarana pendukung, seperti tidak adanya pusat informasi wisata, petunjuk jalan, dan alat transportasi di dalam pulau. Belakangan, persoalan keamanan lingkungan juga menjadi perhatian warga.

Camat Kepulauan Seribu Utara Agus Setiawan mengatakan, masih banyak infrastruktur yang perlu dibenahi dalam rangka pengembangan wisata di pulau ini. Pemerintah juga tengah fokus menata sampah dan lingkungan

Ke depan, pulau ini diharapkan mampu menjadi destinasi wisata internasional. Jika ingin memenuhi hasrat wisata bahari, tidak perlu repot-repot terbang ke Bali….

Kompas/Harry Susilo


 

[venue id=4c413717ff711b8d5eba1105]