5

0
188

Ia mendapatkan sebuah pisang dari seminar yang diikutinya barusan. Tak ingin dimakannya terlebih dahulu, ia pegang pisang itu di tangan kanannya dan ia jadikan semacam revolver untuk menjadi senjata bagi dirinya yang sekarang adalah seorang detektif (jika engkau mau menjadikannya detektif, jika tidak juga tak apa).

Ia keluar dari aula tempat seminar itu berlangsung dan berkeliling di ruangan-ruangan kelas yang ada di kampus untuk memeriksa adakah orang yang dicarinya sebagai saksi mata untuk memperdalam bukti-bukti investigasinya. Belum juga ditemukan sang saksi mata dalam kurun waktu setengah jam, ia malah bertemu teman perempuannya yang bernama Julia.

Julia memberikannya sebungkus beng-beng untuk tanda terima kasihnya karena telah membantunya dalam ujian. Ia menjawab terima kasih juga dan sama-sama sambil mengangguk-anggukkan kepala dan menyembunyikan si pisang ke belakang punggung dengan tangan kanannya. Dan pada akhirnya, pisang dan beng-beng bertemu.

“Kau berasal dari warung yah?” tanya pisang.

“Tidak, aku dari toko swalayan kecil di seberang Jl. Sentosa.”

“Oh. Aku dari toko swalayan besar.”

“Aku tidak bertanya.”

“Mungkin kau butuh penjelasan.”

“Aku tak membutuhkannya.”

“Ya sudah.”

Ia membawa pisang dan beng-beng itu dalam genggaman kanan-kirinya. Dan ia masih melanjutkan pencarian saksi matanya.

“Siapa yang akan mati duluan, aku atau kamu?” tanya pisang dari tangan kanannya. Ia masih menganggapnya revolver.

“Aku tak tahu,” jawab beng-beng yang sekarang menjadi telepon genggam.

Dipencetnya terus sebuah nomor dan yang muncul hanya tulalit yang membuat sakitnya makin berdenyit. Sesekali tersambung juga, namun setiap ia bilang halo jawabnya selalu Halo halo Bandung. Ia pukulkan telepon genggamnya ke kepala, tapi lalu diciumnya

“Kok Halo halo Bandung sih, pak Joko? Jawab dong!” teriaknya dalam ruang kelas yang terang. Seseorang yang lewat di depan kelas melihatnya dengan heran.

“Baiklah, jadi apa yang kau tahu?” tanya pisang lagi kepada beng-beng.

“Mati adalah kenikmatan, dan tak perlu dikhawatirkan.”

“Siapa yang berkehendak untuk mematikan?”

“Tuhan kan?”

“Aku bertanya.”

“Ya, Tuhan.”

Saking kesalnya karena tak ada yang menjawab panggilan daruratnya, ia hadapkan beng-beng itu di depan wajahnya sendiri, lalu berteriak, dan…

“Sepertinya aku yang akan mati duluan,” ucap beng-beng kepada pisang.

Ia taruh pisang ke atas sebuah bangku, lalu memegang beng-beng dengan kedua tangannya, dan merobek bungkusnya. Si pisang melihat hal ini dengan heran.

Kematian adalah pemisahan sebuah jiwa dari tubuhnya.

Ia makan beng-beng itu dengan nikmat. Lelehan coklat dan karamelnya berpadu dalam gulatan lidah. Dikunyah. Ditelan. Diproses. Ia ambil pisang ke genggamannya lagi. Bungkus beng-beng yang sudah tak berisi dibuang olehnya ke tempat sampah di depan kelas.

Dan keadaan saat mati adalah keadaan di mana tubuh terpisah dari jiwanya…

Nanti kulitku juga akan dibuang, pikir pisang. Tapi…memangnya Tuhan makan beng-beng dan pisang?

___

“Pernahkah kau mengira bahwa kita bisa berpisah, Kiri?” kata sebuah sepatu karet berwarna hitam sebelah kanan kepada pasangannya, Kiri.

“Aku tidak pernah memikirkannya, Kanan. Kenapa kau bertanya hal itu?” Tanya Kiri bingung.

“Aku hanya bertanya. Pertanyaan ini muncul beberapa hari lalu dan aku sudah mengira jawabanmu.” Ucap Kanan dengan bingung yang melebihi si Kiri. “Dan pertanyaan ini menguras otakku.”

“Memangnya kita punya otak?”

“Hmm, tidak tahu sih. Aku hanya menyimpulkan perkataanku agar lebih mudah saja. Karena aku tidak tahu lagi harus bilang apa. Kepalaku sakit.”

“Memang kita punya kepala?”

