Komik Jurnalistik, Format Asyik Menyampaikan Berita

0
44
Iskandar Salim dalam seminar 'FORMASI: Informasi Masa Kini' pada Rabu (10/04/2019) di Lecture Hall, New Media Tower, UMN. Foto: Kompas Corner UMN / Meiska Irena P.

Salah satu media kampus di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), ULTIMAGZ merayakan ulang tahun ke-11 mereka melalui serangkaian acara bertajuk ‘Formasi: Informasi Masa Kini’. Salah satu rangkaian acara yang diadakan adalah seminar pada Rabu (10/04/2019) di Lecture Hall, New Media Tower, UMN, Serpong.

Di tahun ke-11 ini, ULTIMAGZ mengangkat seputar perantara visual dan penggunaannya dalam dunia jurnalistik. Penggunaan perantara visual memang bukan hal yang baru dalam dunia jurnalistik, salah satu contohnya adalah infografik. Namun, ternyata tidak hanya infografik yang digunakan, komik pun juga bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan suatu berita loh, Sobat Muda!

Penggunaan komik untuk keperluan penyampaian berita disebut sebagai comic journalism. ULTIMAGZ mengundang seorang comic journalist yang nama dan karya-karyanya cukup populer, khususnya di media sosial, dalam seminar ‘Introducting to Comic Journalism on Millenials Era’Comic journalist yang dimaksud adalah Iskandar Salim, kreator di balik komik-komik yang viral di dunia maya, Komik Faktap.

Komik Faktap merupakan terusan dari kegemaran menggambar Iskandar sedari kecil. Kegemaran tersebut kemudian dikembangkan dan dituangkan dalam bentuk komik, yang sudah ia mulai tekuni sejak duduk di bangku kuliah.

Setelah menggambar komik-komiknya dan mempublikasikannya ke jejaring sosial sekitar tahun 2015, dirinya tidak menyangka bahwa akan ada salah satu karyanya yang menjadi viral.

“Awalnya sih cuma iseng, cuma pengin nyenengin diri sendiri aja gitu. […] dan temanya juga remeh-temeh dan sepele banget gitu, jokesjokes garing kayak gitu. Terus ternyata ada satu komik tuh yang saya bikin tentang Khong Guan. Ternyata viral gitu,” cerita Iskandar tentang masa awal karir berkomiknya.

Iskandar Salim dalam seminar ‘Introducing to Comic Journalism on Millenials Era’ pada Rabu (10/04/2019) di Lecture Hall, New Media Tower, UMN. Foto: Kompas Corner UMN / Meiska Irena P.

Komik kerap diasosiasikan dengan hal yang ‘anak-anak’. Hal itu pula yang sempat membuat Iskandar vakum untuk beberapa waktu dari menggambar komik. Namun, sepanjang perjalanannya dalam berkomik, ia menemukan bahwa komik adalah medium yang tidak kalah efektif untuk menyampaikan berita.

“Bahwa komik yang banyak orang anggap itu sepele sekali ya, komik gitu kan, kayak bacaan anak-anak. Ternyata enggak. Cukup efektif ya untuk memengaruhi orang,” papar Iskandar.

Hidup yang bergerak semakin cepat seiring dengan berkembangnya zaman menyebabkan berkurangnya waktu audiens untuk mencerna informasi. Karenanya, masyarakat membutuhkan format penyampaian berita yang mampu memenuhi laju hidup mereka sehari-hari. Iskandar merasa komik merupakan format penyampaian berita yang sesuai.

“Jadi komik itu efektif dalam hal memvisualisasikan tulisan-tulisan yang lebih kompleks dan panjang. Untuk mewakili tulisan-tulisan yang panjang supaya lebih gampang dicerna,” jelas Iskandar. Ia melanjutkan, oleh karena kita manusia yang lebih ke makhluk visual ya. “Jadi begitu kita lihat gambar, kita lebih cepat menangkapnya,” katanya.

Dalam berkomik, Iskandar menyampaikan beberapa tips untuk membuat komik. Di antaranya adalah membuat pembaca menjadi pembaca yang aktif dengan menahan sebagian informasi. “Dalam menyampaikan cerita di komik, sah-sah aja kita enggak menceritakan semuanya. […] Kita harus membiarkan gambar kita itu bicara dan kita biarkan pembaca kita itu berpikir sedikit,” papanya lagi.

Membiarkan pembaca menebak jalan cerita dari komik dapat digunakan untuk meningkatkan rasa keterkaitan pembaca dengan komikus.

“Jadi pada saat pembaca itu menebak, ‘oh gue ngerti nih maksudnya’, jadinya mereka tuh jadi satu frekuensi dengan kita, satu pemahaman dengan kita,” lanjutnya. Dan karena itu juga, menurut Iskandar, dengan sendirinya si komikus membangun ikatan dengan pembacanya, bahwa ini apa yang disampaikan lewat karya komiknya, gue banget. “Jadi itu reward bagi pembaca sekaligus kita sebagai komikus. Itu bisa jadi modal kita untuk bangun fan base,” urai Iskandar.

Hal lain yang turut ditekankan oleh Iskandar adalah keterbacaan tulisan dalam komik. Karena menurutnya keterbacaan adalah salah satu syarat komik yang ia sering temukan luput dari suatu komik. “Memang kalo dari segi estetika, kalau kita pakai tulisan font-nya lebih gede, itu agak merusak estetika. Cuma bagi saya itu satu trade off yang harus kita tukar, yang penting sebenarnya jelas gitu. Orang lihat sebentar langsung kebaca maksudnya apa.”

PENULIS: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita

FOTO: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita