Kiat Tyo Guritno Hadapi Tantangan Bisnis

0
75
Tyo Guritno sebagai pembicara Mini Talkshow Skystar Ventures "Startup Journey: The Process and Dealing With Challenges" pada Rabu (20/02/2019) di ruang D203, Gedung P. K. Ojong - Jakob Oetama, UMN. Foto: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita

Memiliki bisnis sendiri sepertinya telah menjadi keinginan banyak orang di Indonesia saat ini. Gambaran akan menjadi bos atas diri sendiri dan memiliki waktu kerja yang fleksibel adalah sepasang alasan dari faktor lainnya yang mendongkrak minat orang-orang untuk mulai merintis usahanya sendiri. Namun, untuk bisa merintis bisnis sampai mendapat hasil yang diinginkan membutuhkan tidak hanya tekad, tapi juga ilmu.

Skystar Ventures, co-working space dan inkubator bisnis yang dihadirkan oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Kompas Gramedia Group (KGG) secara rutin mengadakan Mini Talkshow dengan pembicara yang berpengalaman di bidang startup, untuk membagikan ilmu dan pengalaman mereka kepada para calon perintis bisnis.

Kali ini, Skystar Ventures mengajak Co-Founder dan CEO dari Inspigo.id, Tyo Guritno untuk menjadi pembicara di Mini Talkshow mereka yang bertajuk “Startup Journey: The Process and Dealing with Challenges” pada hari Rabu (20/02/2019) di ruang D203, Gedung P. K. Ojong – Jakob Oetama, UMN.

Bersama dengan Yoris Sebastian dan Eva Ditasari, Tyo Guritno menggagas Inspigo.id di tahun 2017. Inspigo, yang kepanjangannya adalah Inspiration on the Go, merupakan layanan Podcast yang menyajikan beragam jenis konten inspiratif oleh para pembicara kredibel.

Co-Founder dan CEO Inspigo.id, Tyo Guritno memperkenalkan Inspigo kepada audiens Mini Talkshow Skystar Ventures pada hari Rabu (20/02/2019) di ruang D203, Gedung P. K. Ojong – Jakob Oetama, UMN. Foto: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita

Tyo memilih untuk mengembangkan platform Podcast berdasarkan pengalamannya yang kerap menikmati video di YouTube, tapi hanya membiarkan video tersebut menjadi suara yang melatarbelakangi kegiatannya. Namun, ia menyadari bahwa video di YouTube bukan secara spesifik disajikan untuk pengalaman audio, melainkan audio-visual.

Rekannya, Yoris, yang juga seorang pembicara, saat itu membutuhkan medium untuk bisa menyebarluaskan wawasan dan pengalamannya yang dibagikan secara offline, kepada khalayak yang lebih luas. Dari situ, terbesitlah ide untuk membuat Podcast.

“Kebetulan partner saya, Yoris Sebastian, dia pembicara, dia juga merasa kayak ‘wah, setiap kali gue ngomong kan cuma segelintir orang-orang yang bisa dengerin. Padahal sebenarnya inspirasi itu bisa menyebar kemana-mana.’ Jadi waktu itu di sisi dia punya kebutuhan untuk menyebarkan inspirasi dia. Jadi kita coba aja bikin sesuatu. Bikin Podcast,” cerita Tyo tentang ide awal pembuatan Podcast.

Prototipe Podcast yang ditawarkan Tyo dan rekan-rekannya kala itu bukanlah wawancara dua arah seperti bagaimana Inspigo sekarang, melainkan bentuk monolog yang terinspirasi dari TED Talks. Sayangnya, ketika prototipe tersebut dites efektivitasnya, respon yang diterima tidak sesuai harapan.

Banyak responden yang kehilangan fokus padahal baru sampai di tiga menit. Penyuntingan durasi prototipe Podcast tersebut dilakukan secara progresif. Mulai dari berdurasi 18 menit, dipotong menjadi 10 menit, dikurangi lagi menjadi 7 menit, hingga akhirnya ditetapkan 3 sampai 5 menit untuk satu audio.

Tyo dan rekan-rekannya kala itu tidak melihat keharusan merombak rancangan produknya sebagai tantangan berarti. Menurutnya, itu adalah bagian dari validasi yang tidak terelakkan dalam dunia bisnis. Justru menurutnya, validasi harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas bisnis yang dirintis.

