Dari Kertas ke Digital

0
778

Mungkinkah sabak elektronik bisa menggantikan buku sebagai media belajar di sekolah? Itulah pertanyaan yang mengemuka begitu wacana tersebut digelindingkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Penggunaan sabak elektronik memiliki keunggulan, seperti distribusi lebih mudah serta materi lebih kaya dan interaktif bagi pengajar dan murid.

Salah satu poin penting dari kebijakan ini, seperti diutarakan Anies, adalah para pelajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal mendapatkan pengetahuan dan informasi yang sama dengan mereka yang tinggal di perkotaan.

Nantinya para pelajar akan mendapat pinjaman sabak elektronik dari sekolah. Pada masa menteri sebelumnya, kebijakan serupa pernah muncul, yakni buku sekolah elektronik (BSE), tetapi memiliki perbedaan mendasar. Sabak elektronik berupa materi ajar yang interaktif, sementara BSE merupakan lembar buku yang dibuat dalam format digital dan bisa dicetak lagi sesuai kebutuhan.

Lumrah jika kemudian muncul kekhawatiran atas program ini mengingat perangai dan norma dari dunia internet bisa membahayakan anak. Ancaman pornografi, perundungan siber, dan pengaruh buruk lain memang nyata-nyata dihadapi pengguna internet setiap hari. Oleh karena itu, pertanyaan besar seperti pada awal tulisan pun mengemuka.

Pelibatan gawai, seperti sabak elektronik, di lingkungan sekolah bukanlah fenomena baru. Sebuah studi di Inggris tahun 2014 menyebut, 70 persen sekolah dasar dan menengah di sana menggunakan sabak elektronik di ruang kelas.

Sekolah juga menjadi lahan yang diperebutkan produsen elektronik dengan membuat perangkat yang harganya terjangkau, tetapi memiliki fungsionalitas. Komputer jinjing Chromebooks yang dijual dengan harga 200 dollar AS, misalnya, mampu menggeser keberadaan sabak elektronik iPad di sekolah di Amerika Serikat, seperti tertulis pada laporan Financial Times, November 2014.

Bukti lain, program pemberian sabak elektronik bagi anak-anak di Benua Afrika ternyata menghasilkan kenyataan yang menggembirakan. Program One Laptop One Child yang digelar di sebuah desa di Etiopia pada 2012 ternyata memunculkan anak-anak setempat yang menguasainya dalam waktu singkat.

Meski tinggal di rumah berdinding kayu dan berlumpur serta belum bersekolah, tidak butuh waktu lama bagi anak-anak untuk segera terbiasa dengan gawai tersebut. Mereka bisa mengeja, membedakan warna, hingga mengulik sistemnya.

Tantangan akses internet

Ada beberapa tantangan yang harus dijawab oleh program pengadaan sabak elektronik ini. Harus bisa dipastikan bahwa barang inventaris sekolah yang dipinjamkan kepada murid itu bisa terhindar dari kerusakan, hilang, atau dipasangi aplikasi yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan.

Akses internet menjadi tantangan berikutnya mengingat koneksi di daerah tujuan distribusi masih mengalami kendala dalam cakupan layanan internet. Hal ini memunculkan masalah berikutnya, yakni distribusi materi ajar akan sulit dilakukan jika harus ada pembaruan melalui koneksi internet atau menggunakan metode pembaruan luring, yakni menyebar versi terbaru secara fisik ke sekolah untuk kemudian disalin ke setiap perangkat.

Setidaknya pemerintah sudah berupaya agar pemerataan akses internet berjalan cepat sejak tahun ini. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara yang ditemui pekan lalu mengungkapkan, Indonesia memiliki rencana pita lebar lima tahunan untuk mendorong pembangunan infrastruktur internet hingga tahun 2019.

”Investasi sebesar Rp 270 triliun akan diserap untuk proyek terkait rencana ini,” ujarnya.

Seperti kisah anak dari Etiopia, Inggris, atau Amerika Serikat, mereka yang lahir sebagai generasi digital akan lebih mudah mengambil manfaat dari perangkat ini. Hal ini sejalan dengan dunia internet yang sebetulnya menawarkan kekayaan pengetahuan bagi mereka yang mau meluangkan waktu.

Memanfaatkan sabak elektronik jika tersambung dengan jaringan internet, siswa bisa meriset topik apa pun yang menjadi minatnya, belajar segala hal melalui video di Youtube, membaca literatur melalui Google Books, mengikuti kursus daring melalui layanan Coursera, dan sebagainya.

Tantangan yang paling utama justru terletak pada sosok guru yang kini dituntut untuk bisa memantik keingintahuan para siswa sehingga mereka mampu menjelajah dunia internet, bukan sekadar menggantikan isi buku cetak ke layar sabak elektronik. Seperti diutarakan David Thornburg, seorang penulis buku pendidikan dan teknologi, peran seorang guru bisa digantikan oleh komputer kalau memang layak diganti.

Kompas/