Nuansa Latin Bergema di Tengah Ibukota

0
90
Foto : Benediktus Tandya Pinasthika
Foto : Benediktus Tandya Pinasthika

Jakarta (29/09), Wijakenzie, paduan suara PPM School of Management, yang menjadi unit kegiatan mahasiswa (UKM), mengadakan sebuah konser dengan judul Nia Muziko : A Musica Nos Une di Goethe Haus, Sam Ratulangi, Jakarta Pusat. Paduan suara yang sudah mengadakan konsernya yang kelima ini menampilkan 16 lagu bernuansa lagu Spanyol dan Latin.

Konser kali ini dikonduktori oleh Daniel Reza Adriansyah dan Nadya Sella Belansky sebagai pianisnya dengan 31 anggota paduan suara. Mereka dibagi menjadi empat suara yaitu sopran, alto, tenor, dan bass yang diketuai oleh Yoris, sedangkan ketua UKM adalah Veren Angelia. Mengapa lagu latin dan spanyol yang dipilih? “Karena kami ingin memperkenalkan keindahan musik klasik dan mengemasnya dengan tampilan dramatik, menarik, dan elegan dengan menghadirkan berbagai macam lagu klasik latin dari berbagai negara,” ujar Yoris.

Konser tersebut dibagi menjadi dua sesi utama dengan pembagian delapan lagu di setiap sesi. “Los Bibilicos” menjadi lagu pembukanya dan dilanjutkan dengan “Te Quiero”, “Twinkle,Twinkle Little Star”, “Amor De Mi Alma”, “Circa Mea”, “Creep”, “Fields of Golds”, dan ditutup dengan “Danza!”. Sedangkan sesi kedua dibuka dengan lagu yang easy listening dari Kirby Shaw yang menggubah lagu dengan judul “Tears in Heaven”.

Tidak hanya itu, kondoktur paduan suara yang juga pelatih itu membuka narasi lagu dengan mengajak penonton untuk membayangkan sedang menonton di Berkeley Square. Itu sebabnya lagunya dimulai dengan “A Nightingale Sang in Berkeley Square”, dilanjutkan dengan lagu “I’ve Got A Crush On You”, “Since I Fall”, “Java Jive”, “Route 66”, “So Danco Samba”, dan ditutup dengan lagu “I Go To Rio”.

Konser yang menghadirkan 200-an penonton ini mengundang tepuk tangan dan apresiasi yang tinggi. “Konser Wijakenzie bertema Spanyol yang kebanyakan membawakan lagu-lagu enerjik dan penuh semangat itu sangat menarik. Mereka dapat membawakan suasana itu dengan tepat, sehingga penonton termasuk saya, terbawa alunan lagu yang mereka bawakan,” ujar Harits Taufik Hidayat yang juga mahasiswa PPM School of Management.

Kisah di Balik Layar

Foto : Benediktus Tandya Pinasthika

Yoris menyatakan merasa mendapat tantangan sekaligus tanggung jawab yang besar ketika mengemban tugas sebagai ketua konser. “Sangat berkesan,” ujarnya. “Menjadi ketua bukanlah hal yang sepele karena harus memberikan sumber daya, waktu, dan tenaga. Namun, hal tersebut terbayarkan saat konser berjalan dengan baik dengan bantuan rekan-rekan juga,” katanya lagi.

Selain itu, konser ini perlu persiapan agar konser dapat sukses. “Persiapan pertama sudah pasti membulatkan tekad untuk menyukseskan konser ini,” kata Yoris. Ia juga berharap agar UKM Wijakenzie bisa terus berkarya dan bertumbuh dengan baik serta dapat terus mengharumkan nama almamater.

Sementara Veren Angelia, yang menjadi ketua UKM Paduan Suara Wijakenzie selama satu tahun ini menceriterakan bahwa Wijankenzie pernah tampil di berbagai kegiatan seperti Wisuda PPM, Memoriam Pak Alexander, Lomba National Folkfore Festival dan konser ke-5 Nia Musiko. Veren menyatakan terkesan dengan penampilan konser ke-5 Nia Muziko yang latihannya cukup lama. “Jadi sistem latihan kami itu per sesi. Satu sesi dua jam. Untuk seminggu bisa empat sesi di luar latihan mandiri. Jadi total 8 -10 jam seminggu,” jelas Veren.

Reporter dan Fotografer :

Benediktus Tandya Pinasthika, Mahasiswa Akuntansi Bisnis PPM School of Management Jakarta