“Ah, sudahlah. Kau membuatku tambah pusing.”

“Baiklah. Janganlah terlalu memanusiakan dirimu, kawan.” Sergah kiri dengan serius.

Mereka adalah sepasang sepatu karet yang sudah hidup kurang lebih lima tahun bersama. Beberapa bulan di penyimpanan pabrik. Setahun lebih di toko sepatu. Dan tujuh hari lagi tepat tiga tahun mereka hidup bersama Mil, si pemilik.

Pertanyaan itu datang ke pikiran si Kanan ketika Mil ditinggalkan oleh kekasihnya. Biasanya Kanan dan Kiri hanya melakukan hal-hal bodoh seperti bercanda atau membicarakan kekasih Mil jika sedang berpacaran. Tapi tiba-tiba saja Kanan mendengar perkataan menyakitkan sang kekasih malam itu. “Kita tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Kita berpisah malam ini, Mil.” Lalu sang kekasih meninggalkannya begitu saja di kafe yang secara langsung hening di sekitar Mil, padahal kala itu gaduh.

Meski ia bukan manusia, ia sadar akan sebuah hal. Hal dasar yang tak pernah terpikirkan olehnya, bahkan oleh makhluk-makhluk sebangsanya. Bisakah aku berpisah dengan Kiri? Ia bertanya-tanya hal itu sambil menatap bingung ke Kiri yang sedang tertawa-tawa setelah candaan mereka barusan. Jika manusia bisa, apakah kita bisa? Kejadian beberapa detik itu membawanya kepada kebingungan terbesar semasa hidupnya.

Kiri sering menanyakan keadaan sahabatnya setelah kejadian itu karena ia melihatnya berbeda, tapi Kanan selalu menjawab bahwa dia baik-baik saja. Lalu muncullah niatnya untuk bertanya sehari sebelum pertanyaan itu keluar. Ia masih ragu dan baru hanya niat. Setelah memberanikan diri, ia tanyakan hal itu kepada Kiri, dan menerima jawaban yang ia sudah tahu.

“Jika pertanyaan ini yang membuatmu kacau beberapa hari ini, maka janganlah peduli, kawan. Biarkan pertanyaan ini memudar lalu hilang.” Ucap Kiri sehari setelah Kanan bertanya. “Ayolah, empat hari lagi adalah tiga tahun kita bersama Mil. Bersenang-senanglah. Seharusnya kau tidak kacau, kawan. Mil sudah kacau dengan kekasihnya. Seharusnya kita menyenangkannya. Seharusnya kita patut bersyukur karena belum diganti atau pun dibuang. Tiga tahun, kawan, tiga ta…”

“Bisakah kau tidak meracau? Aku sedang pusing.” Sergah Kanan yang sedang gundah. Ia masih saja berusaha berpikir agar pertanyaan itu terjawab.

“Hei, kau jadi pemarah.”

“Diam!” nadanya meninggi.

“Baiklah, aku akan diam. Dan kau akan tenang, lalu pertanyaan omongvkosong itu akan hilang. Ok?” Kanan tidak menjawab. Ia hanya bingung, akankah Kanan atau dirinya, berpisah dengan saudaranya, temannya, sahabatnya, pasangannya, si Kiri. Ia sangat bingung. Tak pernah sebingung itu seumur hidupnya. Kiri hanya tak mengerti apa yang ada di pikirannya kala itu. Kiri tak akan mengerti.

Sebuah konflik memang tidak hanya terjadi di luar jasad si Kanan. Bahkan di dalamnya sedang terjadi sebuah gejolak menukik tajam yang tidak pernah terbayangkan olehnya.

Pertanyaan macam apa ini? Kenapa aku mendapatkannya? Sudah hampir lima tahun aku bersama si peracau ini. Mungkinkah? Kemungkinannya hanya ada dua dan mereka juga selalu bersama secara tidak langsung. Ya atau tidak.

___

Akhirnya ia masuk televisi. Semua orang menontonnya dalam keadaan takjub, menganga, dan sekaligus kaget. Para jurnalis dan beragam delegasi dari beragam media di dunia datang untuk meliputnya karena apa yang ia keluarkan begitu menakjubkan. Mereka juga dibuat kaget. Sempat gentar untuk mendatanginya dan mewawancarainya, tapi kewajiban adalah kewajiban. Berita ini harus disebar ke seluruh dunia!

