Merawat Keragaman dan Menjaga Perdamaian Dunia

0
288

Saya dan tujuh pemuda Indonesia yang menjadi alumni Outstanding Youth for The World (OYTW) 2018 berkesempatan menjadi peserta aktif The First Indonesia-Australia Interfaith Dialogue “Sharing Experiences and Best Practices” di Bandung, 13-14 Maret 2019. Kegiatan ini merupakan kegiatan lintas iman yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Kementerian Agama Republik Indonesia dan Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia sebagai upaya untuk mengkampanyekan toleransi dan perdamaian.

Setelah dibuka oleh Cecep Herawan, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri dan HE Gary Francis Quinlan AO, Duta Besar Australia untuk Indonesia, para delegasi, baik Indonesia dan Australia, serta peserta mengikuti tiga sesi dialog yang terdiri dari tiga tema yang berbeda.

Plenary session I: “Democracy, Religion, and Pluralism,”. Plenary session II: “Freedom of Expression: Spreading Peaceful Messages and Combating Missuse of Media,” dan Plenary Session III: “Adressing the problems: Strengthening Cooperation and Advocating Policy Towards Inclusive Society.” Kami berbincang dan berdialog dengan delegasi dari kedua negara. Kami pun juga memberikan tanggapan dan pertanyaan serta membagikan pengalaman tentang pluralisme itu sendiri.

Pengalaman Menarik

Santap siang alumni Outstanding Youth for The World (OYTW) 2019 bersama Duta Besar Australia untuk Indonesia. (Foto: Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia)

Sebagai peserta termuda, kami mendapatkan pengetahuan baru tentang hidup berdampingan dengan damai. Misalnya ketika diskusi panel, KS. Arsana (pemimpin agama Hindu) menceritakan filosofi lima jari untuk menjelaskan hidup bertoleransi dengan sesama dengan cara yang sederhana. Juga mendapatkan informasi yang menarik dari Zulfiani Lubis, Pemimpin Redaksi IDN Times, tentang peran media untuk memerangi berita hoaks dan ujaran kebencian. Ia mengajak milenial untuk menyaring informasi sebelum membagikannya di media sosial.

Selain itu, kami pun diajak bernyanyi bersama Dya Singh dari Australia yang menjadi moderator sesi kedua. Berikut liriknya: We are one. We are many. I am, You Are, One Family. Singh mengatakan bahwa kita harus tetap bersatu menjadi satu keluarga, darimana pun kita berasal.

Tidak hanya itu, kami juga berdiskusi langsung dan bersantap siang bersama dengan H.E. Gary Francis Quinlan AO, Duta Besar Australia untuk Indonesia tentang keberlanjutan kegiatan dialog lintas iman untuk pemuda. Kami, alumni OYTW 2018, ingin membagikan pengalaman kami secara lebih luas kepada teman-teman di negara lainnya.

Kampung Toleransi

Public lecture bersama dengan Dr. Zuleyha Keskin. (Foto: Benediktus Tandya Pinasthika)

Kami juga ikut serta dalam kuliah umum bersama Zuleyha Keskin di Universitas Kristen Maranata Bandung yang menceritakan pengalamannya menggunakan media sosial. Serta hal yang menarik adalah kami juga menonton film Da’wah karya Italo Spinelli yang mengisahkan pengalaman para santri di Daarul Lugoh Wa Da’wah di Bangil, Pasuruan.

Seluruh delegasi dan peserta juga mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Masjid Lao Tze di Braga Bandung yang berarsitektur khas Tionghoa dan Kampung Toleransi di Gang Ruhana, Bandung yang di dalamnya terdapat tiga tempat ibadah: Masjid Al-Amanah, Gereja Pantekosta dan Vihara Girimerta. Sebuah harmoni yang indah dan menginspirasi para delegasi dan peserta untuk membagikannya kepada teman-teman sekembalinya dari kegiatan ini. Semoga kita semua bisa menjadi agen perdamaian dan agen toleransi di dunia.

 

Alumni Outstanding Youth for The World (OYTW) 2018 dan Duta Besar Australia untuk Indonesia. (Foto: Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia)

Penulis : Benediktus Tandya Pinasthika, mahasiswa PPM School of Management Jakarta dan Magangers Kompas Muda Harian Kompas Batch IX