Pengalaman Meliput di Museum Macan

0
44
Keindahan Museum MACAN. Foto: Rhendy.

Sekilas balik ke Inaugurasi Magangers Batch X (siswa-siswi terpilih untuk magang di Kompas Muda) merupakan hari yang bersejarah. Inaugurasi adalah ajang Magangers untuk menunjukkan prestasi dan kerja keras selama magang. Momen yang saya kenang adalah pengumuman pemenang tantangan dari Kompas Muda.

Teman-teman sudah tahu bahwa saya dan kelompok saya, Nuntius, akan memenangkan tantangan tersebut karena saya sering sekali mengunggah foto selama magang ke media sosial Instagram sebagai salah satu persyaratan untuk memenuhi tantangan. Saya pun tersenyum lebar saat pembawa acara, Kak Akbarry, mengumumkan bahwa kelompok saya menang. Setelah maju untuk menerima penghargaan dan berfoto, kami pun kembali ke tempat duduk. Namun, ada hadiah tambahan! Wah, pada saat itu saya terkejut.

“Selamat kepada Kelompok Nuntius. Kalian mendapat kesempatan untuk meliput di Museum MACAN!” seru Kak Akbarry.

Saya sampai loncat-loncat mengetahui pengumuman tersebut. Museum MACAN adalah tempat yang saya ingin kunjungi sejak pamerannya dibuka. Banyak teman saya yang sudah mengunjungi dan cerita bahwa Museum MACAN itu tempat yang sangat unik. Terdapat Infinity Mirrored Room, Obliteration Room dan ruang unik lainnya untuk berfoto. Pada saat itu, saya merasa mimpi saya terwujud. Ditambah lagi dengan meliput museumnya. Wah!

Seminggu setelah Inaugurasi, terbentuklah kelompok liputan di Whatsapp. Kelompok yang beranggotakan kelompok Nuntius (saya, Vanessa, Rhendy, Lutfi dan Maxi) serta karyawan Kompas (Mba Gandes, Mba Any dan Mas Thoriq) Banyak diskusi seputar liputan mulai dari jadwal dan transportasi ke museum sampai penentuan tema, latar belakang liputan dan daftar pertanyaan yang akan diajukan.

Kami mendapat kesempatan untuk meliput hari Jumat, 24 Agustus 2018 sepulang sekolah. Saya, Rhendy dan Lutfi naik kereta dan berkumpul di Lobby Kompas sedangkan Vanessa langsung ke Lobby Museum MACAN. Namun Maxi berhalangan hadir. Ia tetap menyemangati kami untuk liputan walau tanpa dirinya.

Tibalah hari liputan yaitu hari Jumat, 24 Agustus 2018. Mba Gandes mengingatkan untuk datang jam 16.00 di Lobby Kompas. Saya pulang sekolah jam 14.30 dan bergegas ganti baju yang dibawakan oleh ibu saya. Walaupun lelah karena setelah belajar pelajaran Matematika yang menguras pikiran dan tenaga ditambah lagi perut yang kosong, saya tetap semangat!

Liputan adalah sumber semangat saya. Setelah saya ganti baju, ibu memesan mobil lewat aplikasi daring dari sekolah ke stasiun. Namun, sinyal sangat tidak mendukung. Berulang kali berusaha memesan tetapi tidak bisa. Di dalam kepanikan, saya berusaha tenang. Saya ingat kalau biasanya pulang sekolah saya ikut jemputan.

Dengan tenaga yang tersisa, saya berlari ke arah mobil jemputan yang hendak pergi dari sekolah. Saya mengetuk kaca mobil dan berteriak, “Saya mau ikut!” Om Rere, bapak yang selalu mengantar saya pulang sekolah, mengizinkan saya dan ibu untuk naik. Kami diantar sampai stasiun. Kemudian, kami turun dan segera ke peron. Syukurlah pada pukul 15.05, kereta datang. Di dalam kereta saya beristirahat sebentar.

Beberapa menit sebelum kereta berhenti, saya memberi tahu teman-teman untuk menunggu di stasiun. Mereka setuju untuk menunggu. Kereta pun tiba di Stasiun Palmerah pukul 15.35. Saat saya naik tangga, saya mendapat pesan dari teman-teman untuk langsung ke kantor Kompas karena mereka tak menunggu.

Sempat kesal namun saya tetap melangkah. Dengan ibu saya di sisi, saya menjadi lebih semangat. Tinggal beberapa meter dari kantor Kompas, saya baru ingat untuk membawa kartu identitas yang diberikan saat Inaugurasi. Saya benar-benar lupa! Khawatir tak bisa masuk, ibu menenangkan saya.