Pada hakikatnya, kotoran, entah dari apapun makhluknya, akan berwujud menjijikkan dan tak sedap baunya. Tak perlu sombong-sombong karena jabatan, tingkat kecerdasan, jumlah uang, jumlah istri, jumlah anak, negara-negara yang pernah dikunjungi, ketepatan lulus kuliah, orangtua yang hebat, punya pesawat, ketenaran yang tiada tara, pengikut di instragram yang bermilyar-milyar, usaha yang bercabang-cabang, tapi jika kotoran yang keluar dari anus masih bau dan menjijikkan maka makhluk tetaplah makhluk.

Manusia tetap manusia, dan sekali lagi, tak perlu sombong. Pada akhirnya semua manusia dan makhluk sama, sama seperti ketika kotoran masih bau dan juga menjijikkan. Jadi tak perlu adanya kelas, selama kotoran masih bau dan menjijikkan.

Satu hari dua belas jam tiga menit sebelum hal ini terjadi, tak pernah terlintas dalam pikirnya bahwa hal ini akan terjadi. Hal yang mengubah statusnya, individunya. Saat itu, setelah makan sambal terasi super pedas, sayur asam, dan ikan asin buatan ibu, perutnya terasa sakit. Kamu sih makan sambalnya kebanyakan, keluh sang ibu. Dan ia tak berhak untuk membantah karena benar adanya.

Setelah banyak minum air putih hangat, tetap saja perutnya melilit, tapi belum ada rasa mulas. Hal ini terjadi sampai malam. Ketika tidurnya dibuat gelisah oleh sang lilitan, ia bangun dengan keringat dingin. Tubuhnya terasa gerah, padahal di luar dingin. Ia mengerang karena sakit yang tak tertahankan. Ibu bapaknya terbangun dan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya.

“Sakit, bu.”

“Iya, Nak.” Jawab ibu dengan getir.

“Sakitnya di mana, Nak?” tanya sang ayah khawatir.

“Di sini, pak.” Ia menunjuk hatinya, padahal yang sakit adalah perutnya.

“Hati kamu sakit?”

“Hati semua orang sakit.” Ucapannya mengejutkan kedua orangtuanya yang berusaha paham, tapi gagal. DUT! Tiba-tiba ia kentut.

“Ah, lega.” Tanpa ragu, ia langsung bangun dari ranjangnya dan keluar dari kamar untuk menuju kamar mandi. Gas yang ia keluarkan dan tinggalkan dalam kamar membuat hidung bapak ibunya terheran-heran.

“Kok wangi banget, pak?” tanya sang ibu.

“Iya, bu, kentutnya wangi. Lebih wangi dari wewangian kyai dan bidadari. Saya belum pernah mencium sesuatu seharum ini.” Mereka dibuat menikmati aroma itu dan sekaligus bingung yang tak pernah mereka dapat. Aroma itu tak kunjung membuat mereka bangkit dan keluar dari kamar sang anak.

BROT! Keluar semua kotoran dari dalam dirinya ke lubang WC. Ia tak langsung menyiramnya, tapi terheran-heran juga dengan wangi yang menyambut hidungnya. Wangi itu bukan datang dari mana-mana, selain dari kotoran yang saat itu ia lihat bukan dalam bentuk menjijikkan. Ia menikmati bau itu, dan juga terheran-heran.

Tak mau kotoran itu tersiram dan hilang, ia cebok bukan di atas WC. Setelah selesai memakai celananya dan mencuci tangan, ia keluar dari kamar mandi.

“Ibu! Bapak! kotoranku wangi!”

___

Para delegasi dari Kementerian Sihir, Ilmuwan Robot, Pimpinan Buruh, Komplotan Presiden, Gengster Ganja, Perkumpulan Alien, Asosiasi Manusia Super, Persatuan Kedaulatan Hewan dan Tumbuhan, Himpunan Barang Mati, dan Organisasi Makhluk-Makhluk Fiksi berkumpul dalam sebuah aula besar. Acara ini dengan sengaja diselenggarakan oleh Si Tak Punya Nama untuk mendiskusikan serta menyepakati keputusan terpenting perihal tempat tinggal mereka ini.

Namanya Imub, makhluk tanpa badan berwajah dua. Semua bagian dalam tubuhnya terangkum secara kompleks di dalam inti kepalanya. Dua wajah yang dimilikinya yaitu wajah lelaki dan wajah perempuan, atau bisa jadi wajah perempuan dan wajah lelaki (terserah kalian menyebutnya karena memang membingungkan yang mana lelaki dan yang mana perempuan). Imub adalah tempat mereka tinggal, sebuah wadah yang sedang dalam pintu kehancuran.

