Isyarat Bintang di Langit Wakatobi

0
1931

Orang Bajo mendamba kegelapan malam. Untuk menjaga lautan tetap berselimut malam yang pekat, mereka tidak akan mengarahkan lampu ke laut. Dengan begitu, para nelayan leluasa menjadikan bintang-bintang sebagai panduan dalam mengarungi samudra.

Suku Bajo dikenal sebagai penakluk lautan. Mereka lahir dan hidup di laut. Bukan sekadar berbekal keberanian mengarungi samudra, orang Bajo memanfaatkan kepandaian mereka menerjemahkan isyarat dari bintang-bintang yang menjadi teman perjalanan mengarungi lautan. Tanpa kompas dan hanya berbekal kemampuan membaca bintang, mereka bisa menentukan arah pelayaran, memperkirakan waktu, serta menemukan lokasi dan waktu yang tepat untuk menangkap ikan.

Ketika kabut susu bintang-bintang di dalam galaksi Bima Sakti membentuk garis miring menurun dari kiri ke kanan, para nelayan tahu bahwa saat itu masih di bawah pukul 01.00. Sebaliknya, ketika garis miring menurun dari kanan ke kiri, itu tandanya waktu telah tergelincir dari pukul 01.00.

Rasi bintang layang-layang atau salib selatan yang disebut lalayah oleh orang Bajo menjadi penanda arah selatan. Bintang itu selalu muncul dan tenggelam sepanjang waktu di arah selatan. Ada pula rasi-rasi bintang yang hanya muncul di bulan-bulan tertentu. Bintang dijadikan penunjuk arah ketika posisinya berada di kaki langit.

Bintang jatuh atau meteor menjadi hadiah terindah malam bagi nelayan. Arah jatuhnya bintang menjadi penanda di situlah banyak terdapat ikan. Tidak hanya itu, bulan juga menjadi sahabat yang dinantikan nelayan Bajo. Ketika bulan sabit dengan lengkungnya menghadap ke laut, itu berarti hasil laut tengah melimpah dan sebaliknya.

Fase bentuk bulan akan menjadi penanda kapan waktu ikan kawin, bertelur, dan mencari mangsa. Selama 3-10 hari bulan muda berada di langit, saat itulah ikan tengah berkumpul memadu kasih. Masa 13-25 hari bulan di langit adalah waktu ketika ikan memijah atau bertelur. Setelah itu, adalah waktu yang tepat untuk memancing.

”Saat itu, ikan sedang lapar-laparnya karena capek seusai bertelur. Mereka akan sigap menangkap umpan- umpan yang datang,” kata Ati, guru SMP yang berasal dari keluarga nelayan Bajo di Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Ia bersama Aswin, yang juga seorang guru, dan nelayan bernama Mukmin Rabbana memandu kami dalam acara Star Telling atau Cerita Bintang, wisata minat khusus yang mulai dikembangkan di kawasan Desa Mola Raya di Pulau Wangi-wangi.

Presiden Bajo

Sambil duduk lesehan di dermaga Mola Utara, peserta memandang langit yang dihiasi taburan jutaan bintang sambil mengemil pisang goreng. Udara malam berembus lembut ke arah dermaga yang dikelilingi pelita-pelita kecil yang mempercantik suasana. Tepi laut ini menghadap sebuah pulau sehingga angin malam tidak terlalu kejam.

Selain Cerita Bintang, kelompok masyarakat dari Lembaga Pariwisata (Lepa) Mola ini juga mengembangkan Walking Tour atau jalan-jalan melihat lebih dalam kehidupan suku Bajo. Di Wakatobi, konsentrasi terbesar suku Bajo berada di kawasan Mola Raya yang meliputi Desa Mola Utara, Mola Selatan, Mola Samaturu, Mola Bahari, dan Mola Nelayan Bhakti. Pergeseran cara hidup suku Bajo tecermin di sini, dari mulai rumah tancap yang berdiri di atas laut yang masih banyak ditemukan di Desa Mola Bahari hingga rumah-rumah yang berdiri di atas daratan hasil reklamasi sebagai buah kebijakan di masa lalu.

Suku Bajo hidup tersebar di sejumlah wilayah, tidak hanya di Nusantara, tetapi juga ke mancanegara. Mereka bahkan punya presiden suku Bajo yang kini dijabat Abdul Manan. Setiap tahun orang Bajo dari berbagai belahan dunia mengikuti pertemuan yang tahun ini diselenggarakan di Kendari. Meskipun tinggal berlainan negara, sesama orang Bajo biasanya masih bisa saling berkomunikasi.

Orang Bajo adalah anak ”kandung” lautan. Plasenta atau ari-ari bayi yang baru lahir biasanya dilarung ke laut. Ari-ari ini dianggap sebagai kembaran mereka. Kini, ada sedikit pergeseran, yakni ditaruh di bawah atau atas tangga rumah tetapi posisinya tetap tercelup di air laut. Orang Bajo di masa lalu melaksanakan segala aktivitas di atas lepa atau perahu. Hingga kini, mereka masih memelihara sejumlah kebiasaan yang diturunkan nenek moyang mereka.

Untuk menghindari terik matahari yang membakar wajah ketika melaut, nelayan biasa mengoleskan bedak pupur yang terbuat dari beras tumbuk yang dicampur dengan daun mangkokan atau kunyit. Pupur yang dibuat ibu-ibu dengan menggunakan lumpang ini semacam bedak dingin atau masker yang membuat kulit terasa kencang ketika digunakan sekaligus melindungi dari sengatan sinar matahari. “Pupur dengan kunyit biasa dipakai ibu-ibu di rumah, sedangkan yang dicampur daun mangkokan dipakai untuk melaut,” kata Nurul, salah satu pegiat di Lepa Mola.

Selain dibawa melihat proses pembuatan pupur, peserta jalan-jalan juga diajak mengunjungi perajin kacamata renang, alat tangkap ikan, pembuatan perahu, pengobatan, dan perumahan suku Bajo. Anta (67) sudah bertahun-tahun membuat carungmeng, yakni kaca mata renang yang terbuat dari kayu. Biasanya, bahan yang dipakai adalah kayu kalimpapah asal Pulau Buton yang juga dipakai untuk membuat perahu.

Menurut Koordinator Lepa Mola Samran, ada banyak pembuat carungmeng, tetapi hanya ada dua yang benar-benar fokus membuatnya, antara lain Anta yang juga tercatat sebagai orang Bajo pertama di Mola yang menjadi guru.

Dalam sehari, Anta mampu membuat tujuh carungmeng yang dijual Rp 25.000 per buah.Carungmeng ini dilengkapi dengan kaca yang dipasang dengan bantuan lem kayu.Carungmeng biasa dipakai untuk menyelam di laut dangkal mencari ikan,” kata Anta.

Ikan batu atau ikan karang, seperti kerapu, baronang, atau kakatua, adalah jenis ikan yang biasa diburu nelayan dengan berbekal pana di kedalaman air 3 meter. Kesederhanaan hidup dan pola pikir suku Bajo mengantar rasa damai yang bersemayam di dasar hati.

(Sri Rejeki)


Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 6 September 2015, di halaman 25 dengan judul “Isyarat Bintang di Langit Wakatobi”