Swara Gembira “Hip Hip Hura”: Nostalgia Ala Generasi Muda

0
93
Para penari membuka pertunjukan utama pagelaran Swaragembira. (Foto: Nita Khoerunnisa)

La’u dae lokit pagelaran Swara Gembira lebon? Saik kan? 

Kurang lebih begitulah bahasa era 1980-an yang wajib digunakan oleh seluruh penonton dan pengisi acara malam pagelaran Swara Gembira bertajuk “Chrisye yang Tenarin, Swara Gembira yang Pecahin!“ pada Sabtu, 8 Desember 2018 di Livespace, SCBD, Jakarta Selatan.

Pemrakarsa Swara Gembira, Mas Owi mengemukakan bahwa gelaran musik ini menyajikan dua sesi dengan dua sisi berbeda, satu sisi menyajikan karya-karya Chriyse mengenai persoalan masyarakat dan sisi kedua menonjolkan kebudayaan yang disajikan berbeda agar seluruh kalangan dari berbagai generasi dapat menikmatinya. Almarhum Chrisye sendiri merupakan salah satu musisi maestro dengan karya yang tak lekang oleh zaman, Chrisye memperkenalkan budaya Indonesia lewat videoklip lagunya seperti Cintaku, Untukku, dan Kala Cinta Menggoda. 

Gitaris band pengiring unjuk kebolehannya, “Rishanda & The Rising”. (Foto: Dara Qaisara Bathisya)

Totalitas sudah tidak perlu dipertanyakan lagi mulai dari tata busana, tata rias, tata panggung, tarian, hingga musik yang disajikan betul-betul membawa kita bernostalgia dan menikmati unsur kekinian bercita rasa budaya Indonesia. Musisi yang memeriahkan acara ini adalah Kunto Aji, Irama Pantai Selatan, Vira Talisa, Nadin Amizah (Cekacine), Marjinal, Elfa’s Choir, Fauzan Lubis (Sisitipsi), Cindercella, dan Reza Chandika.

Selain menampilkan tembang kenangan milik Chrisye, gelaran ini turut menampilkan 100 penari yang dibawakan oleh Kinarya GSP  dan menggabungkan Kelompok Reog Ponorogo, Simo Giri, dan Kelompok Hip Hop Onar dalam satu panggung. Budaya Indonesia yang dipentaskan mulai dari Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Dayak, hingga Sumba.

Kelompok punk Marjinal & Taring Babi. ( Foto: Nita Khoerunnisa )

Keresahan masyarakat pada zaman ini menjadi sorotan bagi para pengisi konser. Misalnya, Irama Pantai Selatan dengan lagu ciptaanya Tahu Tempe, pemutaran lagu nasional Padamu Negeri yang disadari atau tidak oleh penonton menjadi pengingat untuk tetap menjaga agar budaya asli dapat menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Ilustrasi: Andy Ridzky (Magangers Muda Batch X)

Dilanjutkan Elfa’s Choir dengan lagu Sarjana Kaki Lima dan Kelompok punk Marjinal & Taring Babi membawakan lagu berisi imbauan bagi kaum muda untuk hidup tanpa narkotika. Sementara itu, konser ini turut berkolaborasi dengan komikus sensasional Masdimboy (Adimas Bayu) dalam aktivasi koran unik yang mereka bagikan pada saat acara berlangsung.

Pembawa acara berserta seluruh pengisi acara menutup malam gelaran dengan meriah. (Foto: Dara Qaisara Bathisya)

Acara ditutup dengan persembahan Kunto Aji membawakan lagu Kala Cinta Menggoda dan Juwita bersama seluruh pengisi acara dan penonton yang ada.

Gimana nostalgia dibalut dengan budaya Nusantara? Masih mau bilang kalau budaya asing jauh lebih keren dari budaya negeri sendiri? Pikir-pikir lagi, deh!

Ditulis oleh: Nita Khoerunnisa (Magangers Kompas Muda Batch X)