Menyulap Koran Bekas Jadi Karya Seni

0
113
Workshop Kampung Koran Mengajak Anak Muda Mendaur Ulang Sampah Koran / foto: Veronica G.

Apa yang terpikir di benak Sobat Muda ketika mendengar kata kertas? Buku, koran, kardus, atau tisue? Ini saatnya berpikir lebih tentang nilai guna kertas lewat pameran foto “Cerita Kertas” yang digelar Harian Kompas bekerja sama dengan APP Sinarmas, pada Rabu (13/3/2019) sampai Jumat (15/3/2019), di Bentara Budaya Jakarta.

Di pameran itu, kita diajak melihat kalau kertas tidak sekadar bahan dasar yang dipakai sehari-hari, tetapi juga bentuk cerita perjalanan yang menginspirasi. Bahkan, walau wujudnya sudah bekas, kertas tetap punya potensi dimanfaatkan. Bagaimana carannya? Intip saja workshop Kampung Koran yang handal menganyam koran menjadi kerajinan yang bisa dijual dan menambah uang jajan kita, lho!

Workshop Kampung  Koran  didominasi kehadiran anak muda. Mereka tampak sibuk mengikuti langkah demi langkah proses menganyam yang dibimbing oleh Nurmala dan Meylinda, dua pengajar komunitas Kampung Koran. Banyak dari peserta mengaku prosesnya tidak muda, karena melewati empat cara, yaitu melinting kertas, menganyam, mencetak di wadah yang diinginkan, kemudian menguncinya sebagai proses akhir. Kesabaran dan ketelitian diperlukan untuk menghasilkan karya kerajinan koran yang rapi dan bernilai guna. Tak jarang peserta harus membongkar ulang anyamannya karena ada kesalahan.

Nurmala dan Meylinda, dua pengajar dalam workshop Kampung Koran / foto: Veronica G.

“Baru pertama kali bikin kerajinan kayak begini, apalagi pakai kertas. Seru sih, ngelatih kesabaran sekaligus nostalgia kelas kesenian pas SD dulu. Bagian paling susahnya itu saat menganyam di cetakan, harus teliti banget,” ujar Kevin, salah satu peserta pelatihan.

Menambah uang saku

Komunitas Kampung Koran sendiri didirikan pertama kali oleh Kompas Gramedia sebagai program Corporate Social Responsibility. Kini telah beranggotakan sekitar tiga puluh perempuan, yang rutin menggelar pertemuan tiap minggunya. Komunitas ini dengan terampil menghasilkan sejumlah kerajinan koran yang kemudian dijual, bahkan diekspor ke luar negeri, seperti Hongkong. Biasanya kerajinan berupa wadah serbaguna, tas jinjing, kotak tisu, topi, vas, tikar, tempat cucian, vas, hingga tempat payung yang sering dibuat.

Pameran Foto bertajuk ‘Cerita Kertas’ / foto: Veronica G.

“Untuk bikin satu kerajinan, terutama yang ukurannya besar seperti tempat payung dan tempat cucian, butuh waktu sehari penuh. Karena punya banyak waktu luang juga, jadi bisa diselesaikan. Walau hasilnya bisa menambah uang jajan, tapi saya memandang aktivitas ini sebagai kesempatan berkarya sekaligus menambah teman baru,” jelas Nurmala, pengajar tingkat master di komunitas Kampung Koran.

Dua jam sudah berlalu, workshop pun berakhir jelang waktu makan siang. Tiap peserta berfoto bersama pengajar sembari memamerkan hasil kerajinan yang berhasil diselesaikan. Meski hanya berlangsung sebentar, workshop telah memberi keterampilan baru bagi peserta, khususnya teman-teman muda. Semoga pengetahuan dan pengalaman mendaur ulang koran bekas ini bisa jadi hobi baru di tengah gerakan kepedulian lingkungan, ya! Karena anak muda keren berarti #MudaPilihBumi!