Unjuk Karya Lewat Kompetisi Komik

0
282
Pemenang kompetisi Datascrip Creative Comic Competition. Kompas/Ida Setyorini (TIA) 25-01-2018

Keberagaman Indonesia merupakan sumber inspirasi yang tak bakal habis. Apa saja dapat menjadi ide, mulai dari kekayaan budaya, kenangan masa sekolah, kehidupan sehari-hari, sampai hal-hal kecil di sekitar kita.

Ide seputar Aku Cinta Indonesia menjelma menjadi beragam komik menarik karya para peserta lomba Datascrip Creative Comic Competition untuk kategori SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Pengumuman para pemenang berlangsung di Jakarta, Kamis (25/1).

“Komik saya berjudul Pelosok Merah Putih. Ceritanya tentang anak-anak yang berangkat ke sekolah dan harus melalui jalan yang tak mudah seperti menyeberang sungai. Komik ini termasuk silent manga yakni komik tanpa kata-kata,” kata Ardy Setyawan (21), mahasiswa semester VIII, program studi Desain Komunikasi Visual, jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.

Ardy adalah pemenang pertama kompetisi komik tersebut. Dia mengerjakannya di selama hampir tiga minggu antara menyelesaikan tugas-tugas ujian akhir semester. Ardy yang lulusan SMK Negeri 12 Surabaya ini beberapa kali membuat komik bisu.
“Pernah ikut kompetisi tetapi tidak menjadi pemenang. Saya juga mengirim komik ke webtoon. Paling sering memuatnya di instagram. Di luar komik, saya pernah membuat mural untuk restoran di Madiun,” tutur Ardy.

Sementara pemenang kedua Muhammad Alhaq (21), mahasiswa departemen Desain Produk Industri, Fakultas Arsitektur Desain, dan Perencanaan, Institut Teknologi Surabaya menampilkan kenangan upacara bendera tiap Senin pagi.

“Kisahnya tentang anak bisa yang senang dengan paduan suara. Bagi sebagian orang upacara bendera salah satu hal yang ditunggu karena ingin mendengar paduan suara. Tentu saja sebagian orang sebal dengan kewajiban mengikuti upacara bendera,” ujar Alhaq yang baru pertama kali mengikuti lomba dengan komik berjudul Suara Laras.

Rekan sekelasnya, Abdul Manan Heru (20) mengangkat kisah seorang veteran penjual perahu mainan. “Komik saya berjudul KRI Otok-otok,” ujar Heru.

Lain halnya dengan para pemenang kompetisi tingkat SMA. Juara pertama duo Priscilla Sevia dan Chelsea Victoria Martan, siswa kelas 12 jurusan Multimedia 1 SMK Atisa Dipamkara, Tangerang, Banten.

Begitu mengetahui ada lomba komik, Priscilla menginginkan hadiah Wacom Intuos Art Medium. Namun, dia tak terlalu pandai menggambar. Dia pun buru-buru mencari Chelsea yang di sekolahnya terkenal pandai menggambar. Komik mereka berjudul TARI, singkatan dari Tumbuhkan Api cinta Indonesia.

“Saya membuat cerita, Chelsea menggambar. Kami prihatin akan banyaknya anak muda yang tak peduli dengan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Maka itu kami mengangkat tentang tarian. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” ujar Priscilla.

Selain itu, ekstra kurikuler tari di sekolah mereka beberapa kali tampil sebagai juara. “Padahal, di sekolah kami tidak ada jurusan tari. Keren kan,” ujar Priscilla.
Hampir sama pengalaman Nadim Sulthan, siswa SMAN 5 Batam, si pemenang kedua kategori SMA. Dia mendapat dorongan dari sang kakak Amor Disha Putri yang beberapa kali naik gunung di Jawa Tengah.

“Kakak saya meminta saya ikut lomba dan kisahnya tentang pengalaman anak yang naik gunung,” ujar Nadim tentang komiknya yang bertitel Perjalanan tersebut.
Seni juga menjadi inspirasi bagi Elsa Nurlatifa Putri Purwadi, siswa SMAN 1, Solok Selatan, Sumatera Barat. “Komik saya Dawai Merah tentang alat musik,” imbuh Elsa si pemenang ketiga.

Mereka semua membuktikan segala hal dari dan tentang Indonesia adalah sumber inspirasi tanpa batas. Hal sederhana dan biasa menjadi cerita indah, mengharukan, promosi, sekaligus kegembiraan.

Ida Setyorini/Kompas