Beberapa satpam menanyakan kartu identitas. Saya pun menjelaskan bahwa saya adalah Magangers Batch X tetapi lupa membawa kartu identitas. Satpam tersenyum dan mengizinkan saya masuk ke kantor Kompas. Tak lupa ia mengingatkan saya untuk membawa kartu identitas jika ada keperluan untuk datang ke kantor Kompas. Langkah-langkah saya semakin dekat dengan Lobby Kompas.

Rhendy dan Lutfi sudah tiba dan menyambut saya.Mereka sempat menanyakan kartu identitas saya. Saya menjelaskan kepada mereka dan mereka pun tertawa. Tak lama kemudian, Mas Thoriq dan Mba Gandes datang. Kami pun bergegas ke Museum MACAN. Ibu saya melambaikan tangan saat mobil melaju.

Selama perjalanan, kami berbincang-bincang soal pendidikan dan tema liputan yaitu apresiasi seni dan peran di balik museum. Pukul 16.30 saat kami masih terjebak macet, Mba Gandes mendapat telepon dari pihak museum bahwa tim edukasi hanya sampai pukul 17.00. Mas Thoriq pun menenangkan kami agar tidak panik.

Lutfi, Vanessa, saya, dan Rhendy yang bertugas untuk meliput Museum MACAN.

Pukul 17.00, kami sampai di Museum MACAN. Eskalator yang kami gunakan bermotif polkadot, khas karya Yayoi Kusama. Saat memasuki ruang publik, gelegar seni bagaikan macan yang menggelegar sangat terasa. Banyak instalasi terpasang seperti bunga dan balon. Saya melihat-lihat dengan kagum karena instalasi seni yang dipasang sangat unik. Bahkan sebelum masuk ke museum, keindahan ruang publik dapat terlihat. Saya dan teman-teman menyimpan tas di tempat penyimpanan yang tersedia. Mba Nina selaku Marketing Communication dari Museum MACAN datang menyambut kami dengan wajah penuh semangat. Lalu, kami dibimbing ke ruang wawancara.

Wah, ruang wawancaranya sangat unik! Di antara dinding-dinding museum, terdapat alat finger print. Mba Nina hanya menekan satu jari ke alat tersebut dan dinding terbuka seperti pintu. Saya terkejut karena tak menyangka ternyata ruang wawancara adalah ruang rahasia di museum. Lalu kami naik tangga dan sampailah di ruang wawancara. Mba Nina mengajak Mba Aprina dan Mba Renjana dari tim edukasi untuk menjadi narasumber wawancara. Mba Aprina sudah membaca pertanyaan yang kami ajukan dan menjawab semuanya dengan mantap. Kami para reporter tidak kerepotan untuk bertanya-tanya karena informasi yang diberikan sangat lengkap dan jelas.

Seusai wawancara, kami diajak keliling museum. Wah, seru sekali karena kami ditemani Mba Nina. Selama berkeliling, ia menjelaskan tentang kehidupan Yayoi Kusama dan karya-karyanya. Yayoi Kusama mengalami halusinasi sejak umur 11 tahun bahkan sampai sekarang yaitu umur 89 tahun. Akibat halusinasi, pandangannya berbeda dengan orang lain. Motif polkadot memenuhi pandangannya. Namun, kekurangannya tak menghalangi untuk berkarya. Kekurangan Yayoi Kusama menjadi kekuatan terbesarnya untuk berkarya dan memberi dampak besar dalam kesenian.

Sekilas, motif polkadot terlihat biasa dan seperti dicetak dari mesin pencetak. Eits, jangan salah. Pola motif polkadot yang diciptakan oleh Yayoi Kusama adalah pola yang berirama dan terlihat sama. Tangannya yang lihai menghasilkan karya istimewa walau pandangannya berbeda. Suatu keunikan karya memang datang dari perbedaan atau bahkan kekurangan yang dialami pembuat karya.

Pengalaman meliput Museum MACAN adalah pengalaman yang berharga bagi saya. Berbincang dengan tim edukasi yang sangat kreatif untuk mengedukasi masyarakat Indonesia mengenai seni dan kesempatan untuk melihat karya-karya Yayoi Kusama yang unik adalah hal yang saya dapatkan selama liputan. Saya merasa bersyukur untuk liputan kali ini dan bersemangat untuk liputan berikutnya!

Maria Oktaviana – SMAN 7 Tangerang Selatan

Magangers Batch X