Belajar Sambil Berlibur di Schladming, Austria

0
116
Pemandangan alam di sekitar Schladming, Austria yang sangat cantik. Fotp: Nadia Farah Luthfiputri

Aku merasa sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk mengikuti program Lions Camp & Exchange di Austria selama sebulan mulai tanggal 30 Juni hingga 28 Juli 2018. Di masa dua minggu pertama aku tinggal bersama keluarga angkat di kota Schladming, Provinsi Styria, Austria.

Sebutan kota sepertinya terlalu berat untuk Schladming. Luas wilayahnya hanya sekitar 10,3 kilometer persegi dengan jumlah populasi ±6.600 jiwa. Sekolah yang ada pun hanya 3 TK, 1 SD, dan 1 sekolah menengah. Meskipun demikian, Schladming ramai dikunjungi para wisatawan terutama saat musim dingin karena terkenal akan area skinya. Lokasi Schladming memang dikelilingi dengan pengunungan.

Karena ini kota kecil, penduduknya seperti saling mengenal satu sama lain. Saat aku bersama keluarga angkatku berjalan di sekitar pusat kota, pasti kami akan bertemu dan menyapa kenalan keluarga angkatku.

Kedatanganku di Schladming seakan disambut oleh seisi kota karena pada hari aku tiba di sana, 30 Juni 2018, Schladming sedang menjadi tuan rumah Servus Europa. Acara ini diadakan untuk merayakan terpilihnya Austria sebagai pemimpin Uni Eropa periode 2018-2019.

Suasana di tengah kota sangat ramai dan meriah karena ada konser musik juga. Aku sangat menikmati waktuku tinggal di Schladming meskipun suasananya berbeda dari Jakarta, tempat tinggalku. Di sana, aku bisa melihat pemandangan alam indah berupa perbukitan, gunung-gunung, hingga padang rumput luas setiap hari. Meskipun sedang musim panas, suhu sehari-hari berkisar dari 15° hingga 20° C sehingga terasa sejuk.

Selain itu, karena tidak banyak kendaraan yang lewat, udaranya masih terasa segar. Suasananya pun tenang. Aku sama sekali tidak melihat kemacetan di sana. Hal lain yang membuatku senang di Schladming adalah keramahan penduduknya. Meskipun tidak saling mengenal, kami akan saling menyapa ‘Grias di’ (halo) disertai senyuman saat berpapasan.

Keluarga angkatku, pasangan suami istri Gerhard Scott, Elke Scott, dan anaknya Aline Scott menjemput aku di bandara. Foto: Arsip Pribadi

Reporter TV

Keluarga angkatku terdiri dari bapak bernama Gerhard Scott, ibu bernama Elke Scott, dan seorang anak perempuan, Aline Scott yang berusia 19 tahun. Mereka adalah pemilik sebuah stasiun TV lokal bernama Ennstal TV. Aku sempat berkunjung ke kantor mereka, yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka. Memang sebetulnya semua lokasi di kota Schladming saling berdekatan.

Pada hari kedua di sana, aku juga diajak mereka ikut untuk meliput suatu festival kebudayaan di pegunungan. Untuk mencapai lokasinya kami harus naik cable car terlebih dulu. Selain menonton, aku pun diberi kesempatan untuk berbicara di depan kamera seperti reporter.

Aku diajak menjadi reporter TV melaporkan suatu acara. Fpto: Arsip Pribadi

Beberapa hari setelahnya, liputan tersebut tayang di TV. Lucunya adalah di hari-hari berikutnya, saat sedang berjalan di luar rumah, ada beberapa orang yang menyapaku dan berkata bahwa mereka mengenaliku dari TV.

Selama tinggal bersama keluarga angkat, aku diajak ke berbagai tempat di sekitar Schladming. Kebanyakan tempat yang aku kunjungi adalah pegunungan, danau, air terjun, dan wisata alam lainnya.

Kunjunganku di sana pun semakin lengkap karena walaupun datang saat musim panas, aku berkesempatan bermain salju. Aku diajak ke puncak Dachstein yang berada di ketinggian 2700 m dengan suhu 0° C. Di atas sana ada gua yang di dalamnya terdapat patung-patung berbentuk bangunan di Eropa yang diukir dari es.

Di hari lainnya kami juga pergi ke suatu gua es yang sangat besar. Masih banyak lagi aktivitas yang kulakukan di sana, seperti hiking, bersepeda keliling kota hingga hutan, memetik jamur di hutan, memerah susu sapi, dan bermain di sungai. Kami juga pergi ke beberapa kota lain, seperti Linz, Liezen, dan Salzburg, serta bertemu beberapa keluarga angkat lain. Saat di rumah biasanya kami mengobrol, menonton film, atau bermain kartu bersama.

Pada beberapa kesempatan aku menjelaskan tentang Indonesia karena mereka penasaran. Aku pun membawa dan memasakkan Indomie untuk keluarga angkatku. Mereka sangat baik dan perhatian. Di tengah kesibukan yang dijalani, mereka tetap meluangkan waktu untuk berinteraksi bersamaku.

Pada tanggal 11 Juli 2018 kami pergi ke Wina untuk mengantarkan Aline, saudara angkatku, ke bandara. Ia akan pergi ke Jepang selama sebulan untuk mengikuti program yang sama denganku. Rasanya sedih saat berpisah karena selama lebih dari seminggu kami selalu menghabiskan waktu bersama.

Pada awalnya aku merasa agak sedikit khawatir akan canggung karena selama 4 hari terakhir hanya akan bersama orang tua angkatku. Namun nyatanya kekhawatiranku tidak terjadi dan semua baik-baik saja. Pada malam terakhirku di Schladming, kami pergi ke tengah kota untuk menonton pertunjukan musik. Kebetulan pada tanggal 11-15 Juli 2018 sedang ada Mid Europe, yaitu festival musik alat musik tiup. Setiap harinya ada banyak pertunjukan.

Namun, pertunjukan pada tanggal 14 Juli 2018 adalah yang terbesar. Aku merasa sangat senang karena pada malam pertama dan terakhirku di Schladming terdapat acara besar di sana.

Nadia Farah Lutfiputri, Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok