Kebersamaan di Luar Magang

0
137
Kebersamaan Magangers Kompas Muda Harian Kompas Batch X di Kebun Raya Bogor pada Sabtu (29/12/2018).

Ekamatra, nama angkatan kesepuluh Magangers Kompas Muda, berarti berbeda dimensi tetapi satu dan sama. Beranggotakan 40 anak muda dari berbagai daerah seperti Jogjakarta, Wonosobo, Temanggung, dan masih banyak lagi. Magangers adalah sebutan bagi mereka yang pernah magang di Kompas Muda Harian Kompas. Di angkatan kami magang diadakan pada awal Juli 2018 yang lalu. Berkat ikut program itu, jalinan relasi diantara kami yang sama-sama mendalami dunia jurnalistik sudah akrab.

Tetapi, keakraban tidak sampai pada program magang saja. Di luar itu, magangers saling berkomunikasi. Sampailah pada suatu hari di mana semuanya ingin sekali bertemu. Ingin sekali merasakan serunya seperti saat magang. Maka pada bulan November magangers merencanakan reuni di penghujung tahun yaitu pada hari Sabtu, 29 Desember 2018 di Kebun Raya Bogor yang terkenal rimbun pepohonan.

Pada awalnya sangat susah mengumpulkan 40 anak sekaligus dalam satu pertemuan di tengah liburan. Banyak hambatan yang dilalui. Ada yang tidak bisa ke Jakarta dan ada yang sedang sakit. Saya salah satu pengurus acara untuk reuni sempat khawatir. Khawatir hanya sedikit yang datang. Tetapi, magangers lainnya yang berusaha untuk hadir sangat mendukung adanya reuni. “Kapan lagi bertemu ? ,” tanya beberapa orang dari mereka yang kemudian dijawab dengan canda dan tawa. Semangat yang membara menyatukan kami untuk bertemu.

Seminggu sebelum reuni, saya, Khalila, Lintang, Rhendy, dan Thisyia melalukan survei. Kami berlima ke Bogor dengan kereta

Seminggu sebelum reuni, saya, Khalila, Lintang, Rhendy, dan Thisyia melalukan survei. Kami berlima ke Bogor dengan kereta dan sampai di Kebun Raya Bogor dengan berjalan kaki karena lokasinya hanya beberapa meter dari stasiun. Cuaca sangat mendukung sampai pukul 14.00 WIB. Saat kami sedang berdiskusi di Taman Akuatik, turunlah hujan.

Awalnya hanya rintik-rintik tapi lama kelamaan mengundang angin kencang. Untungnya kami bisa berteduh sebentar di bawah pohon besar. Namun waktu telah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Ya, hampir sore tapi kami berlima masih di Kebun Raya. Kami pun bergegas pulang ke Stasiun Bogor dan cuaca lumayan membaik.

Ternyata, cuaca tidak membaik cukup lama. Hujan kembali turun membasahi tubuh kami saat berjalan. Jalanan menjadi sangat licin dan saya terpeleset. Teman-teman membantu dan menenangkan saya agar dapat berjalan dengan baik. Melihat derasnya hujan, kami berniat untuk mampir sebentar ke warung yang menjual soto mie dan ayam goreng. Kami melahap makanan sampai kenyang. Hujan masih saja turun tapi kami harus pulang. Nekat dan sudah dekat stasiun, kami berjalan terburu-buru.

Sampailah di stasiun dengan badan basah kuyup, air masuk ke sela-sela sepatu. kami menggigil kedinginan

Sampailah di stasiun dengan badan basah kuyup. Air masuk ke sela-sela sepatu. Kami menggigil kedinginan. Antrian panjang untuk masuk kereta sudah terlihat dari kejauhan. Kami hanya bisa tertunduk lemas. Namun pada saat bersamaan, hidung kami mencium wangi roti yang sedang dipanggang, mengundang kami untuk mampir sekaligus istirahat sejenak dari derasnya hujan. Kami minum kopi dan coklat panas yang dijual di sekitar tempat itu sambil melanjutkan diskusi untuk reuni nanti. Pukul 17.00 kami sudah masuk kereta untuk pulang. Perjuangan tim survei untuk reuni sangatlah berarti.

Sabtu, 29 Desember 2018 magangers yang dapat hadir reuni adalah saya, Alifah, Afif, Dinda, Dhea, Eva, Izky, Khalila, Lintang, Lutfi, Nadia, Rahma, Raihan, Rhendy, Thisyia, Vanessa, Vira, dan Wisnu. Hanya 18 dari 40 anggota. Janjian untuk sampai di Kebun Raya Bogor pukul 08.00 tapi baru saya dan Nadia yang datang karena kami naik mobil bersama. Alifah sudah datang tetapi menunggu yang lainnya di stasiun. Tak lama saya duduk depan pintu masuk, Khalila dan Afif sudah datang. Baru empat orang yang sampai.

Taman Perancis menjadi tempat pilihan kami untuk bersantai. Sambil menanti kehadiran teman-teman lainnya kami mengobrol dan bercanda. Afif, fotografer saat magang, mengeluarkan kameranya dan mulai beraksi. Saya, Nadia, dan Khalila pun siap berpose. Banyak momen yang diabadikan lewat lensa kamera Afif.

Pukul 09.30 WIB Vanessa dan Eva sudah datang. Tikar sudah digelar dan makanan seperti piknik di kebun sudah tersaji. Eva membawa kentang goreng dan saus keju lezat untuk disantap bersama. Menunggu dan menunggu teman-teman lainnya yang naik kereta. Seekor kucing mendekati kami dan menyapa. Berharap mendapatkan secuil makanan tetapi yang diterima adalah belaian halus dari tangan kami. Cekikikan melihat kucing yang dengan manja rebahan di atas rumput.