“Hal ini disebabkan oleh Irahatam yang mendingin dan Nalub yang mulai keluar dari jalur edarnya! Sudah tak bisa lagi dipungkiri bahwa Imub akan hancur dalam waktu dekat. Perkiraan waktunya sekitar dua tahun empat bulan tujuh belas hari tiga jam dua puluh dua menit tujuh detik lagi kesempatan kita untuk tinggal, atau meninggalkan Imub untuk mencari wadah lain untuk tinggal!” tegas delegasi dari Ilmuwan Robot. Irahatam dan Nalub adalah yang akan membedakan apakah Imub perempuan datau lelaki, dan ini sangat penting untuk keseimbangan Imub untuk mereka yang tinggal di dalamnya.

“Tapi kami tidak mau meninggalkan lautan ganja yang telah kami rawat selama milyaran tahun!” balas delegasi Gengster Ganja dengan amarah yang meletup-letup. Ganja di Imub adalah bahan pangan pokok yang dibudidayakan di lautan bekerjasama dengan Persatuan Kedaulatan Hewan dan Tumbuhan. “Bagaimana respon anda tuan delegasi Persatuan Kedaulatan Hewan dan Tumbuhan?” tanya sang delegasi Gengster Ganja kepadanya yang sedang menghitung kalkulasi perusahaan mereka dengan kalkulator.

“Menurut kami, sesuai dengan hitungan tematis dan perencanaan berkelanjutan, kami mendukung keras apa yang dibicarakan oleh delegasi Ilmuwan Robot dan Gengster Ganja. Maksudnya adalah akan ada usaha dari kami untuk menata ulang lautan ganja supaya bahan pangan pokok kita ini tidak dihilangkan dari tradisi tanpa merusak struktur Imub.” Kedua delegasi yang disebutkan mulai berpikir rasional, dan sepertinya memang ada kecerahan dari pendapat delegasi Persatuan Kedaulatan Hewan dan Tumbuhan.

“Untuk pembayaran bagi para pekerja lautan ganja, apakah masih akan sama dengan bayaran pekerja di Komplotan Presiden?” tanya delegasi Pimpinan Buruh kepada delegasi Persatuan Kedaulatan Hewan dan Tumbuhan. Ia bertanya seperti itu, karena para pekerja lautan ganja dan presiden diupah rata.

“Kemungkinannya mari kita prediksi dari novel, cerita pendek, naskah drama, dan puisi yang kami tempati sebagai rumah cemerlang. Karena adakalanya fakta yang membuktikan sesuatu hal benar menjadi kebohongan terbesar, jadi mari kita adakan saja dulu penelitian selama setahun terhadap karya-karya fiksi yang ada. Kami dari Organisasi Makhluk-Makhluk Fiksi akan mendukung penelitian itu sepenuhnya dengan fasilitas laboratorium dan kehidupan yang sangat memadai.” Semua delegasi mengangguk-angguk pernyataan itu.

“Untuk seluruh fasilitas, termasuk upah yang berbentuk uang, makanan yang entah ganja ataupun lainnya, buku-buku, alat-alat penelitian, unsur-unsur kehidupan (air, api, angin, udara, tanah), dan segalanya yang berkaitan dengan benda mati termasuk para mayat akan kami sediakan semaksimal mungkin. Segala macam produksi dan konsumsi akan diatur sedemikian rupa agar rakyat sejahtera dan Imub bisa terselamatkan.” Delegasi Himpunan Barang Mati menambahkan saran yang begitu mendukung.

Kesepakatan akhirnya diambil. Imub akan dipertahankan dan mereka akan mencoba untuk meneliti ulang permasalahannya. Seluruh hadirin dan delegasi bertepuk tangan dengan gemuruh sambil tersenyum indah. Mereka saling bersalaman dan berpelukan karena telah menemukan solusi paling hebat dalam sejarah dunia.

“Abrakadabra!” teriak delegasi dari Kementrian Sihir dengan sangat lantang dan memekik. Lalu semuanya hilang.

___

Kalian kira saya akan bersikap adil secara sosial jika saya selesaikan dan gabungkan secara runut cerita ini? Begitu? Tidak! Tidak perlu ada kesinambungan di antara mereka. Biarkan setiap individu menciptakan keadilan sosial dengan sendirinya. Biarkan setiap tokoh di dalam cerita ini hidup dalam benak kalian.

Tahukah kalian mengapa? Karena aku hanyalah penulis yang ditulis oleh sang penulis yang menulis tulisan ini yang ditulis juga oleh penulis yang menulis penulis tersebut yang ditulis juga oleh penulis yang menulis ceritanya dan seterusnya sampai kembali lagi ke diri anda yang menulis dan membaca. Sekarang, hari Minggu tanggal 90 bulan Naga tahun 0001, selamat tinggal.

Ia berdiri dari hadapan mesin ketiknya dan melambaikan lima tangannya untuk sayonara.