Memanfaatkan Gawai untuk Fotografi Sehari-hari

0
94
Diskusi memanfaatkan gawai di Festival Foto Kompas (FFK) Rabu (31/07/2018).  Foto: Syahrul Ramdhani

Memasuki zaman serba cepat, gawai menjadi kebutuhan setiap orang. Gawai masa kini tak hanya menjadi alat komunikasi. Berbagai aplikasi dirancang untuk mempermudah kehidupan manusia sehari-hari.

Kamera menjadi fitur yang penting dalam pemilihan gawai. Tak asal, gawai juga bisa dijadikan alat untuk menghasilkan karya fotografi yang tak kalah apik dari kamera professional lainnya.

Karena semua orang memiliki gawai, dan tak sedikit yang mencintai fotografi, memanfaatkan gawai untuk menghasilkan karya fotografi kini diminati.

Festifal Foto Kompas (FFK) 2018 yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta pekan lalu menangkap kebutuhan tersebut. Pada hari kedua, Rabu (1/8/2018), FFK mengadakan diskusi memanfaatkan gawai untuk fotografi. Diskusi tersebut dibuka untuk umum dan diisi oleh pewarta foto Harian Kompas Priyombodo, dan wartawan Harian Kompas Budi Suwarna.

Dalam diskusi tersebut, yang perlu diberi garis merah ialah: kita harus memanfaatkan gawai secara maksimal, bukan dimanfaatkan oleh gawai.

Tak harus membeli gawai mahal untuk menghasilkan foto yang apik. Priyombodo menegaskan, segala sesuatunya sesuai kebutuhan pemakai. “Kita butuh gawai yang seperti apa. Kita punya budget seberapa. Karena seberapapun kecanggihannya tetap ada keterbatasan,” ujarnya.

Pewarta foto Harian Kompas Priyambodo (kanan), Wartawan Kompas Budi Suwarna dan wartawan Kompas Rijal Yunus menjadi moderator (tengah). Foto: Syahrul Ramdhani

Dalam sesi itu, Priyambodo juga menjelaskan ada tiga unsur penting dalam fotografi dengan gawai. Pertama, jenis fotografi ini butuh teknologi dari gawai itu sendiri. Kedua, manusia yang mengoperasikan, atau istilah kerennya “man behind the scene” juga menjadi unsur penentu. Menurut Priyambodo, manusia dan teknologi punya sifat yang saling melengkapi. Kekurangan dari teknologi harusnya bisa diakali oleh manusia. Kekurangan manusia bisa dilengkapi oleh adanya teknologi.

Unsur ketiga, keberuntungan. Biar bagaimanapun, gawai bukan kamera yang fungsinya sama seperti kemampuan kamera DSLR. Ia adalah alat komunikasi yang dilengkapi fitur memotret. Pri menjelaskan, ada jeda sepersekian detik pada kamera handphone yang membuatnya lebih lama saat mengambil gambar. “Salah satu kesusahan pake hp itu, menangkap momen. Karena di hp itu ada jeda sepersekian detik. Jadi lakukan berulang2 kalo memang momennya berulang,” jelasnya.

Meski demian ukuran gawai membuat peralatan tersebut praktis. Dengan gawai, seseorang dapat menangkap momen dengan cepat. Pri bercerita, ia pernah memotret sebuah keadaan lucu saat berada di perempatan jalan. “Waktu itu lagi lampu merah, kalo ambil kamera kelamaan. Pake hp aja. Ringkas. Momennya dapat,” ujarnya.

Tips memotret 

Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sewaktu memotret dengan gawai. Pertama, memanfaatkan cahaya. Dengan cahaya yang bagus, foto dengan gawai juga akan mendapatkan hasil yang bagus. Baginya, para fotografer yang memanfaatkan gawai harus belajar bagaimana memanfaatkan cahaya.

Pri bercerita, bagaimana ia sangat suka memperhatikan arah masuknya cahaya dan titik jatuhnya. “Biasanya cahaya sore paling bagus. Cahaya dari jendela rumah itu biasanya saya suka,” ujarnya.

Hal kedua, menjaga kestabilan. Memotret dengan gawai memang memiliki tantangannya sendiri. Pri menyaraknkan, seseorang yang ingin memotret dengan gawai terlebih dahulu memperhatikan posisi. “Jangan sampe goyang, kalo pake gawai, posisinya harus enak,” katanya.

Berkembangnya berbagai aplikasi baru yang gratis menjadi hal ketiga yang ditekankan Priyambodo. Aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat foto lebih hidup. Menurutnya, pengguna harus pintar memilih aplikasi yang cocok untuk jenis potret yang diinginkan.

Ia juga mengajarkan untuk mendekati objek yang akan difoto secara langsung sebab bagi dia, penggunaan zoom sama dengan cropping. Hasilnya, foto bisa pecah.

Hal terakhir yang ia sarankan ialah melihat komposisi foto. Priyambodo bercerita bagaimana ia juga banyak belajar dari fotografer lainnya. Masalah komposisi, menurutnya hal tersebut dapat dipelajari dari hasil karya orang lain. Dengan ada perkembangan internet, biaya yang dibutuhkan untuk melihat karya fotografi tak lagi semahal waktu ia belajar dulu. Banyak melihat karya fotografi menurutnya akan melatih mata untuk mendapatkan komposisi yang baik.

Diskusi di tengah pameran pada Rabu (01/08/2018) di Bentara Budaya Jakarta.         Foto: Syahrul Ramdhani

Membahas fotografi tampaknya memang mengasyikan bagi peserta yang mengikutinya. Berada ditengah-tengah pameran, diskusi tersebut semakin hangat dengan adanya sesi tanya jawab. Mereka yang memberikan pendapat dan pertanyaannya, Nisa misalnya. Mahasiswa Universitas Indonesia itu penasaran seberapa besar ukuran cetak foto untuk hasil yang diambil dengan gawai.

Dari sesi tersebut, Nisa kini paham ukuran yang tepat untuk mencetak foto hasil potret gawainya. Nisa bercerita, ia beruntung ada diacara tersebut. Untuk keperluan pameran bersama teman-temannya, ia tak lagi ragu mencetak foto hasil jepretan gawainya.

Kegiatan Festifal Foto Kompas (FFK) tersebut berlangsung sampai dengan 2 Agustus 2018 lalu. Membawa tema “Sportscapes”, festival ini menggambarkan bagaimana dunia olahraga di Indonesia lintas generasi. Festival ini juga diadakan dalam rangka mendukung Asian Games yang akan diadakan di Jakarta dan Palembang mulai 18 Agustus.

Ada banyak diskusi dan talkshow yang diadakan secara gratis dalam FFK di Bentara Budaya Jakarta. Tak hanya itu, ada beberapa kategori lomba juga yang dapat diikuti oleh siapa saja.

Asry Prisda Putri Sihombing, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Sedang magang di Kompas Muda.