Lintang mengatakan ponsel Alifah hilang saat sampai di Stasiun Bogor. Thisyia menemaninya untuk mencari ponsel yang hilang

Pukul 11.00 teman-teman yang naik kereta sudah datang. Namun Alifah dan Thisyia tidak terlihat datang bersama mereka. Lintang mengatakan ponsel genggam Alifah hilang saat sampai di Stasiun Bogor. Thisyia menemaninya untuk mencari ponsel genggam yang hilang. Semuanya sempat panik dan iba dengan kejadian tersebut. Kami pun beberapa kali menelfon Thisyia untuk mengetahui kabarnya. Ternyata ponsel genggam Alifah terlacak di Rumah Sakit Paru-Paru Puncak dan mereka sedang berada di sana. Telfon sempat terputus. Kami terus mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua.

Walau kejadian kurang mengenakkan terjadi, acara harus tetap berjalan. Rhendy selaku ketua reuni membuka acara dengan pidato singkat. Banyak yang tertawa karena Rhendy sering mengucapkan kata-kata yang salah seperti mengetik di ponsel genggam. Canda dan tawa mewarnai Taman Perancis yang semula hening.

Satu persatu bercerita tentang hal-hal yang dialami setelah magang, rencana-rencana, dan status jomblo atau tidak. Menarik sekali mendengar cerita magangers. Ada yang orang tuanya sedang sakit dan ada yang hasil ujiannya tidak memuaskan. Tetapi ada juga yang bersemangat untuk menonton konser idola di tahun depan dan ada yang berharap agar ujian-ujian yang akan dihadapi lancar dan sukses. Banyak harapan yang kami ucapkan.

Pukul 12.00 WIB kami semua melahap bekal yang dibawa dan juga membagikannya. Makanan yang tersedia adalah keripik kentang, kacang, buah Jeruk, kentang dan sosis goreng, cumi ditumis dengan bumbu spesial, dan banyak sekali yang sedap. Sudah lapar dari pagi dan akhirnya makan bersama.

Senang melihat teman-teman yang dengan lahap menyantap bekal makanan. Sehabis makan siang, beberapa magangers yang beragama Islam melaksanakan ibadah. Saya dan teman-teman lainnya bercengkerama. “Bagaimana ya kalau kita tidak terpilih magang?” tanya Lintang. “Wah akan sedih sekali ya” jawabku. “Iya bener banget. Aku beruntung bisa terpilih dan ketemu kalian!” seru Eva.

Kami pun berbincang-bincang tentang pergaulan di sekolah. Memang masih banyak perlakuan tidak adil antarmurid. Berbagi senang dan susahnya bersekolah di negeri maupun swasta. Tak terasa sudah pukul 13.00, waktunya berfoto! Kami semua berbaris semaunya agar mendapat posisi pas di kamera. Bergaya-gaya selayaknya anak muda pada umumnya. Setelah berfoto, jari-jari kami tidak tahan untuk mengunggahnya di media sosial. Serunya berfoto bersama teman-teman yang sudah lama tidak bertemu.

Magangers Kompas Muda Batch X nampak ceria, bercanda dan tertawa. Foto: Afif Darmawan (SMK Negeri 1 Depok)

Saatnya bermain! Permainannya disebut Truth or Dare yaitu menjawab sebuah pertanyaan secara jujur atau melakukan suatu tantangan. Pertanyaan yang sering ditanyakan adalah “Siapa yang kamu kagumi di antara magangers?” Menarik sekali jawaban-jawabannya karena tidak terduga.

Nadia memilih saya karena saya memang dekat dengannya. Saat giliran Afif sangat menarik. Dia memilih Dare dan tantangannya adalah mengatakan “Aku sayang kamu” ke Izky yang ia kagumi. Magangers semuanya tertawa melihat aksi konyol mereka berdua.

Hari mulai sore kami pun beranjak dari Taman Perancis dan mulai berjalan-jalan bersama. Menikmati keindahan alam yang ada di Kebun Raya Bogor. Saat melewati pepohonon bambu yang rimbun, angin berhembus kencang. Bambu-bambu bergoyang dan seolah-olah akan jatuh menimpa kami. Semuanya heboh tapi juga tertawa menyadari kekonyolan itu. Berjalan terus sambil mengobrol dan berhenti di depan danau teratai.

Di seberang terlihat Istana Kepresidenan Bogor yang sangat megah. Kami akhiri reuni dengan berfoto bersama di depan istana. Berharap suatu hari nanti dapat mengunjunginya. Khalila bercerita dia pernah masuk kesana. Ceritanya membuat kami kagum dan jadi penasaran. Asyiknya menikmati senja di Kebun Raya Bogor dengan cerita-cerita lucu.

Senyum manis di depan Istana Kepresidenan Bogor. Foto: Afif Darmawan (SMK Negeri 1 Depok)

Reuni selalu membawa haru. Cerita dari berbagai sudut pandang dan solusi dari setiap permasalahan yang ada membuat kami menjadi lebih kuat. Sepenuh hati menyemangati satu sama lain. “Apakah ini mimpi? Bertemu dengan teman-teman yang satu minat denganku yaitu jurnalistik, mengenal mereka lebih dalam, dan berbagi cerita menarik. Apakah ini nyata?” gumamku. Ini adalah kenyataan. Indahnya kebersamaan dalam keberagaman yang didapat saat magang di Kompas Muda. Saya sangat bersyukur mendapat pengalaman berharga dalam hidup.

Maria OktavianaSiswa SMA Negeri 7 Tangerang Selatan, Magangers Kompas Muda Harian Kompas Batch X