“Pokoknya literasi terus aja. Konsisten gitu. Sampai sekarang kita masih literasi. Coba improve terus. Intinya, namanya validasi tuh, it’s an never ending process,” ujarnya mengenai validasi.

Podcast di masa awal Tyo dan rekan-rekannya menjajal peruntungan mereka, belum populer seperti hari ini. Preferensi untuk menikmati konten audio masih banyak jatuh kepada radio. Karenanya, kurang terkenalnya Podcast menjadi tantangan bagi Tyo dan rekan-rekannya saat menawarkan produknya kepada khalayak.

“Pertama, orang gak terbiasa dengan Podcast, Waktu kita pertama kali introduce Inspigo juga, kita mikir gimana nih caranya supaya ada word of mouth nya gitu. Pengen orang merasa produk kita valuable, terus merekomendasikan ke orang lain lagi,” tutur Tyo.

Tyo Guritno di tengah sesi Mini Talkshow Skystar Ventures pada hari Rabu (20/02/2019) di ruang D203, Gedung P. K. Ojong – Jakob Oetama, UMN. Foto: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita

Berbicara soal bisnis tidak akan luput dari persaingan. Aplikasi Inspigo yang menurut data Daily Social di tahun 2018 menjadi pilihan streaming platform Podcast bagi 7.79% pendengar Podcast di Indonesia, tetap bersaing melawan platform lain yang lebih dulu populer dari mengadopsi Podcast.

Platform raksasa yang kini turut menyisipkan Podcast adalah YouTube. Tyo yang terbiasa dengan persaingan dalam bisnis, menyikapi hal ini dari kacamata yang positif. Ia melihat fenomena ini sebagai tanda meningkatnya kesadaran akan Podcast hingga akhirnya dilihat sebagai medium distribusi konten yang berpengaruh dan dirasa perlu untuk memanfaatkannya, bahkan hingga di YouTube.

Merambahnya Podcast ke YouTube tidak mengurangi rasa percaya diri Tyo terhadap aplikasi garapannya, Inspigo. Menurutnya, Inspigo tetap memiliki fitur-fitur yang bisa memberikan pengalaman berbeda dalam mendengarkan Podcast kepada para penggunanya.

Inspigo yang hadir secara track based, pengguna Inspigo tidak perlu mengunduh seluruh sesi obrolan Podcaster dengan narasumber. Pengguna hanya perlu mengunduh track yang memang benar-benar ingin diunduh. Selain hemat ruang penyimpanan dalam gawai, kuota pengguna tidak akan terpakai sebanyak jika mengunduh Podcast berdurasi satu jam penuh.

“Kalau Podcast, satu jam didownload itu kan spacenya gede ya. Kita sebagai orang Indonesia yang aware terhadap kuota, itu jadi bermasalah kalau kita harus download the whole thing. Jadi, karena dipecah-pecah, kita downloadnya yang benar-benar kita mau download aja gitu,” jelas Tyo mengenai keunggulan Inspigo.

Dengan bentuk track-based pula, menurut Tyo tidak menuntut pendengarnya untuk memberikan rentang perhatian yang terlalu lama. Selain itu, track based mengizinkan pengguna Inspigo untuk membuat playlist dari setiap ‘album’ sesuai dengan kebutuhan mereka.

“Kita bisa bikin mixtape, playlist. Jadi kan kalau musik itu, mau bikin playlist pagi hari kan bisa tuh lagu-lagunya yang cocok gitu sama pagi-pagi. Nah, kita juga bisa. Karena bentuknya track based, kita bisa ambil nih konten-konten obrolannya Mas Wishnutama, obrolannya Najwa Shihab, obrolannya Yoris, kita gabung jadi satu, jadi satu playlist gitu,” sambung Tyo kemudian.

Tyo mengatakan bahwa yang terpenting adalah konten yang memiliki kemampuan menyelesaikan masalah akan lebih mudah untuk diminati khalayak. Seperti Inspigo yang menyajikan obrolan-obrolan berkualitas dan inspiratif dengan para narasumber.

“Kalau kita mau memberikan sesuatu yang daging gitu ya, kayak very valuable, dan juga solving their problems, in terms of content, itu ngescrubnya lumayan cepat. Jadi sebenarnya format Podcast jadi secondary, malah kontennya itu yang jadi primary,” jelas Tyo.

 

PENULIS: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita

FOTO: Kompas Corner UMN / Meiska Irena Pramudhita