Radio Era Milenium Bersama Kenny Djafar dan Willy Winarko

0
68
Kenny Djafar dan Willy Winarko jadi pembicara di talk show "Million Views on Millenium Radio" pada Jum'at (23/11) di Universitas Multimedia Nusantara. Foto: Kompas Corner / Birgitta Annabel

TANGERANG, KOMPASCORNER — UMN Radio kembali mengadakan open recruitment bagi mereka yang ingin bergabung dengan salah satu media penyiaran kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tersebut. Tahun ini, para calon anggota diberikan tugas untuk menggelar sebuah acara sebagai salah satu tahapan dari rangkaian open recruitment.

RADIOWAVE menjadi acara yang dipilih untuk mewadahi talk show yang digelar pada Jum’at (23/11/2018) di kampus UMN Serpong, Kabupaten Tangerang-Banten. Menyadari eksistensi radio yang kerap dikabarkan terancam karena konvergensi media dan munculnya media-media alternatif yang dipilih masyarakat milenial, RADIOWAVE hendak membuktikan bahwa radio, hingga hari ini masih bisa mempertahankan daya tariknya.

Melalui talk show yang bertajuk ‘Million Views on Millenium Radio’, RADIOWAVE membahas radio dari sisi pandang milenial, baik bagi pendengarnya maupun para pelaku radio.

Berbicara tentang radio di era milenium, RADIOWAVE mengundang dua penyiar radio yang namanya sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat milenial, yaitu radio DJ and announcer Prambors FM Kenny Djafar, dan radio DJ Mustang FM Willy Winarko.

Talk show diawali oleh Kenny Djafar dan Willy Winarko yang menceritakan perjalanan mereka hingga mencapai posisi radio DJ and announcer di dua stasiun radio yang kini menjadi favorit anak muda. Mulai dari Willy yang ditolak ketika ingin bergabung di radio kampus semasa kuliah, hingga Kenny yang sudah memijakkan kaki di dunia siaran sejak usia 16 tahun.

Kenny Djafar di talk show ‘Million Views on Millenium Radio’, Jum’at (23/11). Foto: Kompas Corner/Birgitta Annabel

Kesulitan atau tantangan dalam berkarir merupakan hal yang niscaya dihadapi para pelakunya, begitu juga dengan menjadi penyiar radio. Radio yang hanya mengudarakan suara sang penyiar, menuntut Kenny harus mahir mengolah setiap ucapannya menjadi sesuatu yang menghibur dan menarik para pendengarnya. Tidak hanya itu, hal lain yang penting dimiliki seorang penyiar radio menurut Kenny adalah kepribadian.

“Ternyata jadi penyiar tuh enggak cuma ngomong aja, tapi kalau gak ada isinya juga kayaknya orang enggak mau denger lo, gitu kan. Dan kalau misalnya lo ngomong aja, ada isinya tapi enggak punya kepribadian, orang juga kayaknya enggak tertarik untuk denger lo. Jadi, kalau jadi penyiar radio itu harus full package,” jelasnya di acara yang dilaksanakan di Lecture Hall, Gedung C, UMN.

Radio yang kini ikut memodernisasi dirinya juga dikatakan oleh Willy adalah bidang yang masih asyik untuk ditekuni. Nyatanya, banyak temannya yang adalah YouTuber atau selebgram (selebriti instagram) kini ingin masuk ke dunia siaran. Iklan yang masih sering didengar di radio, menurut Kenny adalah bukti bahwa radio masih tetap berjaya dan tidak kehilangan efektifitasnya.

Melihat di zaman sekarang, pertanyaan “apakah radio akan mati ?” menurut Willy adalah pertanyaan kurang tepat, karena radio pada kenyataannya tetap bisa berkembang mengikuti tuntutan era digital.

“Yang penting harus di-highlight adalah apakah radio akan tetap jadi radio pada saat ini? […] Kalau misalnya radio dipandang sebelah mata, enggak apa-apa, karena sekarang zaman makin bergerak, tapi omongan-omongan itu udah lama dan kita masih di sini,” jelas Willy menyanggah pernyataan bahwa radio sudah redup.

Willy Winarko dalam talk show RADIOWAVE, Jum’at (23/11/2018). Foto: Kompas Corner / Birgitta Annabel

Menjaga interaksi

Salah satu cara untuk mempertahankan eksistensi suatu radio adalah dengan membuat program dan konten yang memang diminati khalayak. Maka dari itu, Kenny dan Willy sepakat bahwa radio yang dikelola harus memiliki target pendengar yang jelas. Karena, dengan demikian, nanti pelaku radio akan lebih mudah untuk menentukan fokus dan tujuan dari program dan konten yang disajikan.

Selain konten, Kenny mengatakan bahwa radio yang akan mampu bertahan adalah radio yang secara rutin menjaga interaksi dan bisa menampung apa yang diinginkan oleh para pendengarnya.

“Kalau sebuah radio masih enggak mau maju dalam komunikasinya, dalam cara menampung apa yang diinginkan sama pendengarnya, dan cara berkomunikasi dengan pendengarnya, itu bakal jadi radio yang ketinggalan zaman sih,” papar Kenny.

radio masih merupakan media yang diminati masyarakat milenial

Sementara, bagi Willy, kolaborasi menjadi hal yang dapat mendorong radio dikenal lebih luas lagi. Kolaborasi bisa dibangun antara radio dengan brand, komunitas, hingga dengan stasiun radio lain.

Di penghujung talk show, Willy berpesan kepada hadirin, khususnya mereka yang tengah menjalani proses seleksi UMN Radio, bahwa radio masih merupakan media yang diminati masyarakat milenial.

Enjoy aja sih, and just know that, bahwa radio tuh media yang masih lumayan besar ya, dan masih menjanjikan. Jangan dipandang sebelah mata sih,” pesan Willy. Menambahkan pesan Willy, Kenny juga menyampaikan agar apapun pekerjaan yang dipilih, harus dilakukan dengan passion.

“Kalau misalnya lo mau kerja di radio, itu masih sangat menjanjikan. Kalau misalnya lo mau coba-coba (kerja di radio) dan nantinya enggak sesuai dengan ekspektasi lo, karena apapun itu, ya udah, enggak usah dipaksain. Yang penting lo bisa menemukan passion lo,” tambah Kenny sebelum talk show berakhir.

Penulis : Kompas Corner / Meiska Irena Pramudhita

Editor: Kompas Corner / Agung Destian Putra

Foto: Kompas Corner / Birgitta Annabel