Mahasiswa dan Gaya Hidup Konsumtif

0
61

Masa kuliah bisa dikatakan juga sebagai masa pendewasaan seseorang, karena itu masa-masa kuliah harusnya dijalani sebaik mungkin agar bisa mencapai hasil atau target yang diinginkan.

Gampang konsumtif

Konsumtif adalah gaya hidup seseorang yang suka membeli dan atau menggunakan barang dan jasa tanpa berpikir terlebih dahulu, atau tidak dipertimbangkan terlebih dahulu tentang penting atau tidaknya barang atau jasa tersebut.

Gaya hidup konsumtif membuat orang cenderung tidak suka menabung dan menjadi boros. Gaya hidup konsumtif tidak hanya terjadi pada orang dewasa atau orang yang sudah bekerja, mahasiswa juga banyak yang mengikuti gaya hidup ini. Bahkan mahasiswa adalah yang paling rentan atau gampang untuk terjerumus dalam gaya hidup konsumtif ini.

Mengapa mahasiswa gampang terjerumus dalam gaya hidup konsumtif ? Ada dua alasan yang paling memengaruhi mehasiswa menjadi konsumtif. Alasan pertama, karena mahasiswa masih mendapat uang jajan dari orang tua. Keadaan itu membuat, sebagian besar mahasiswa mempunyai pola pikir ‘kalau uang jajan, habis kan tinggal minta lagi ke orang tua’, karena belum merasakan bagaimana bekerja untuk mendapatkan uang.

Alasan kedua, pengaruh lingkungan pergaulan dan gaya hidup. Alasan yang kedua ini mungkin yang paling banyak menyebabkam mahasiswa menjadi konsumtif. Lingkungan pergaulan dalam mahasiswa sangat beragam, dan mahasiswa dituntut untuk bergaul dan mendapatkan teman sebanyak mungkin agar aktif dalam kuliah dan tidak ketinggalan informasi mengenai perkuliahan.

Dan banyak mahasiswa yang mencoba untuk “fit in” dalam suatu kelompok atau lingkungan bergaul. Mahasiswa cenderung mengikuti gaya hidup teman-teman bergaulnya, sehingga dia dituntut untuk menjadi konsumtif. Nongkrong, jalan-jalan, dan belanja, mungkin terdengar seperti hal yang biasa untuk dilakukan, namun dalam kehidupan seorang mahasiswa ketiga hal tersebut sering dijadikan sebgai ‘kebutuhan’ dengan alasan untuk refreshing dari tugas-tugas kampus.

Tidak ada yang salah dengan refreshing, tetapi kalau setiap akhir pekan pada hari Jumat dan Sabtu selalu nongkrong dan jalan-jalan sepertinya itu sudah menjadi suatu kebiasaan yang bisa membuat para mahasiswa menjadi boros. Juga misalnya dalam hal berbelanja.

Kita sudah punya beberapa pasang sepatu yang masih layak untuk dipakai, namun saat sedang berada di mal kita melihat ada sepatu yang bagus dan sedang diskon, kita akan berpikir, wah bagus sepatunya, pas ada diskon lagi, beli aja deh. Dan akhirnya kita membeli sepatu itu tanpa pikir panjang padahal kita sudah mempunyai cukup sepatu untuk dipakai.

Tentukan prioritas

Sebagian besar mahasiswa masih belum bisa membedakan mengenai ‘keinginan’ dan ‘kebutuhan’. Masih banyak mahasiswa yang lebih mementingkan keinginan mereka, karena keinginan berhubungan dengan hasrat dan kepuasan yang mereka dapatkan. Mahasiswa juga kadang-kadang salah dalam memprioritaskan sesuatu.
Banyak tantangan yang harus dihadapi para mahasiswa agar tidak terjerumus dalam gaya hidup konsumtif, namun itulah proses yang harus dijalani, karena “nothing worth having comes easy”.

Jangan sibuk mengejar gaya hidup hanya untuk mendapat pengakuan atau disebut ‘populer’

Mahasiswa harus memiliki prinsip dan pendirian agak tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang konsumtif, jika merasa kalau pergaulan tersebut hanya membuat kita menjadi ke arah yang lebih buruk, ada baiknya keluar dari pergaulan tersebut. Cari pergaulan atau teman-teman yang bisa membawa ke arah yang lebih baik, karena pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.

Jangan sibuk mengejar gaya hidup hanya untuk mendapat pengakuan atau disebut ‘populer’, karena menjadi ‘populer‘ bukanlah suatu kepastian untuk sukses di masa depan. Mulailah belajar untuk mengelola keuangan saat menjadi mahasiswa, karena akan terbiasa dikemudian hari saat sudah mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Karena seberapapun besar nominal uang, kalau kita tidak menggunakannya dengan bijak pasti tidak akan terasa cukup.

Begitu juga sebaliknya, walaupun uang yang dimiliki pas-pasan tapi kalau kita bijak dalam menggunakannya, dan bisa membedakan mana keinginan dan kebutuhan, memprioritaskan hal yang benar, pasti uang itu akan cukup. Kita harus tahu batas kemampuan kita. Jangan memaksakan diluar batas kemampuan kita. Jika ingin mendapatkan uang jajan tambahan, cobalah untuk mencari pekerjaan tambahan yang tidak menganggu kegiatan kuliah.

Sebagian besar mahasiswa masih merasa gengsi untuk bekerja sambil kuliah, jangan malu dan jangan gengsi untuk bekerja selama itu halal, karena akan lebih baik jika kita mendapatkan uang tambahan daripada hanya menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting.

Semoga tenan-teman mahasiswa bisa lebih bijak dalam menggunakan uang, karena cara kita menjalani hidup kita hari ini akan sangat berpengaruh dengan apa yang akan kita peroleh di masa depan nanti.

Patrick Ronaldy Walelangi, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bina Nusantara Jakarta